cr: pexels.com/@filip-klinovsky-1659735

Apakah ada urutan yang mutlak terkait kehidupan normal? Seperti yang umum soal urutan kehidupan dari bersekolah, berkuliah, bekerja, menikah, lalu hidup bahagia selama-lamanya. Atau urutan kehidupan dari yang tadinya gagal beberapa kali lalu bisa sukses gemilang pada akhirnya, bukan dari yang habis gagal lalu malah gagal lagi. Urutan kehidupan bangun pagi, beraktivitas dengan produkif sepanjang hari, lalu bisa tidur nyenyak pada malam hari. Kehidupan normal berinteraksi dengan orang-orang berenergi positif setiap saat. Kehidupan normal selalu bisa menemukan solusi atau jalan keluar dari setiap permasalahan yang ada. Seperti itukah kehidupan normal itu?

Lebih dari satu bulan ini bekerja dari rumah. Pandemi virus corona menghadirkan proses adaptasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Bekerja dari rumah kali ini pun benar-benar sendiri. Tak ada teman kerja. Tak ada anggota keluarga yang setiap saat menemani di rumah karena sudah dua bulanan ini saya tidak di rumah sebelumnya. Rasanya begitu banyak kekosongan dan waktu luang, tapi belum tentu bisa lebih produktif. Ada saat-saatnya pikiran terasa seakan kemana-mana. Memikirkan banyak hal yang sebelumnya tak pernah dipikirkan terlalu dalam. Khususnya soal kehidupan yang sedang dijalani sendiri.

Kemarin, seorang sahabat mengirim sebuah pesan dan menanyakan kabar. Dia bilang semalam sebelumnya ada saya di dalam mimpinya. Di mimpi itu, katanya dia menarik saya yang hampir tertabrak kuda. Entah saking kagetnya atau bagaimana, dari mimpi itu ia langsung terbangun dari tidur. Dia pun menanyakan kabar apakah saya baik-baik saja. Saya pun menjawab saat ini alhamdulillah baik-baik saja. Lalu obrolan berlanjut soal belajar ikhlas.

Sahabat saya ini punya masalah yang cukup pelik dalam rumah tangganya. Masalah yang bahkan ia sembunyikan dari orangtuanya sendiri. Hanya kepada sahabat-sahabatnya ia berbagi cerita soal masalah yang cukup besar itu. Lalu, kini ia mengatakan bahwa ia sudah berusaha ikhlas. Ikhlas memaafkan kesalahan seseorang yang begitu dekat tapi juga sudah begitu jahat pernah mengkhianatinya. Dia sendiri bilang memang tidak mudah untuk bisa ikhlas. Bahkan prosesnya cukup panjang. Ketika ada perasaan yang masih mengganjal, ia mengatakan untuk memperbanyak zikir dan istigfar. Darinya saya belajar bahwa memang untuk ikhlas itu tidak mudah tapi justru dengan belajar untuk ikhlas, hidup bisa terasa lebih ringan lagi ke depannya. Jika muncul perasaan sakit hati, tinggal ingat saja bahwa hidup ini hanya Allah yang punya. Tiada Tuhan selain Allah. Serahkan saja semuanya pada-Nya. Nggak perlu terlalu menggenggam semuanya sendiri. Belajar ikhlas tidak mudah. Iya itu jelas. Saya pun sempat berpikir bahwa mustahil bisa benar-benar ikhlas memaafkan kesalahan seseorang yang sudah begitu dekat dengan kita. Saya sempat merasa selamanya tak akan bisa memaafkan seseorang yang sudah menyakiti hati kita dengan begitu dalam. Namun, saya kembali menyadari bahwa saya pun hanya manusia biasa. Saya hanya seorang hamba. Untuk bisa menemukan dan membangun lagi kekuatan dalam diri, maka hanya kepada Allah saya menggantungkan segalanya. Kembali meyakinkan diri bahwa Allah pasti akan memberi jalan keluar dan solusi dari setiap permasalahan yang ada. Hanya Dia yang bisa mewujudkan keajaiban. Mewujudkan sesuatu yang tadinya tampak mustahil menjadi sebuah kenyataan dan realita.

Kehidupan yang normal bukan berarti kehidupan yang tanpa masalah. Iya memang menyenangkan bila bisa menjalani dan memiliki kehidupan seperti kebanyakan orang. Kehidupan yang dianggap normal karena mengikuti urutan atau rangkaian yang dimiliki kebanyakan orang. