Menikmati kesendirian adalah kebutuhan, benar?

Dua minggu sebelum berangkat ke Kuala Lumpur, saya sempat terpikir untuk membatalkan perjalanan tersebut. Tiket pesawat PP memang sudah dibeli sejak bulan Juni, tapi semakin dekat dengan hari keberangkatan saya makin cemas. Kayaknya nggak berani deh berangkat sendirian. Mending dibatalin aja kali ya, toh harga tiketnya juga nggak terlalu mahal karena waktu itu ada promo. Buat apa repot-repot ke Kuala Lumpur dan sendirian pula? Apalagi saya ini tipe orang yang gampang nyasar. Membaca peta di Google Maps pun sering bingung sendiri, hehe.

Nggak seru liburan jauh-jauh tapi sendirian. Nggak ada yang bisa diandalkan untuk dimintai tolong memotret. Bakal susah dapat foto diri yang bagus selain selfie. Saya sempat berpikir bakal nggak menyenangkan sendirian aja selama di Kuala Lumpur. Namun, ternyata sendirian aja itu menyenangkan dan menenangkan.

Sebenarnya saya sudah (lama) terbiasa sendiri. Jalan-jalan sendiri, nonton film di bioskop sendiri, belanja sendiri, dan ngabisin uang sendiri. Beli kebutuhan sendiri, keluyuran sendiri, dan nyasar sendiri kalau berada di tempat baru. Hanya saja untuk makan di kafe atau restoran sendiri masih terasa cukup canggung bagi saya.

“If you wanted to do something absolutely honest, something true, it always turned out to be a thing that had to be done alone.”

 Richard Yates, Revolutionary Road

Awal tahun ini sebenarnya sudah sempat merencanakan akan liburan dengan seorang teman kuliah. Bahkan dia sudah membuat itinerary yang cukup lengkap. Hanya saja dia ingin melakukan perjalanan yang langsung seminggu sekaligus pada hari libur sekolah. Dia seorang guru, jadi liburannya mengikuti liburan sekolah. Sedangkan saya belum bisa jika langsung bablas ambil cuti seminggu penuh. Pada akhirnya, rencana itu hanya jadi wacana.

Sempat saya mengikuti open trip ke Singapura karena belum berani berangkat sendiri. Hasilnya kurang memuaskan karena berlibur dengan orang-orang asing yang terus membuat saya menunggu sangatlah tidak menyenangkan. Akhirnya, ya sudah saya memantapkan rencana untuk ke KL sendirian bulan November ini meski sempat dihantui rasa ragu.

Apa nggak takut sendirian? Apa nggak takut tidur di kamar hotel sendirian? Oooh… tentu saja takut! Bahkan sehari sebelum berangkat, saya sudah susah tidur, hehe. Saking cemasnya, selera makan pun sempat menurun dan khawatir jatuh sakit.

Tolak angin hingga obat maag yang wajib dibawa.

Rasanya semakin bertambah usia, semakin takut mencoba hal baru. Atau mungkin ini hanya perasaan saya sendiri, ya? Mungkin karena terbiasa dengan sebuah rutinitas, jadinya kadang melakukan sesuatu yang agak beda membuat diri sendiri cemas. Yang paling saya cemaskan adalah kondisi kesehatan. Takut kalau tiba-tiba sakit dan nggak ada yang bisa bantu nyariin obat selama liburan. Dari rumah pun saya membekali diri dengan Tolak Angin, koyo, obat maag, plester luka, dan permen jahe yang wajib ada untuk teman perjalanan jauh. Supaya pas balik dari liburan nggak sakit (karena sudah harus kembali ngantor), maka sebisa mungkin melakukan pencegahan.

Untuk lebih mengenal diri sendiri, melakukan solo traveling sangatlah membantu. Selama ini cukup sering menulis manfaat solo traveling. Saya sendiri selama kuliah pernah bolos kuliah dan keluyuran ke luar kota, ikut forum, work camp, atau sekadar mampir ke tempat kost temen. Bepergian sendiri bukan hal baru, tapi kalau ke luar negeri sendiri baru pertama kali ke KL ini.

“Sometimes life is too hard to be alone, and sometimes life is too good to be alone.”

