Skip to content

Membaca Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982

Saat Irene, anggota grup K-Pop Red Velvet, mengungkapkan di sebuah acara temu penggemar bahwa ia baru saja selesai membaca novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982, ia dihujani sejumlah komentar miring1. Ada penggemar dan pengikut media sosialnya yang marah dan mengecamnya. Bahkan sejumlah penggemar membakar dan menggunting foto-foto bintang K-pop tersebut kemudian diunggah di media sosial. Mereka sampai mengatakan berhenti jadi penggemarnya. Kenapa hanya karena sebuah novel yang dibaca sang idola, respons sejumlah penggemar bisa seekstrem itu? Apa yang salah dari membaca sebuah novel?

Rupanya Irene dikecam karena membaca novel yang mengangkat isu feminisme. Ada penggemar yang tidak suka idolanya itu menjadi feminis, padahal belum ada klarifikasi atau kejelasan sang idola benar-benar seorang feminis. Toh, membaca sebuah novel yang menyinggung isu feminisme bukan berarti akan serta merta membuat pembacanya menjadi feminis. Sebenarnya Irene bukan satu-satunya satu-satunya figur publik Korea Selatan yang jadi sorotan karena membaca Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982. Sooyoung anggota grup Girls’ Generation, Park Shin-hye, dan Hong Eun-hee juga membacanya2. RM anggota grup BTS pun sempat menyebutkan novel ini adalah salah satu novel yang ia baca. Komedian dan MC Nasional Yoo Jae-suk juga membaca dan merekomendasikan karya penulis Cho Nam-joo ini.

Siapakah Kim Ji-yeong?

Awalnya saya mengira Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 adalah buku biografi atau autobigrafi. Lalu, ketika mengetahui buku ini mengundang banyak kontroversi di Korea Selatan, saya jadi makin penasaran. Memangnya siapa Kim Ji-yeong ini? Ketika akhirnya saya mencari informasi lebih jauh, barulah saya tahu ternyata Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 adalah sebuah novel. Novel yang pertama kali terbit tahun 2016 ini dianggap sebagai tanda kebangkitan feminisme Korea Selatan di era gerakan #MeToo, gerakan melawan pelecehan seksual dan kekerasan seksual, yang dimulai sejak 2018. Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 menjadi novel pertama dalam satu dekade yang terjual lebih dari satu juta eksemplar dalam kurun waktu dua tahun3.

Cerita dalam novel ini diawali dengan Kim Ji-yeong yang pada suatu hari di musim gugur tahun 2015 berbicara pada suaminya, Jeong Dae-hyeon dengan suara dan sikap yang aneh. Dia bicara seperti orang lain. Masalah pun makin parah saat mereka ke rumah orang tua Jeong Dae-hyeon untuk merayakan Chuseok. Apa yang sebenarnya dialami dan terjadi pada Kim Ji-yeong?

Lahir 1 April 1982, Kim Ji-yeong merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia punya seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki. Ayahnya seorang pegawai negeri dan ibunya seorang rumah tangga. Selain tinggal dengan orang tua dan saudara-saudaranya, Ji-yeong serumah dengan neneknya, ibu dari ayahnya.

Sang nenek sangat menganakemaskan cucu laki-lakinya. Semua hal terbaik diberikan pada adik laki-laki Kim Ji-yeong. Hanya adik laki-laki Kim Ji-yeong yang boleh minum susu. Bahkan dalam pembagian kamar tidur pun, sang nenek sempat meminta cucu laki-lakinya untuk mendapat kamar sendiri sementara Kim Ji-yeong dan kakaknya berbagi kamar.

Keluarga dari pihak ayah Kim Ji-yeong masih sangat konservatif. Ayah Kim Ji-yeong selalu dibanggakan oleh ibunya, sedangkan ibu Kim Ji-yeong yang jelas-jelas bekerja lebih keras dalam segala hal malah tak pernah mendapat pujian sebagai menantu. Ibu Kim Ji-yeong sampai membuat keputusan berat terkait kehamilan ketiganya.

Seiring pertambahan usia dan pengalaman, Kim Ji-yeong remaja mulai merasa ada yang tidak adil dalam banyak hal yang ditemui dan dirasakannya. Cara gurunya memperlakukan murid perempuan dan laki-laki yang sering timpang, diskriminasi soal baju seragam, rasa malu saat mengalami menstruasi, pelecehan yang dialaminya, hingga kehidupan adik laki-lakinya yang begitu berbeda dan dimanjakan membuatnya mulai merasakan ada hal yang tak beres dalam kehidupan yang dijalaninya.

Peran ibu dan kakak perempuannya sangat penting dalam kehidupan Kim Ji-yeong hingga ia memiliki kesempatan untuk bisa berkuliah. Meski begitu, hidupnya tak serta merta lebih mudah. Saat kuliah dan bekerja, Kim Ji-yeong menghadapi berbagai problema yang meresahkan. Tak ada sosok perempuan dalam jajaran penting klub di kampus yang diikutinya. Saat dia dilecehkan oleh kakak tingkatnya, Kim Ji-yeong memilih untuk diam. Perjuangan mencari pekerjaan juga sangat rumit dan penuh tekanan. Ketika sudah bekerja pun, dia masih sibuk dengan hal-hal yang semestinya tak ia lakukan.

 Kehidupan setelah menikah menghadirkan berbagai problema dan dilema baru. Menjalani peran baru sebagai seorang istri, menantu, dan ibu membuatnya mengalami sejumlah tekanan. Menjadi seorang perempuan dan memiliki anak di Korea Selatan ternyata tidak mudah. Kehidupan yang dijalaninya dipenuhi berbagai dilema.

Novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982

Judul: Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982

Penulis: Cho Nam-Joo

Alih bahasa: Iingliana

Editor: Juliana Tan

Penyelaras aksara: Mery Riansyah

Ilustrator: Bella Ansori

Cetakan ketiga: Januari 2020

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb:

Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.

Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.

Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.

Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.

Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.

Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.

Kim Ji-Yeong Bukan “Orang Asing”

Kim Ji-yeong hanya perempuan biasa. Dalam novel ini, kehidupannya dibagi menjadi empat fase: 1982-1994, 1995-2000, 2001-2011, dan 2012-2015. Tak ada yang dramatis dalam kehidupan seorang Kim Ji-yeong, dan memang itulah poin utamanya.

Ketika menulis Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982, Cho Nam-joo menyuarakan pengalamannya sendiri yang berhenti dari pekerjaannya setelah melahirkan. Dalam sebuah artikel wawancara yang dimuat NY Times, Cho Nam-joo mengungkapkan bahwa ia memang ingin menulis isu-isu yang sebelumnya tidak disuarakan perempuan4. Ia pun ingin menjadikannya sebagai debat publik. Rupanya tujuannya itu tercapai. Novelnya jadi bahan pembicaraan, meski memang selain pujian ada hujatan yang diarahkan kepada karyanya. Berbagai kontroversi dan isu soal feminisme serta keseteraan gender meruak di mana-mana.

Cho Nam-joo menulis Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 pada tahun 2015 dan menyelesaikan drafnya dalam waktu beberapa bulan. Pada saat itu, berbagai isu misoginis semakin ramai dibicarakan di dunia maya. Ada rumor di internet bahwa seorang perempuan Korea Selatan ikut menyebabkan penyebaran virus MERS di Hong Kong setelah menolak dikarantina. Lalu istilah slang seperti “mum-chung” (ibu-serangga) yang menyudutkan para ibu rumah tangga sedang ramai dibicarakan. Karakter Kim Ji-yeong memang sengaja ia ciptakan sebagai perempuan biasa. Nama Kim Ji-yeong sendiri di Korea Selatan merupakan salah satu nama yang paling umum untuk perempuan. Cho Nam-joo ingin menulis hal-hal yang umum dan kerap dialami oleh para perempaun di sekitarnya. “Aku ingin cerita ini tidak hanya sekadar karya fiksi, tapi semacam biografi asli dari seseorang di luar sana,” paparnya.

Lahir di Seoul tahun 1978, Cho Nam-joo belajar sosiologi Ewha Womans University lalu bekerja hampir selama satu dekade menulis untuk program-program TV yang mengusung isu terkini. Dia berhenti bekerja untuk mengasuh anaknya dan mengalami kesulitan untuk membangun kembali kariernya. Cho Nam-joo mengumpulkan artikel dan data-data sosiologis dan memutuskan untuk membuat biografi fiksi tentang seorang perempuan Korea biasa, mulai dari lahir hingga dewasa. “Novelku membuat orang-orang buka suara,” ungkapnya.

Ketika membaca novel ini saya merasa begitu dekat dengan sosoknya. Ji-yeong bukan pejuang kesetaraan gender, bukan seseorang yang sangat keras menyuarakan feminisme, bahkan bukan orang terkenal. Dia hanya perempuan biasa. Menjalani kehidupan yang biasa dengan berbagai problema yang juga dialami oleh banyak perempuan. Sosoknya yang biasa itulah yang membuatnya terasa begitu dekat dengan kehidupan perempuan pada umumnya. Saya rasa sebagian besar pembaca perempuan pun akan merasakan hal yang sama. Kim Ji-yeong bukan orang asing. Banyak aspek dalam kehidupan Kim Ji-yeong yang juga dirasakan sebagian besar perempuan saat ini.

“Ia tidak bisa menjelaskan apa yang salah, tetapi ia merasa kesal dan tidak diperlakukan secara adil. Namun, mungkin karena ia tidak terbiasa menyuarakan pikirannya, Kim Ji-yeong pun tidak mengeluh.”

(hlm. 41-42)

“Kim Ji-yeong merasa dirinya seolah-olah berdiri di jalan sempit yang diselimuti kabut tebal.”

(hlm. 97)

“Pintar salah, bodoh salah, melakukan sesuatu setengah-setengah juga salah.”

(hlm. 96)

Sosok Kim Ji-yeong merefleksikan kehidupan yang dijalani sebagian besar perempuan. Terbiasa menerima berbagai perlakuan apa adanya sejak kecil, dia kehilangan suaranya sendiri. Tidak terbiasa menyuarakan pikirannya, dia pun tidak mengeluh. Ketika merasa ada yang tidak adil, dia diam saja. Butuh waktu tidak sebentar bagi Kim Ji-yeong untuk menyadari bahwa ada yang tidak baik-baik saja dari perlakuan yang mungkin selama ini dia anggap “normal”.

Adik laki-laki Ji-yeong mendapat perlakuan yang lebih baik dari neneknya bukan karena dia cucu terkecil, melainkan karena dia seorang laki-laki. Hanya murid laki-laki yang bebas pakai sepatu olahraga di sekolah, sedangkan murid perempuan diberi aturan yang begitu rumit dan mengekang. Ketika perempuan mengalami pelecehan, bukan pelakunya yang dihukum atau disalahkan melainkan korban itu sendiri yang disuruh introspeksi diri.

Rekan kerja Ji-yeong dipromosikan bukan semata-mata karena kemampuannya melainkan karena mereka berjenis kelamin laki-laki. Di antara istri dan suami yang sama-sama bekerja, ketika sudah memiliki anak dan mulai mempertimbangkan untuk salah satunya berhenti bekerja supaya punya lebih waktu untuk mengasuh anak, maka sudah lumrah bagi istri untuk melepas kariernya. Bahkan setelah melepas karier dan fokus menjadi ibu rumah tangga, masih ada saja sindiran atau cibiran dari masyarakat. Ah, menjadi perempuan kadang rasanya serba salah. Kesedihan dan kepedihan Kim Ji-yeong mewakili perasaan tiap perempuan yang mengalami hal serupa.

