Kapan pertama kali nonton drama Korea? Kalau nggak salah waktu SMP, zamannya drama Korea, drama Taiwan, dan telenovela ditayangkan di televisi. Keseruan nonton di TV adalah selalu nggak sabar untuk nunggu episode berikutnya. Dibikin penasaran sekaligus deg-degan takut kalau kelewatan jamnya, hehe. Kalau sekarang, nonton drama jauh lebih mudah. Selain itu, saya bersyukur kemudahan ini baru saya rasakan setelah kerja. Coba kalau kemudahan nonton drama Korea sudah saya rasakan sejak masih sekolah, bisa-bisa nggak pernah belajar tiap hari.

Kalau bahas drama Korea, yang pertama kali terlintas di pikiran adalah drama romantis dengan para pemain yang cantik dan cakepnya nggak ketulungan. Nggak bisa dipungkiri memang itulah daya tarik awalnya. Meski begitu, genrenya pun bermacam-macam seperti thriller, keluarga, hingga yang bernuansa slice of life. Nggak melulu cinta-cintaan. Sampai sekarang yang belum pernah bisa saya nikmati dari drama Korea ada yang bergenre horor dan yang terlalu berdarah-darah, rasanya nggak akan sanggup menamatkan satu episode pun.

Kalau ditanya kenapa suka drama Korea? Hm… jawabannya bisa karena beberapa hal.

Menikmati Hal-Hal yang Mustahil Ada di Dunia Nyata

Oke, yang terlalu romantis memang rasanya mustahil bisa kejadian beneran di dunia nyata. Kita sadar betul bahwa adegan-adegan drama mustahil terjadi di dunia nyata. Drama Korea jelas mengakomodasi kebutuhan untuk mendapat visual atau gambaran yang selama ini jadi fantasi belaka. Jadi hiburan sendiri sampai senyum-senyum sendiri, heu!

Seperti drama Extraordinary You, awal tertarik nonton drama ini karena ceritanya yang unik. Dengan genre fantasi, jelas kita perlu logis bahwa yang terjadi dan ditampilkan di drama ya cuma ada di dalam drama. Selain karena para pemainnya yang begitu shining, saya suka dengan tipe cerita yang unik. Cerita yang berbeda dan selalu bikin penasaran memang jadi daya tarik tersendiri. Membayangkan ternyata dunia yang kita tinggali adalah dunia komik dan kita hanya menjalankan peran yang sudah dibuat oleh penulis, sungguh menarik minat.

cr: asianwiki

Mendapat Tawa

Kalau sudah jenuh dan capek dengan pekerjaan, butuh penyegaran nonton yang lucu. Untuk yang bergenre komedi, saya suka bila ada unsur detektif atau soal memecahkan kasus-kasus kriminal, seperti pada drama Fiery Priest. Seorang mantan agen yang kemudian memilih menjadi seorang pastor. Lalu, ada kasus pembunuhan dan berbagai intrik yang perlu dipecahkan. Unsur action dipadu dengan komedi, suka banget sama drama ini. Selain itu, ada sentuhan yang bikin haru juga.

Drama Catch the Ghost pun saya ikuti sampai tamat. Dramanya memang nggak yang sangat kocak dan lucu banget. Cerita utamanya adalah mengungkap kasus pembunuhan berantai di stasiun kereta bawah tanah. Ada unsur komedi dan ada sisi romansa sekaligus bernuasan keluarga di drama ini.

Nonton drama yang ada unsur memecahkan kasus memang seru. Kadang butuh tontonan yang bikin agak mikir tapi juga menghibur biar pikiran terasa lebih terurai (?) Hehe, ya begitulah kira-kira.

