cr: pexels.com/@content-pixie-1405717

Dari jejaring di LinkedIn, saya mendarat ke situs sebuah agensi penerjemahan yang membuka beberapa posisi yang bisa dikerjakan secara lepas. Ada satu posisi yang cukup menarik untuk saya di bidang penerjemahan sulih teks. Saya pun mencoba membuat CV baru dan mengirimkannya via surel. Lebih baik mencoba daripada cuma diliatin aja, ya kan? Tak menyangka berselang dua hari kemudian, saya mendapat balasan.

Dalam balasan itu dijelaskan bahwa ada sebuah posisi lebih spesifik yang sepertinya cocok dengan kualifikasi saya. Dijelaskan dengan cukup detail dan padat, ada beberapa persyaratan dan langkah-langkah yang harus dilalui untuk bisa mendapatkan posisi itu. Tadinya sudah bungah dan langsung semangat untuk bisa mengikuti intruksi yang ada. Namun, ada satu poin yang kemudian belum memuluskan jalan saya menggapai posisi itu.

Ada satu syarat bahwa linguis yang dicari bukanlah linguis yang sudah bekerja dengan klien mereka. Sedangkan setahun belakangan ini pekerjaan yang saya lakukan berkaitan dengan klien yang mereka maksud tersebut, hanya saja melalui agensi penerjemahan yang berbeda. Segera saja saya balas untuk mengklarifikasinya. Dalam hitungan menit, langsung mendapat balasan dan sampai pada kesimpulan bahwa saya tidak bisa mengikuti prosedur selanjutnya karena ada semacam aturan untuk “tidak boleh mendua”, hehe.

Surel saya balas dengan ucapan terima kasih karena sudah menawarkan posisi tersebut. Jarang-jarang kan ada calon klien yang bisa memberi respons cepat dan memberi penjelasan yang detail dari awal. Saya sendiri sudah sangat bersyukur bisa mendapat balasan dan respons cepat dari lamaran yang saya kirimkan.

Karena surel itu saya terima pada Jumat sore, sekalian saja saya sisipkan, “Hope you have a great weekend,” sambil berdoa dalam hati semoga bisa “berjodoh” dengan agensi ini suatu hari nanti di proyek yang mungkin berbeda.

Sekarang belum “berjodoh”, tapi masa depan siapa yang tahu, kan?

Melamar ke agensi penerjemahan caranya bisa berbeda-beda. Umumnya memang via surel, lalu prosesnya akan ada tes, memahami NDA, menandatangani dokumen secara digital, dan sebagainya. Tiap agensi bisa punya caranya masing-masing untuk menerima dan merekrut linguis baru. Bahkan, ada agensi yang secara langsung mengirim pesan ke calon linguis potensial dan menginformasikan ada posisi pekerjaan baru, seperti yang saya alami setahunan yang lalu.

Zaman sekarang, bekerja nggak harus selalu ngantor pada jam tertentu. Ada banyak profesi yang bisa digeluti dengan bekerja cukup dari rumah. Bekerja dengan atasan yang berbeda benua dengan rekan-rekan kerja yang tersebar di berbagai negara. Mengandalkan internet dan koneksi internet yang stabil. Serta tentu saja harus memiliki kemampuan atau keahlian yang baik. Bagi yang masih ngantor atau punya pekerjaan utama, tetap bisa mencari pekerjaan sambilan dengan jam kerja yang lebih fleksibel dengan menjadi penerjemah lepas.

Tujuan saya mencoba melamar ke sebuah agensi penerjemahan baru, meski kali ini belum rezeki, tak lain adalah untuk menguji diri sendiri. Mencoba sesuatu yang baru. Yang penting dicoba dulu. Yang penting usaha dulu. Kalau memang masih belum terbuka pintunya, ya sudah nanti coba ketuk pintu yang lain nanti.

Secara garis besar untuk melamar ke sebuah agensi penerjemahan, kita perlu mengirimkan CV yang rapi dan padat, memperkenalkan diri secara singkat melalui beberapa kalimat di badan surel, dan pastinya perlu menggunakan bahasa yang santun. Subjek surel juga harus diperhatikan, harus sesuai dengan ketentuan yang diminta. Kalau ke agensi penerjemahan luar negeri, jelas kudu pakai bahasa Inggris. Saya pun masih perlu banyak belajar lagi untuk menambah pengalaman bekerja di dunia penerjemahan. Masih mau menambah lebih banyak jam terbang, jadi sambil dijalani sambil dipelajari lagi lebih dalam.

Risiko melamar, ada kemungkinan berhasil atau belum berhasil. Setidaknya sudah berani melamar duluan, daripada hanya dipendam dalam perasaan lalu galau berkepanjangan, eh?