Pelecehan Seksual, Dunia yang Misoginis, dan Suara Perempuan

“Mereka bukannya pergi menangkap orang gila itu, malah menyuruh kita introspeksi diri.”

(hlm. 56)

“Kalau ia sampai tidak sadar dan tidak menghindar, maka ia sendiri yang salah.”

(hlm. 66)

Saya rasa tidak hanya seorang Kim Ji-yeong yang merasa kesal ketika pelaku pelecehan seksual dibiarkan begitu saja sedangkan korbannya yang malah disalahkan atau disudutkan. Ketika teman-teman Kim Ji-yeong di sekolah berusaha untuk memberi pelajaran terhadap seorang pelaku, malah mereka yang mendapat hukuman. Saat Kim Ji-yeong diikuti seorang remaja laki-laki aneh, dia malah disalahkan oleh ayahnya dan malah diminta untuk lebih sadar diri. Masih sering terjadi korban pelecehan malah yang dihakimi dan disudutkan.

Pada sekitar bulan September 2019 lalu, di Indonesia nama aktris Shandy Aulia trending di dunia maya. Dalam sebuah acara di stasiun televisi, menanggapi pertanyaan terkait pakaiannya yang dianggap “mengundang” mata para lelaki dan disindir untuk lebih “sadar diri”, Shandy berujar sambil tersenyum, “Mau tertutup atau terbuka, kalau memang it’s dirty mind ya sudah dirty aja5. Pernyataan Shandy itu langsung mendapat banyak respons. Banyak yang memuji Shandy karena ia bisa menjawab dengan tenang sekaligus tegas pertanyaan yang seksis tersebut.

Sebelumnya pada sekitar awal tahun 2019, Shandy memilih jalur hukum untuk menuntut seorang warganet yang menudingnya jual diri karena baju yang dikenakannya melaui direct message. Yang dilakukan warganet tersebut memang kelewat batas. Saat Shandy mengunggah foto sedang berolahraga, malah disindir alasannya tidak bisa hamil karena terlalu sibuk olahraga. Tapi ketika akhirnya Shandy memiliki anak dan melahirkan lalu kembali berolahrga, dia dituding lebih sayang badannya daripada anaknya. Rasanya serba salah sekali menjadi perempuan.

“Sementara para pelaku kejahatan mencemaskan sedikit hal remeh yang akan hilang dari mereka, para korban harus bersiap-siap kehilangan segalanya.”

(hlm. 157)

Tindak pelecehan seksual adalah tindakan yang serius. Bukan main-main. Ketika seorang mantan rekan kerja Kim Ji-yeong menceritakan ada kamera tersembunyi yang ditemukan di toilet wanita yang berada tepat di depan ruang kerja mereka, sudah banyak foto wanita yang terekam di kamera itu tersebar ke mana-mana. Tapi bukannya menghukum para pelaku, malah kasusnya ditutupi. Pelaku mungkin hanya menganggap hal itu sesuatu yang iseng saja, tapi bagi korbannya kejadian seperti itu bisa menghadirkan trauma. Yang dikhawatirkan dan dialami oleh rekan Kim Ji-yeong pun mewakili perasaan para perempuan yang pernah jadi korban pelecehan seksual.

Novel ini memang sangat menyentil para laki-laki misoginis. Pembenaran aksi pelecehan yang dianggap hanya sebagai main-main bagi laki-laki sebenarnya bisa sangat menyakitkan bagi perempuan. Panggilan dan julukan seksis terhadap perempuan masih dianggap candaan bagi laki-laki. Padahal kehidupan seorang perempuan bisa hancur berantakan karena aksi iseng yang dilakukan laki-laki. Belum lagi masih banyak laki-laki yang tampaknya belum sadar sikap dan perilakunya misogonis. Kian84, seniman webtoon sekaligus seleb TV di Korea Selatan baru-baru ini mendapat kritik atas salah satu adegan yang ia buat untuk webtoon karyanya, Bokhakwang’ (King of Returning to School)6. Dia mendapat kritik karena menampilkan adegan misoginis pada salah satu episode webtoon-nya. Banyak warganet yang memberi kritik pedas pada webtoon-nya bahkan ada yang membuat petisi di Blue House dan pusat komplain nasional meminta agar webtoon itu dihapus. Sungguhlah penting pada zaman sekarang untuk berani bersuara untuk memperbaiki dunia yang misoginis. Sudah saatnya untuk tidak lagi menggunakan tindak pelecehan atau merendahkan perempuan sebagai bahan candaan.

Kim Ji-yeong bukan perempuan yang bisa dengan mudah menyuarakan suaranya. Bahkan tak berani untuk membela dirinya. Saya jadi teringat sebuah adegan yang membekas di benak saya dari serial drama berjudul Search WWW. Hyun, salah satu dari tiga perempuan eksekutif yang bekerja di industri portal daring pernah mendapatkan pelecehan seksual saat berada di dalam lift. Karena memiliki kemampuan bela diri, karuan saja pelaku yang telah melecehkannya itu ia hajar habis-habisan. Melihat adegan itu rasanya sangat melegakan. Semestinya seperti itulah cara memperlakukan pelaku pelecehan seksual. Hanya saja tak semua perempuan punya keberanian sekaligus kemampuan untuk langsung memberi pelajaran kepada pelaku. Masih banyak perempuan yang seperti Kim Ji-yeong yang sudah merasa ketakutan lebih dulu dan tak bisa membela diri ketika dilecehkan.

Meski Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara paling maju secara ekonomi di Asia, tapi secara sosial masih dianggap sebagai negara konservatif7. Novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 yang terbit pada musim gugur tahun 2016 menurut profesor sosiologi di Chung-Ang University, Lee Na-young, hadir pada waktu yang sangat tepat. Beberapa bulan sebelumnya, seorang perempuan muda dibunuh dekat stasiun metro Gangnam di Seoul dalam kejahatan kebencian. Kejadian tersebut yang diikuti dengan beberapa kasus kekerasan seksual yang melibatkan figur-figur penting di industri literasi dan hiburan dianggap sebagai pemicu besar di balik gerakan #MeToo yang menjadi pusat perhatian pada tahun 2018.

Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 juga menyoroti perlakuan yang diterima para perempuan saat mereka memilih untuk memiliki anak. Istilah “ibu-ibu kafe” jelas sangat menyinggung para ibu yang meluangkan waktunya sejenak untuk menikmati secangkir kopi di kafe. Sebutan tersebut menyinggung para ibu yang dianggap “kerjaannya” hanya menghabiskan uang suami. Meski kenyataannya para ibu tersebut tak punya banyak waktu istirahat karena sibuk mengurus anak dan rumah tangga. Pada saat yang hampir bersamaan, ada sejumlah kafe dan restoran trendi yang memasang tanda “zona bebas anak” untuk mencegah para ibu datang. Kim Ji-yeong dalam novel ini merasa sangat sedih ketika disamakan dengan serangga oleh orang yang bahkan tidak ia kenal di sebuah kafe. Dia begitu terluka dengan pandangan masyarakat atas kehidupannya. Perasaan semacam ini pun pasti pernah dirasakan oleh para ibu rumah tangga yang lain.

“Tetapi aku malah dianggap sebagai serangga.”

(hlm. 166)

Jamie Chang, profesor di Ewha Womans University yang menerjemahkan buku tersebut untuk pasar Inggris mengatakan proses penerjemahannya sangat menguras emosi. Kejadian-kejadian yang dialami Kim Ji-yeong bukanlah sesuatu yang asing, hanya saja memang masih banyak kalangan masyarakat yang bersikap masa bodoh terhadap ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Chang mengatakan ia meyakini bahwa buku ini juga dekat dengan budaya Barat, sehingga penting untuk membuat versi terjemahan novel ini dari bahasa Korea Selatan ke bahasa Inggris. Persoalan seperti primogenitur, lebih mengistimewakan laki-laki, dan misogini juga terjadi dalam budaya Barat. Hak penerjemahan novel ini sudah terjual ke 20 negara. Versi bahasa Inggris dari novel ini pun mendapat pujian dari novelis lain seperti Elif Batuman dan Ling Ma. Di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2019.

Sistem Patriarki di Korea Selatan

Korea Selatan adalah negara yang berpegang teguh pada sistem patriarki, itu yang dituliskan Eje Kim dalam bukunya, Happy Yummy Journey8. Dia mengungkapkan bahwa bagi seorang perempuan Korea yang bekerja di kantor sekaligus membesarkan anak, hanya ada dua pilihan baginya, yaitu sakit atau gila. Berdasarkan pengalamannya sendiri, perempuan Korea Selatan yang menggeluti ilmu geografi dan studi Asia Tenggara ini memaparkan bahwa tenaganya terkuras habis saat harus mengurus pekerjaan dan rumah tangga di waktu yang bersamaan.

“Aduh, Ibu, sebenarnya tubuh Ji-yeong selalu sakit dan pegal setiap hari raya.”

(hlm. 16)

Dalam novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982, ada cerita tentang betapa lelah dan tertekannya Ji-yeong saat merayakan Chuseok. Ia tak bisa beristirahat sama sekali karena selain harus melakukan perjalanan jauh ke rumah mertua, juga sibuk menyiapkan berbagai hidangan. Hal ini juga dialami sendiri oleh Eje Kim. “Jika aku mengingat kembali kehidupanku sebelumnya di Korea Selatan, rasa-rasanya lebih banyak penderitaan dan air mata daripada kejayaaan dan kebahagiaan. Terutama setelah menikah. Di hari raya atau hari libur aku tidak pernah istirahat. Aku juga tidak bisa tidur nyenyak. Bertahan di tengah hari-hari yang melelahkan saja sudah sulit, tapi masih saja aku dicaci sebagai ibu yang tidak bisa mengurus anak dengan baik,” ungkapnya. Eje Kim bisa dibilang satu dari sekian banyak sosok Kim Ji-yeong lainnya di Korea Selatan yang merasaka betapa tidak mudahnya hidup di masyarakat patriarki.

Di Korea, kaum Honjok atau lajang sebagai penyendiri semakin jadi fenomena9. Sulitnya mencari pekerjaan membuat banyak orang khususnya generasi milenial lebih fokus bekerja. Sehingga tak ada waktu untuk mencari teman atau pasangan. Kesendirian menjadi solusi agar bisa mendapatkan rasa aman dari berbagai tekanan. Bagi perempuan, situasi tersebut bisa lebih sulit lagi jika budaya patriarki masih mengakar kuat. Dalam sebuah video tanya jawab (Q&A), Sueddu seorang YouTuber dari Korea Selatan berbagi pengalamannya menjalani rutinitas sebagai seorang pekerja lepas dan menjalani hidup tinggal sendirian10. Dia mengungkapkan bahwa hidupnya berubah total saat mulai tinggal sendirian. Dia bisa punya lebih banyak waktu untuk fokus pada diri sendiri. Ketika ditanya tentang pernikahan, dia mengungkapkan bahwa dia tidak akan menikah. Menurutnya, perempuan akan kehilangan banyak hal setelah menikah. Dia tak suka saat perempuan terpaksa harus terikat dengan pasangan atau anak-anak. Dari jawabannya, ia mewakili suara perempuan yang merasa kehidupan setelah menikah di Korea Selatan bisa mendatangkan berbagai persoalan yang lebih kompleks.