Mendapat Air Mata

Kadang kalau lagi sedih, kadang kita butuh drama yang bisa memicu tangis. Biar sekalian lega nangisnya. Kalau lagi sebal dengan sesuatu tapi bingung cari pelampiasan untuk nangis, nonton drama sedih juga bisa cukup manjur. Drama Dazzling tadinya sempat tidak ingin saya lanjutkan untuk ditonton, tapi begitu dapat spoiler-nya langsung lanjut nonton. Ada plot twist yang sukses bikin nangis. Membayangkan kita nanti menua dan mulai mendapati potongan-potongan ingatan yang lepas satu per satu bikin nyesek sendiri.

cr: asianwiki

Mencerna Topik Berat dengan Menambah Wawasan Baru

Drama Korea Designated Survivor: 60 Days yang merupakan versi remake seri yang pernah tayang di ABC tahun 2016 pun saya tonton sampai tamat. Tentang seorang menteri yang menjadi presiden interim karena sebuah tragedi besar yang merenggut nyawa presiden dan jajaran kabinetnya. Topik politik memang bukan favorit saya. Bahkan kadang bikin pusing kalau nonton film atau drama politik. Namun, lewat drama ini jadi tahu banyak hal soal bagaimana pemerintahan dijalankan. Mengintip “dalaman” Gedung Biru dan siapa saja yang punya peran besar dalam membuat kebijakan dan keputusan besar dalam negara. Nonton drama ini di beberapa episode akhirnya bahkan bikin terharu. Pelajaran berharga soal kekuasaan dan kemanusiaan menambah sudut pandang baru.

Doctor Prisoner menawarkan cerita yang menarik. Dokter bedah yang tadinya dikenal sangat baik berubah 180 derajat menjadi sosok yang membantu orang-orang jahat keluar dari penjara dengan melakukan semacam rekayasa penyakit. Agak seram juga saat membayangkan ada orang yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk sakit parah demi bisa keluar dari penjara. Betapa ngerinya orang-orang berpengaruh yang menyalahgunakan kekuasaannya. Meski mumet dengan berbagai istilah medis dan penyakit, tapi tetap seru mengikutinya sampai episode akhir.

Meresapi Hal-Hal yang Dekat dengan Diri Sendiri

Sky Castle memang sangat ramai dibicarakan awal tahun lalu. Rating yang meroket direngkuh drama ini. Tadinya saya tak tertarik nonton drama ini karena kesannya kaku dan membosankan. Tapi begitu coba nonton, jadi keterusan ngikuti sampai tamat. Kental membahas isu pendidikan dan ambisi para orang tua yang ingin anaknya sukses secara akademis dengan menghalalkan segala cara. Diwarnai berbagai tragedi yang menyedihkan di dalam kompleks elit. Pengaruh masa lalu yang membentuk pribadi seseorang. Meski ada nuansa yang bikin tegang dan sebal, bumbu komedinya yang pas pun bikin drama ini menarik. Akting para pemainnya pun keren, seakan mereka memerankan diri mereka sendiri.

Isu pendidikan memang tak pernah ada habisnya untuk dibahas. Isu yang begitu dekat dan penting. Ekspektasi orang tua, tuntutan akademis, dan kemampuan mental dalam menghadapi berbagai tekanan sosial. Rasa frustrasi yang dirasakan dan harus ditekan anak-anak demi memenuhi keinginan orang tua yang berlebihan.

cr: asianwiki

Ada satu kecenderungan yang saya miliki dalam memilih drama yang ditonton. Drama yang mengusung hal-hal berbau buku dan penulis pasti langsung dicari. Chicago Typewriter saya ikuti sampai tamat karena ceritanya yang unik. Menggabungkan unsur time traveling, idealisme penulis, dan sosok hantu. Ada bumbu romansanya juga. Bahkan ketika tahun lalu dapat sebuah proyek pekerjaan yang berkaitan dengan drama ini, saya dengan senang hati menonton ulang separuh serinya.

Romance is a Bonus Book dari sisi romansanya sebenarnya not my cup of tea, tapi karena tokoh utamanya berprofesi sebagai penulis sekaligus editor buku saya pun menontonnya. Menyaksikan keseharian para editor buku, penulis, hingga desainer kover buku melalui drama memberi kebahagiaan tersendiri. Dinamika dunia penerbitan buku menjadi hal yang begitu menyenangkan untuk diikuti. Andai kantor saya di Bandung dulu seperti kantornya Eun-ho, mungkin saya nggak akan resign jadi editor buku waktu itu, hehe.

