cr: pexels.com/@tatianasyrikova

Selama WFH, keseharian dan rutinitas berpusat di rumah. Bangun pagi setelah mandi, langsung duduk manis di depan laptop, bekerja hingga sore hari. Diselingi dengan istirahat, makan, sholat, dan kadang goler-goler di kasur. Apakah lebih santai bekerja di rumah? Hm, tidak juga. Saat bekerja, maka fokus perlu dipusatkan dengan pekerjaan biar tidak makin molor kerjanya. Capek dan bosan pun masih melanda. Maka, jatah cuti pun perlu segera diambil.

Bekerja di rumah, tetap perlu cuti juga. Karena pandemi ini, tidak lagi menjadwalkan liburan pergi ke luar kota apalagi ke luar negeri. Bahkan sangat membatasi diri untuk keluar rumah. Kalau lagi nggak kehabisan camilan atau sabun, rasanya nggak akan ngesot ke swalayan, hehe. Itu pun kadang cari waktu-waktu sepi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk belanja keluar. Sungguh sangat berharap pandemi ini segera berakhir dan bisa kembali ke rutinitas yang benar-benar normal.

Sesekali saya pun masih mengambil waktu cuti. Waktu cuti pun dihabiskan hanya di rumah saja. Nonton berbagai macam video YouTube, nonton drama Korea, nonton acara ragam Korea, tidur-tiduran, atau mengerjakan sesuatu di rumah. Seperti kemarin ambil cuti sehari. Dan waktu dihabiskan untuk…

… nyuci sprei, menyikat kloset dan lantai kamar mandi, nyapu ngepel rumah, nyiram beberapa pot tanaman, mendekam di kamar sambil pegang HP nonton YouTube berjam-jam. Sangat “produktif” sekali ya cutinya.

Sudah mengurangi pekerjaan sampingan tapi kadang rasanya tubuh masih gampang capek. Atau mungkin malah merasa makin mudah capek karena faktor usia? Ouch, menua adalah sebuah realita yang tak bisa dihindari.

Rutinitas bekerja (di luar urusan pekerjaan kantor) memang sudah mulai saya kurangi beberapa waktu belakangan. Sedang mencoba untuk melakukan hal-hal yang lebih mendatangkan kepuasan batin. Melakukan hal-hal yang selama ini sudah sering ditunda. Mencoba hal-hal yang selama ini sering dilewati begitu saja. Cuma “musuhnya” ternyata cukup berat, yaitu rasa malas dari dalam sendiri. Kadang sudah membuat rencana dan jadwal yang tampak lebih produktif tapi ujung-ujungnya nggak dilaksanakan karena malas melanda. Duh, kebiasaan buruk ini perlu segera dihempaskan.

Meski kerja cuma di rumah saja, cuti tetap perlu sesekali diambil biar nggak gampang stres. Bekerja dan beristirahat sama-sama pentingnya, setuju apa setuju?