Menjadi perempuan dan ibu yang bekerja di Korea Selatan tidaklah mudah. Pada tahun 2020 ini diketahui angka kelahiran yang rendah di negeri ginseng tersebut. Laporan tahunan oleh UN Population Fund (UNFPA) menemukan bahwa angka fertilitas per perempuan di Korea Selatan hanya 1,1, terendah di antara 201 negara yang disurvei11. Meski para perempuan telah memperoleh keseteraan dalam akses pendidikan dan pekerjaan, keputusan untuk memiliki lebih banyak tidaklah mudah sebab perannya akan makin berat, seperti harus mengasuh anak dan mengatur urusan rumah tangga. Belum lagi masih mengakarnya praktik patriarki yang kuat di masyarakat, sehingga membuat kehidupan setelah memiliki anak menjadikan hidup seorang perempuan jadi semakin dipenuhi banyak dilema.

“Tidak apa-apa. Anak ketika mungkin laki-laki.” (hlm. 25)

“Bukan karena dia anak bungsu. Tapi karena dia laki-laki!” (hlm. 58)

“Anak berikutnya mungkin laki-laki.” (hlm. 141)

Masih kuatnya sistem patriarki juga tercermin dari betapa kehadiran anak laki-laki bisa dianggap lebih istimewa dan diharapkan daripada anak perempuan. Ibu Kim Ji-yeong menggugurkan bayi ketiganya “hanya karena” berjenis kelamin perempuan. Saat kakak Kim Ji-yeong protes pada ibunya yang tak pernah melibatkan adik laki-lakinya mengurusi pekerjaan rumah tangga, pembelaannya adalah karena si adik adalah anak bungsu. Saat Kim Ji-yeong melahirkan anak perempuan, bukannya mendapat doa dan harapan terbaik untuk putrinya ia malah mendapat kesan masih perlu berjuang lagi untuk hamil lagi sampai mendapatkan anak laki-laki. Sistem patriarki di Korea Selatan disoroti dalam novel ini dalam kehidupan dan pengalaman-pengalaman yang dirasakan langsung oleh Kim Ji-yeong.

Cho Nam-joo memiliki pengalaman sendiri terkait keluarga pada generasi orang tuanya yang sangat mementingkan anak laki-laki. Sebelum dia lahir, ayah dan pamannya sempat membuat kesepakatan. Jika Cho Nam-joo terlahir sebagai laki-laki, maka pamannya yang sudah punya lima anak perempuan akan mengasuhnya12. Ketika ditanya pendapatnya apa jadinya jika dia benar-benar diasuh oleh pamannya karena terlahir sebagai laki-laki, Cho Nam-joo menjawab hal itu tidak masalah. Hanya saja jika ia terlahir sebagai laki-laki, dia mungkin tak bisa melihat dunia ini dengan cara yang sama. Terlahir sebagai seseorang dari sisi yang lebih lemah, dia bisa melihat dunia jadi lebih luas. Rupanya pada generasi ibunya, praktik tukar anak perempuan dan anak laki-laki adalah hal umum.

Kehidupan Biasa Seorang Kim Ji-yeong Memiliki Daya Tarik Tersendiri

Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 ini bisa dibilang bukan novel yang dramatis. Terkesan datar karena merunut tahun demi tahun kehidupan seorang Kim Ji-yeong. Akan tetapi, justru di situlah letak daya tarik terbesarnya.

Saya bekerja di redaksi sebuah media daring perempuan. Salah satu tugas saya adalah mengedit dan melakukan kurasi terhadap tulisan para pembaca perempuan yang disertakan dalam lomba bulanan untuk dipublikasikan. Setiap perempuan selalu punya kisahnya sendiri. Tidak selalu kisah yang dramatis atau fantastis. Lebih banyak cerita tentang keseharian dan kehidupan yang biasa. Namun, setiap tulisan bisa diklik dan dibaca oleh ribuan bahkan puluhan ribu warganet. Banyak pembaca yang menyukai tulisan “biasa” karena merasa senasib atau berempati. Cerita yang biasa terasa jujur, sangat dekat, dan lebih menghangatkan hati. Bahkan ada yang merasa terhibur hingga terinspirasi karena dari sebuah cerita selalu ada pesan penting yang bisa dipetik.

Begitu pula yang terjadi pada kisah seorang Kim Ji-yeong. Setiap pembaca perempuan seakan memiliki seorang sahabat baru ketika mengikuti kisah seorang Ji-yeong. Kehidupan yang disoroti dalam novel ini mengandung berbagai aspek yang sangat dekat dengan sebagian besar perempuan yang ada di era sekarang, dalam benak bisa muncul kesan, “Oh, aku juga pernah merasakan itu!” “Benar sekali, aku paham betul posisi sulit yang dihadapi oleh Ji-yeong.” “Ternyata aku tidak sendirian atau satu-satunya orang yang mengalami dilema seperti yang dialami Ji-yeong.”

Catatan kaki yang disertakan dalam novel ini mungkin bagi sebagian pembaca terasa mengganggu karena seakan-akan membuat novel ini seperti diganjal artikel-artikel yang kaku. Di sisi lain, setiap catatan kaki yang disertakan menjadi penguat untuk memaparkan realita yang sedang terjadi di Korea Selatan. Yang dialami Kim Ji-yeong bukan rekaan semata atau terlalu dilebih-lebihkan, sebab begitulah adanya. Penyematan fakta dan data terkait beberapa isu membuat novel ini terasa lebih padat. Bukan sekadar keluhan tanpa dasar atas ketidakadilan yang dialami perempuan. Melainkan juga menyuguhkan secara langsung hal-hal yang terjadi di masyarakat yang masih sering diabaikan. Novel ini menjadi sensasi internasional karena memang isu dan persoalan yang diangkat dalam novel ini dirasakan oleh kaum perempuan secara umum, tak hanya oleh perempuan Korea Selatan saja.  

Seiring dengan perdebatan dan kontroversi novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 di Korea Selatan, sempat ada sekelompok pria Korea yang membuat urun dana daring (online crowdfunding) untuk pembuatan buku yang berjudul Kim Ji-hun Lahir Tahun 199013. Buku itu merupakan parodi novel Cho Nam-joo yang mengangkat tokoh utama laki-laki yang lahir tahun 1990 untuk menunjukkan diskriminasi yang juga dialami oleh para pria Korea. Padahal yang dipaparkan di Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 ini bukan untuk menyerang kalangan tertentu, jadi untuk apa juga harus repot-repot membuat novel “tandingan”?