Sepertinya selera drama saya berubah seiring bertambahnya usia, uhuk! Sudah makin jarang tertarik nonton drama remaja kecuali yang ceritanya benar-benar unik. Semakin suka nonton drama yang kental nuansa dunia kerjanya. Search: WWW langsung memikat di episode pertama. Selain karena menyangkut dunia kerja yang begitu dekat dengan yang saya geluti saat ini, karakter para perempuannya juga tak biasa. Melihat mbak-mbak cantik yang berani mukuli pria kurang ajar, melihat para perempuan yang berkompetisi sehat sekaligus saling menguatkan satu sama lain, hingga melihat gigihnya perempuan yang berusaha memperjuangkan yang diinginkannya sangat mengagumkan. Berbagai hal tentang internet dan dunia maya pun menghadirkan dinamika yang seru di drama ini.

Kalau disuruh milih satu drama yang paling disuka tahun 2019, saya pribadi memilih Be Melodramatic. Awalnya kalau lihat dari posternya sama sekali nggak tertarik. Para pemainnya pun nggak terlalu “wah”. Namun, mungkin karena cerita dan topik yang dibahas begitu dekat yang sedang saya rasakan saat itu, jadinya drama ini terasa begitu dekat. Drama yang sungguh mengerti apa yang dirasakan dan dialami kita-kita yang sudah berusia 30an. Selain itu, karena tokoh utamanya adalah sutradara dan penulis skenario drama, makin jatuh cintalah saya dengan drama ini karena mengobati rasa penasaran soal para pekerja kreatif di balik pembuatan sebuah drama. Para pemainnya berakting dengan begitu alami. Kocaknya pun nggak tanggung-tanggung. Yang paling terasa adalah soal product placement. Ada satu adegan yang sukses bikin ngakak dan tiap kali membayangkannya lagi pasti bikin ketawa sendiri. Dodol banget tapi juga genius ini yang bikin drama.

Drama Korea Punya Banyak Warna

Banyak banget warna yang dipunya drama Korea. Meski, pada genre tertentu seperti drama komedi romantis, formulanya sudah cukup mudah ditebak. Saat ini sudah gampang tinggal pilih mau nonton drama apa. Karena memang sangat bervariasi dengan para pemain yang berparas paripurna.

Tiap orang punya selera sendiri soal genre drama. Saya sendiri memang sebatas penikmat saja. Bukan penggemar berat dan nggak terlalu fanatik pada aktor tertentu. Bahkan saya nggak pernah hapal dengan nama para pemain drama yang sudah saya tonton, hehe. Semakin ke sini, saya jadi lebih memperhatikan sutradara atau penulis skenario dramanya. Siapa sih yang bikin ceritanya kok bisa keren gini? Siapa sutradaranya sampai bisa membuat drama yang enak banget ditontonnya? Selalu ada “otak” penting di balik penampilan para aktor yang memukau.

Semua karya kolaborasi sutradara Shin Won-ho dan penulis skenario Lee Woo-jung jadi favorit saya sampai saat ini. Dari Reply 1997, Reply 1994, dan Reply 1988 semua saya suka. Selalu ada nuansa yang khas dan nggak biasa dari karyanya. Ceritanya dan keunikan para tokohnya selalu membekas. Wise Prison Life yang disutradarai Shin Won-ho pun jadi yang salah satu yang terfavorit hingga saat ini.

Tahun 2020 ini pun nggak sabar untuk menantikan Wise Doctor Life dari sutradara Shin Won-ho dan penulis skenario Lee Woo-jung. Belum tahu drama Korea apa lagi yang akan memikat di tahun ini. Ada beberapa judul baru yang sudah mencuri perhatian, tapi belum tahu apakah akan jadi drama terfavorit berikutnya.

Oh iya, satu lagi alasan kenapa suka drama Korea adalah karena memudahkan saya saat mengerjakan subtitle drama Korea. Sangat membantu dalam mencari padanan dan ekspresi yang pas dalam proses penerjemahannya, walau saya menerjemahkannya dari English template. Serta, bikin pekerjaan jadi terasa menyenangkan karena sembari nonton drama sembari menjemput rezeki. Kebahagiaan yang tiada tara!