Sudah punya paspor sejak tahun 2013 lalu bikin paspor baru tahun 2018 lalu, belum sekali pun ke luar negeri. Ingin bisa jalan-jalan ke luar negeri tapi terbentur banyak hal, mulai dari masalah tabungan, nggak ada teman, sampai susah cari waktu libur. Sampai kemudian saya pun memutuskan ikut open trip akhir Maret 2019 lalu. Ke mana? Yang dekat-dekat saja dulu. Ke Singapura.

Saya berangkat dari Surabaya. Berangkat hari Senin siang, pulang hari Rabu siang. Cukup singkat dan juga rempong karena ikut open trip sehingga jadi kurang bebas menghabiskan waktu saat jalan-jalan. Jadi, ke mana saja selama di Singapura?

Akhir Maret lalu untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke Singapura. Setelah cukup lama punya paspor, ya baru kali itu saya ke luar negeri. Tadinya ingin berangkat liburan ke Singapura dengan teman tapi karena sulit mencari waktu libur dan cuti yang pas, akhirnya saya ikut open trip. Berangkat sendiri belum berani, tapi ingin bisa segera merasakan liburan ke sana, salah satu solusi yang saya ambil akhirnya ikut open trip meski ada pengalaman yang kurang menyenangkan selama mengikutinya.

Meeting point di Bandara Juanda, Surabaya. Saya berangkat dari Malang sekitar pukul 04.30 menuju bandara. Tiba di bandara, saya langsung bertemu dengan peserta dan guide yang sebelumnya memang sudah berkomunikasi via grup What’s App. Saat itu saya hanya membawa satu ransel saja. Toh, cuma perjalanan tiga hari dua malam jadi tak perlu bawa banyak barang. Eh, nggak tahunya saat itu cuma saya satu-satunya peserta yang beransel. Sedangkan yang lainnya membawa koper dengan dandanan yang ‘turis banget’, hehe.

Setelah dua jam perjalanan udara dari Juanda, sampailah di Bandara Changi. Disambut bandara yang tampak megah sudah bikin kagum sendiri. Ingin rasanya bisa jalan-jalan atau menjelajah area bandara itu. Tapi karena saya ikut open trip jadinya harus menyesuaikan dengan peserta yang lainnya. Apalagi para peserta dari Jakarta datang terlambat karena pesawatnya delayed, jadi harus menunggu yang lain juga. Duh, saya paling kesal kalau disuruh nunggu lama.

Tiba di Changi.

Sebelum ke penginapan, sempat mampir ke tempat makan. Saya langsung pesan menu nasi lemak yang porsinya agak besar karena sungguh lapar. Sampai di penginapan langsung dibagi kamarnya. Setelah membongkar barang-barang dan mandi, jalan-jalan pun dimulai.

Lokasi penginapannya memang cukup strategis karena dekat dengan stasiun MRT. Jadi, selama tiga hari dua malam ini jalan-jalan keliling Singapura hanya mengandalkan MRT. Saya pun berpikir sebenarnya tidaklah sulit untuk keluyuran sendirian liburan di Singapura. Dengan transportasi umum yang nyaman dan tepat waktu, nggak bakal terlalu rempong kalau mau jalan-jalan sendiri di sini. Semoga suatu hari nanti ada rezeki bisa balik ke Singapura dan liburan dengan pengalaman yang lebih menyenangkan serta memuaskan.

Bugis Street

Belanja oleh-oleh di Bugis Street.

Destinasi pertama adalah Bugis Street. Saya pribadi tak ada niat untuk belanja selama liburan kali ini. Jadi selama di Bugis Street, saya hanya membeli sedikit oleh-oleh saja lalu selebihnya saya gunakan waktu untuk menelusurinya. Aneka pernak-pernik, aksesoris, kaos, dan ragam cokelat bisa ditemuka di Bugis Street. Berjalan dari ujung ke ujung sendirian pun saya lakoni, meninggalkan teman lain yang terlalu sibuk belanja.

Marina Bay Sands

Pemandangannya cantik kalau malam.

Belum lengkap rasanya ke Singapura kalau nggak nonton pertunjukan laser dan air mancur di Marina Bay Sands. Tidak dipungut biaya untuk menonton pertunjukan ini. Waktu pertunjukan pada hari Minggu hingga Kamis: pukul 20.00 dan pukul 21.00, sedangkan hari Jumat dan Sabtu: pukul 20.00, 21.00, dan 22.00. Saat itu saya tiba hari Senin dan menonton pertunjukan yang dimulai pada pukul 21.00. Cukup menghibur karena mata dimanjakan oleh lampu laser aneka warna dan musik yang menggugah. Lenggak-lenggok air mancur juga cukup unik.

Pertunjukan air mancur.

Merlion Park

Patungnya dikurung, huhu.

Penginapan menyediakan sarapan ringan, seperti teh, kopi, roti, dan selai. Setelah sarapan di penginapan, hari kedua dimulai dengan perjalanan menunju Merlion Park. Sayangnya, saat itu patung singa di Merlion Park sedang direstorasi. Keinginan untuk bisa foto ala-ala turis dengan latar patung yang sangat ikonik itu pun pupus sudah.

Sentosa Island

Papa Merlion.

Kalau suatu hari nanti punya kesempatan lagi ke Sentosa Island, ingin menjelajahi area pantainya. Ingin naik cable car juga, hehe. Waktu itu ke Sentosa Island hanya menjelajahi area di sekitar Universal Studio. Cuma berfoto di depan bola Universal Studio, nggak masuk ke studionya karena saya sendiri juga kurang suka dengan taman hiburan. Mau masuk sendiri juga nggak bakal seru, belum lagi dengan waktu yang terbatas jadi ya sudah keliling-keliling saja.