Peran Ganda pada Perempuan

            “Pada tahun 2005 ketika Kim Ji-yeong lulus, sebuah survei di situs informasi pekerjaan yang dilakukan pada lebih dari 100 perusahaan menyatakan bahwa jumlah wanita yang diterima bekerja hanya 29,6%.” (hlm. 94)

            “Kim Ji-yeong tidak sanggup menyingkirkan perasaan tidak adil dan kehilangan yang menyergap dirinya.” (hlm. 137)

            “Apabila kita memilih tetap bekerja dan meninggalkan anak di bawah pengawasan pengasuh anak, tidak berarti kita tidak menyayangi anak kita. Sama seperti apabila kita berhenti bekerja demi membesarkan anak, tidak berarti kita tidak memiliki semangat untuk bekerja.” (hlm. 145)

“Lebih dari separuh wanita yang berhenti bekerja tidak mampu mencari pekerjaan baru selama lebih dari lima tahun.” (hlm. 159)

Kenapa pertanyaan semacam, “Bagaimana cara menyeimbangkan karier dan mengasuh anak?” lebih sering ditujukan pada perempuan daripada pria? Bukankah tugas mengasuh anak adalah tugas bersama? Tidak mudah bagi Kim Ji-yeong untuk melepaskan kariernya. Hidupnya seakan makin berkabut ketika menjadi seorang ibu rumah tangga. Sungguhlah menjadi sebuah dilema besar ketika seorang perempuan dihadapkan pada pilihan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu atau menjadi ibu yang bekerja. Setiap pilihan selalu menghadirkan semacam pengorbanan. Bahkan ketika sudah membuat sebuah pilihan pun, beragam persoalan baru datang mengiringi.

Mengutip Loving the Wounded Soul karya Regis Machdi, secara global, perempuan memang lebih rentan terhadap berbagai turbulensi emosi karena memiliki fluktuasi hormon lebih tinggi dibandingkan laki-laki14. Perubahan hormon yang terjadi dan dirasakan oleh perempuan membuatnya lebih mudah terkena depresi. Perempuan juga lebih ruminative atau sering memikirkan sesuatu berulang-ulang.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa perempuan pada zaman sekarang pun masih memiliki peran ganda, yaitu sebagai pekerja kantoran dan pekerja domestik. Apabila sudah menikah dan sang suami mengadopsi pola patriariki, maka beban yang dirasakan oleh seorang perempuan akan lebih berat. Belum lagi dengan masih banyaknya tuntutan, tekanan, dan standar ganda yang ada di masyarakat terhadap perempuan, maka kehidupan seorang perempuan bisa terasa makin rumit.

Dilema dan problema yang dirasakan Kim Ji-yeong ketika berhenti bekerja setelah punya anak pun mewakili keresahan hati kaum perempuan. Perempuan dan peran gandanya menjadi persoalan yang begitu dekat di masyarakat. Hanya saja masih banyak yang memilih untuk menutup mata dan malah menyudutkan perempuan atas apa pun pilihan yang diambilnya.

Najwa Shihab, seorang mantan pembawa acara berita dan pendiri Narasi TV dalam video YouTube-nya yang berjudul “Kenapa Perempuan Harus Memilih” menyinggung soal peran ganda terhadap perempuan15. Setiap kali membuat pilihan, seorang perempuan seakan selalu dihadapkan pada permasalahan. Memilih bekerja dianggap melawan kodrat. Menjadi ibu rumah tangga, perempuan dianggap mengorbankan bakat. Dilema tersebut tidak pernah dialami laki-laki. Perempuan pun harus menimbang lebih banyak saat membuat pilihan. “Perempuan itu selalu multiperan. Semuanya hadir dengan tuntutan,” ungkapnya.

Melalui video yang sama, Najwa Shihab mengutip World Bank, Women, Business, and the Law 2018 bahwa ada 104 negara yang memiliki undang-undang yang mencegah perempuan bekerja di pekerjaan tertentu. Bahkan di 18 negara ada aturan yang memungkinkan para suami mencegah istri-istri mereka bekerja. Secara global, ada 2,7 miliar perempuan yang secara hukum dilarang memiliki pekerjaan yang sama dengan laki-laki. Di Indonesia, menurut BPS 2019, jika dirata-rata, dari 100 orang perempuan yang masuk usia produktif, hanya sekitar 51-12 perempuan yang termasuk angkatan kerja. Sangat timpang dengan jumlah laki-laki yang mencapai sekitar 83 orang. Belum lagi dengan kenyataan bahwa gaji perempuan lebih rendah daripada laki-laki.  Perempuan hanya mendapatkan 77% dari apa yang didapatkan laki-laki.

“Di antara anggota-anggota OECD (Organisation for Economic Cooperation and Develepment), Korea Selatan adalah negara yang memiliki selisih penghasilan terbesar antara pria dan wanita.” (hlm. 123)

Ketidakadilan tersebut terjadi dan dialami oleh banyak perempuan dari berbagai negara. Korea Selatan sendiri merupakan negara yang paling tidak ramah bagi pekerja perempuan. Selain masalah gaji, diskrimanasi adalah problema terberatnya. Seperti yang dialami Kim Ji-yeong, untuk mendapat pekerjaan dia harus menelan pil pahit ketidakadilan yang terjadi. Setelah bekerja pun, dia tak bisa berbuat banyak ketika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Menjalani peran ganda sebagai seorang perempuan berarti harus lebih siap menghadapi tantangan yang bisa berkali-kali lipat lebih berat daripada seorang pria.