Elizabeth Gilbert, Committed: A Skeptic Makes Peace with Marriage

Bagi sebagian orang, tidaklah menyenangkan melakukan sesuatu sendirian. Entah itu makan di kafe atau liburan sendirian. Namun, bagi sebagian orang lain, menghabiskan waktu seorang diri menjadi semacam self healing. Kadang kita perlu dengan sengaja memberi ruang bagi diri sendiri agar bisa mengurai segala-keruwetan-yang-entah-apa dengan lebih leluasa. Menyepi atau menikmati keramaian dalam kesendirian menjadi hal yang sebenarnya menenangkan.

Saya sebenarnya masih kurang nyaman makan sendirian di kafe atau restoran. Hanya saja saat melakukan perjalanan sendirian, maka situasi itu tak bisa dihindari. Selama di KL, saya hanya mampir makan di restoran cepat saji. Tidak berani mencoba makanan yang terlalu bersantan, pedas, dan berbumbu asing karena khawatir kondisi perut yang akan bermasalah nantinya. Punya perut sensitif memang bikin hati nggak tenang. Kesehatan tetap jadi prioritas utama, meski memang harus mengorbankan keinginan untuk mencicipi makanan baru. Tapi saya sendiri memang pada dasarnya kurang suka wisata kuliner, jadi ya tak masalah makan apa saja selama halal, enak, dan bikin kenyang.

Makan dan bengong di KFC.
Makan dan bengong di Texas Chicken sambil melihat lalu lala orang dari balik jendela.
Makan di McD Bukit Bintang dan bengong sampai petang sampai hujan reda.
Ngeskrim setelah berpanas-panasan.

Yang sendirian aja bukan cuma saya sendiri. Banyak orang yang juga menikmati waktu dan makanannya dengan sendirian aja. Mungkin memang ada yang sengaja menyendiri atau ada yang karena keadaan akhirnya melakukan sesuatu sendiri. Nggak perlu ada yang harus dikasihani apalagi dihakimi.

“If you learn to really sit with loneliness and embrace it for the gift that it is… an opportunity to get to know YOU, to learn how strong you really are, to depend on no one but YOU for your happiness… you will realize that a little loneliness goes a LONG way in creating a richer, deeper, more vibrant and colorful YOU.”

 Mandy Hale, The Single Woman: Life, Love, and a Dash of Sass

Saya teringat dengan pesan What’s App dari seorang teman SMA. Kami sudah lama sekali tidak bertemu tapi sekalinya dia mengirim pesan What’s App langsung menanyakan status menikah, ha! Lalu, dia pun berkata yang kurang lebih isinya, “Mumpung masih single, puas-puasin jalan-jalan. Soalnya kalau sudah menikah akan susah.” Hm, baiklah. Eh, tapi kalau ternyata dapat suami yang juga doyan jalan-jalan, bisa lebih puas dong jalan-jalannya, hehe. Tapi saya cuma senyumin aja ucapannya waktu itu.

Jalan kaki merupakan salah satu aktivitas yang paling saya suka lakukan sendirian. Nggak perlu menyesuaikan diri dengan kecepatan jalan orang lain. Bebas berlama-lama atau sengaja cepat-cepat sesuai keinginan. Bebas menjelajah berbagai hal tanpa harus terpaksa atau dipaksa menghentikan langkah. Kalau capek pun, bisa bebas memilih waktu untuk istirahat. Biasanya jika sedang stres dan butuh upaya untuk menjernihkan pikiran, jalan kaki sampai njarem bisa jadi solusinya.

Jalan terus dan akan jalan lagi selama dikasih kesempatan 🙂

Memang tak selamanya saya melakukan segala hal sendirian. Saya mengerti betul akan hal itu. Saya tetap butuh orang lain. Tetap butuh teman ngobrol dan pasangan hidup, ehm. Melakukan sesuatu sendiri dan memiliki ruang sendiri akan tetap menjadi upaya untuk menyeimbangkan diri dengan banyak hal.

“Solitude sometimes is best society.”

John Milton, Paradise Lost

Ketika ada yang nyinyir, “Kok sendirian aja?” Ya udah lah ya biarin aja.