Nggak bisa berfoto sama Patung Merlion di Merlion Park, ada Papa Merlion di sini. Ukurannya lebih tinggi menjulang. Bahkan kita bisa juga masuk ke badannya dan melihat pemandangan dari mulut patung. Tapi saya tidak mengecek harga tiketnya berapa. Saya lebih melilih jalan-jalan di sekitarnya saja.

Cuma berkeliling.

Ada Madame Tussauds, S.E.A. Aquarium, dan Museum Sulap Mata juga yang bisa dikunjungi. Saya tidak memasuki semuanya karena pertimbangan keterbatasan waktu. Namanya ikut open trip dengan banyak peserta, kebebasan pun terbatas. Daripada memasuki semuanya tapi serba terburu-buru, mending jalan-jalan santai saja.

Gardens by the Bay

Cloud Forest.

Tiket masuk Gardens by the Bay bisa digunakan untuk ke Flower Garden dan Cloud Forest. Sebenarnya saya ingin bisa dapat pemandangan dari ketinggian Supertree Grove. Tapi tur yang saya ikuti waktu itu tidak menawarkan atau menginformasikan bahwa untuk bisa ke Supertree Grove, tiketnya berbeda lagi. Tahu gitu saya beli sendiri tiket ke Supertree Grove dan nggak usah ke Flower Garden atau Cloud Forest. Namanya sudah telanjur, ya sudah dinikmati saja.

Siapa tahu suatu hari nanti bisa lihat bunga sakura langsung di Jepang.
Sakura Matsuri.

Waktu itu bertepatan dengan Festival Sakura Matsuri di Flower Garden. Belum bisa melihat langsung bunga sakura di Jepang, alhamdulillah berkesempatan bisa melihatnya di Flower Garden. Seru juga bisa mencicipi sedikit suasana ala Jepang di antara pohon-pohon sakura. Di Cloud Forest ada air terjun indoor yang kabarnya tertinggi di dunia. Elevator disediakan untuk naik turun di spot-spot Cloud Forest. Cloud Forest merupakan tempat pembibitan aneka tanaman bunga dan tanaman lain yang berasal dari daerah tropis. Sebenarnya saya ingin bisa berlama-lama di sini tapi lagi-lagi karena keterbatasan waktu akhirnya hanya menikmati sepintas-sepintas saja.

Air terjun indoor.

Orchard Road

Orchard Road.

Malam harinya mampir ke Orchard Road. Orchard Road adalah sebuah jalan di Singapura yang merupakan pusat retail dan hiburan. Mau belanja barang-barang bermerek ada di sini. Mau cari oleh-oleh gantungan kunci, tas, kaos, dan pernak-pernik murah juga ada. Gantungan kunci yang dijual pun desainnya, menurut saya, lebih bagus daripada yang dijual di Bugis Street, hehe ini mungkin masalah selera saja, ya.

Sebenarnya saya ingin sekali ke Library@Orchard. Sangat penasaran dengan perpustakaan yang foto-fotonya tersebar di jagat Instagram itu dengan rak-rak putihnya yang tinggi menjulang. Waktu itu ke Orchard Road sudah sekitar pukul 9 malam bareng dengan peserta lainnya. Kaki pun rasanya sudah gempor. Nggak bisa bebas menjelajah dan mengeksplorai sesuai keinginan hati dan jiwa. Banyak waktu yang sebenarnya malah terbuang hanya untuk menunggu dan marah-marah (waktu peserta lainnya ada yang datang telat atau malah terjadi miskomunikasi).

Haji Lane

Haji Lane.

Hari ketiga, siang harinya sudah harus ke bandara untuk balik ke Surabaya. Pagi hari setelah mengemas barang-barang dan check out, ada waktu untuk menyempatkan diri ke Haji Lane. Saya memang hanya bawa satu ransel tapi kalau jalan-jalannya sambil membawa ransel terus ya capek juga. Tapi mau bagaimana lagi, karena harus segera langsung ke bandara untuk pulang jadi semua barang harus dibawa serta.

Masih pukul 09.00, lokasi Haji Lane masih sepi. Toko-toko pun tutup. Karena nggak merasa tempatnya cukup spesial, saya hanya foto-foto sebentar saja. Lalu memutuskan untuk segera kembali ke meeting point di Bugis Street untuk ke bandara.

Warna-warni di Haji Lane.

Kejadian yang makin tak mengenakkan pun terjadi. Saya sudah sampai di meeting point lebih awal. Saya pun menghubungi guide untuk memberi kabar bahwa saya sudah tiba di meeting point duluan, tapi lha kok guide-nya tidak punya paket data internet. Hampir satu jam saya menunggu sementara batas waktu untuk segera boarding makin mepet. Tahu-tahunya guide menelepon dan bilang kalau sudah sampai di Changi. Lho? Saya ditinggal? Akhirnya saya pun naik MRT sendirian menuju Changi. Alhamdullillah tidak sampai terlambat dan akhirnya bisa pulang dengan selamat.

Semoga ada kesempatan dan rezeki lagi untuk bisa ke Singapura. Ingin traveling yang lebih bebas dan sesuai kehendak hati. Ingin menjelajahi berbagai tempat menarik yang sesuai dengan keinginan. Untuk pengalaman pertama ke Singapura, disyukuri semua khususnya masih bisa kembali ke tanah air lalu kerja lagi buat nabung untuk liburan lagi, hehe.