“Kalau begitu, bukankah itu pekerjaan yang bagus untuk semua orang? Kenapa hanya bagus untuk wanita?” (hlm. 68)

“Kalau begitu, kau boleh merasa mual, tidak bisa buang air, lelah, mengantuk, sekujur tubuhmu pegal, batin Kim Ji-yeong.” (hlm. 138)

“Banyak orang yang menolak menerima kenyataan bahwa pria dan wanita juga merasakan kesulitan hidup yang sama.” (hlm. 160)

 “Sebaik apa pun orangnya, pekerja perempuan hanya akan menimbulkan banyak kesulitan apabila mereka tidak bisa mengurus masalah pengasuhan anak.” (hlm. 175)

Pekerja perempuan masih dianggap tidak “menguntungkan” bagi perusahaan. Saya sendiri pernah dalam sebuah wawancara kerja ditanya soal rencana menikah. Semacam ada kekhawatiran pihak perusahaan tersebut akan rugi jika mempekerjakan perempuan yang punya rencana menikah dalam waktu dekat. Karena tak jarang perempuan akan berhenti bekerja setelah menikah, entah karena ikut suami atau karena lebih fokus mengasuh anak. Sehingga saya paham betul kesedihan dan kegelisahan Kim Ji-yeong saat berjuang mencari pekerjaan setelah lulus kuliah.

Ibu Kim Ji-yeong melepas impiannya untuk menjadi guru. Kakak Kim Ji-yeong pada akhirnya mengambil jurusan kuliah yang berbeda dari impiannya. Kim Ji-yeong sendiri harus menerima perlakuan yang tidak menyenangkan di kantornya. Atasan Kim Ji-yeong yang juga seorang perempuan sudah berupaya untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik di kantornya untuk rekan-rekan perempuannya, tapi pada akhirnya tak bisa berbuat apa-apa saat rekan perempuannya resign dari pekerjaan. Hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan pada perempuan dianggap semacam “kerugian” untuk perusahaan. Pada dasarnya perempuan yang bekerja tidak minta diistimewakan, hanya ingin mendapatkan keadilan. Tak ingin dimanjakan, tapi hanya ingin diberi peluang yang sama.

Harapan dan Perubahan ke Arah yang Lebih Baik

“Setengah? Bukankah seharusnya 70:30? Aku 70, kau 30.” (hlm. 87)

“Dunia memang sudah banyak berubah, tetapi peraturan kecil, janji, dan kebiasaan di dalam dunia ini tidak banyak berubah. Jadi secara keseluruhan, dunia sebenarnya tidak berubah.” (hlm. 132)

            Setelah selesai membaca novel yang menggunakan sudut pandang orang ketiga ini, muncul pertanyaan di benak saya, “Akankah kehidupan perempuan di masa yang akan datang bisa lebih mudah? Atau malah akan lebih rumit dan banyak masalah? Apakah sudah takdirnya seorang perempuan selalu menjadi korban dan menderita seperti Kim Ji-yeong?” Sangat sedih rasanya membaca kisah Kim Ji-yeong ini. Hidupnya seakan tak jauh lebih baik dari ibunya, Oh Mi-sook.

Oh Mi-sook, ibu Kim Ji-yeong mewakili suara bahwa selalu ada harapan untuk perubahan yang lebih baik pada setiap generasi. Melepas impiannya menjadi seorang guru, bekerja keras untuk membiayai sekolah saudara laki-lakinya, hingga melakukan semua hal yang ia bisa untuk membesarkan anak-anaknya supaya mendapat kehidupan yang lebih baik meski suami dan mertuanya tidak memberinya cukup apresiasi. Generasi Oh Mi-sook dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang tak kalah pahit. Di generasinya, aborsi karena masalah medis masih legal. Memeriksa jenis kelamin janin dan mengaborsi janin perempuan merupakan praktik umum seakan “anak perempuan” adalah masalah medis. Anak laki-laki lebih diharapkan dan disukai daripada anak perempuan, itu realita yang bisa diabaikan.

Hal yang paling mengagumkan dari Oh Mi-sook adalah ketegasannya mengarahkan sang suami dalam membuat pilihan yang lebih baik untuk keluarga. Andai Oh Mi-sook hanya diam saja dan mengikuti keputusan gegabah suaminya, mungkin kehidupannya dan kehidupan anak-anaknya tak bisa membaik. Dia mungkin bukan ibu yang sempurna tapi ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.

Kim Ji-yeong seakan menjadi korban keadaan. Ibunya sudah berupaya memberi kesempatan yang lebih baik untuknya. Dia bisa berkuliah dan masuk dunia kerja. Namun, kehidupan yang diajalaninya ternyata mengakibatkan sebuah “keanehan” dalam dirinya. Mengikuti kisah seorang Kim Ji-yeong, kita tersadarkan akan suara-suara yang semestinya berani kita utarakan dan ucapkan. Bercermin dari kisah Kim Ji-yeong, kita bisa lebih membuka mata soal alternatif lain yang bisa kita ambil ketika dihadapkan pada dilema yang dialami Kim Ji-yeong dalam kehidupannya.

Jeong Dae-hyeon sebagai suami semestinya bisa berbuat lebih banyak untuk Kim Ji-yeong. Sayangnya dia tidak benar-benar menjalankan apa yang dikatakannya. Ada saat-saat sebenarnya dia punya banyak kesempatan untuk membantu memperbaiki keadaan, tapi dia tak melakukannya. Sosok Jeong Dae-hyeon mengingatkan pentingnya berbagi peran antara suami dan istri dalam menjalani kehidupan bersama.

Melalui novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982, kita bisa memainkan sejumlah peran untuk menyuarakan ketidakadilan dan memperbaiki keadaan. Kita bisa menjadi ibu Kim Ji-yeong yang berjuang untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya. Kita bisa menjadi kakak Kim Ji-yeong yang berani membuka suara soal ketidakadilan di keluarganya. Kita bisa menjadi teman sekolah Kim Ji-yeong yang berani buka suara dan bertindak ketika mendapat perlakuan tidak adil. Kita pun bisa jadi wanita di bus yang menolong Kim Ji-yeong dari anak laki-laki yang menguntitnya. Ketika ada rekan kerja kita yang diperlakukan tidak adil di tempat kerja karena masih banyaknya pria misoginis, kita bisa berperan seperti atasan Kim Ji-yeong yang menunjukkan kehebatan melalui prestasinya. Dengan memainkan dan mengambil peran yang lebih baik di masyarakat, kita sama-sama punya kesempatan untuk mencegah munculnya “Kim Ji-yeong” yang lain.

Tak harus memahami isu feminisme atau menjadi feminis untuk membaca novel ini. Kehidupan Kim Ji-yeong dalam novel ini menghadirkan nilai-nilai universal yang membuka banyak ruang diskusi. Perempuan dan pria dari berbagai kalangan perlu membaca novel ini. Pembaca perempuan akan berempati terhadap karakter Kim Ji-yeong. Sekaligus bisa mengambil sudut pandang baru soal pilihan-pilihan lain yang lebih baik supaya tidak merasakan kepedihan seperti yang dirasakan Kim Ji-yeong. Pembaca pria pun bisa lebih memahami kehidupan perempuan dan bisa memperbaiki sikap agar tidak mengarah ke misogini atau malah merendahkan perempuan.

Perkenalan pertama saya tentang Korea Selatan adalah melalui serial dramanya, dan saya rasa sebagian besar dari kita langsung terbayang berbagai serial drama Korea yang sangat populer pada zamannya. Mengutip buku Citizen 4.0, di mata ASEAN, Korea Selatan adalah K-Pop, Smart and Creative, Pali-Pali (cepat dan fleksibel), dan In-between (dikenal sebagai negara yang ingin menyerupai Jepang sebagai penghasil produk berkualitas tetapi juga gesit dan berani seperti Tiongkok)16. Dalam berbagai hal, masyarakat Korea Selatan dikenal sebagai pribadi yang sangat cepat mengambil keputusan dan menyesuaikan diri dengan perubahan situasi. Korea Selatan adalah salah satu negara yang terpukul Krisis Asia pada 1997 tapi berupaya bangkit dengan cara salah satunya adalah mempromosikan sosial dan budayanya. Selalu menarik untuk mengetahui kehidupan di Korea Selatan. Di balik kemajuan dan teknologinya yang modern, belum banyak orang yang tahu bahwa kehidupan perempuan di sana masih dihadapkan oleh banyak dilema dan masalah. Membaca karya sastra Korea Selatan seperti Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 ini menghadirkan wawasan baru soal kehidupan yang ternyata tidak jauh berbeda dari kaum perempuan di negara lain, termasuk di Indonesia.

Masih ada rasa optimisme bahwa generasi perempuan di masa yang akan datang bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Melalui Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982, kita kembali membuka mata bahwa masih ada banyak persoalan yang solusinya perlu kita cari bersama. Bukan saling menyalahkan atau menyudutkan, melainkan sama-sama menemukan jalan keadilan bersama dalam kehidupan ini.  

DAFTAR RUJUKAN

1. Koreaboo. (2018). Male Fans Burning Irene’s Merchandise After Discovering She May Be A Feminist. Diakses dari https://www.koreaboo.com/stories/male-fans-burning-irene-merchandise-after-discovering-may-be-feminist/

2. Koreaboo. (2018). 5 Celebs Who’ve Also Read The Feminist Book That Caused Irene’s Controversy. Diakses dari https://www.koreaboo.com/lists/5-celebs-whove-also-read-feminist-book-caused-irenes-controversy/

3. Mee-yoo, Kwon. (2018). How feminist book ‘Kim Ji-young’ became million-seller. Diakses dari http://www.koreatimes.co.kr/www/art/2018/12/142_259692.html

4. Alter, Alexandra. (2020). The Heroine of This Korean Best Seller Is Extremely Ordinary. That’s the Point. Diakses dari https://www.nytimes.com/2020/04/08/books/cho-nam-joo-kim-jiyoung-born-1982.html

5. Q&A: SHANDY: BAJUKU, PILIHANKU (6/6). (2019). Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=KuhwMfmmUtc

6. Haydn-an. (2020). Kian84 edits his webtoon after controversy over a misogynistic scene. Diakses dari https://www.allkpop.com/article/2020/08/kian84-edits-his-webtoon-after-controversy-over-a-misogynistic-scene

7. Hyung Eun, Kim. (2019). Kim Ji-young, Born 1982: Feminist film reignites tensions in South Korea. Diakses dari https://www.bbc.com/news/world-asia-50135152

8. Kim, Eje. 2018. Happy Yummy Journey. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

9. Aurelia, Joan. (2019). Pilihan Jadi Honjok, Lajang Penyendiri & Menikahi Diri Sendiri. Diakses dari https://tirto.id/pilihan-jadi-honjok-lajang-penyendiri-menikahi-diri-sendiri-dfar

10. Sueddu. (2020). Q&A of a Freelancer living alone. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=xfdKgeqzQAA

11. Hyonhee, Shin. (2020). S. Korean birth rate world’s lowest in struggle for balance: UN report. Diakses dari https://www.thejakartapost.com/news/2020/07/01/s-korean-birth-rate-worlds-lowest-in-struggle-for-balance-un-report.html

12. Williams, Holly. (2020). South Korean author Cho Nam-joo: ‘My books is braver than I am’. Diaskses dari https://www.theguardian.com/books/2020/feb/15/cho-nam-joo-kim-jiyoung-born-1982-interview

13. Lee, Claire. (2018). Feminist novel becomes center of controversy in South Korea. Diakses dari http://www.koreaherald.com/view.php?ud=20180327000799

14. Machdy, Regis. 2019. Loving the Wounded Soul. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

15. Shihab, Najwa. (2020). Kenapa Perempuan Harus Memilih | Catatan Najwa. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=ctjfkk7DyGA

16. Kartajaya, Hermawan. 2018. Citizen 4.0. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *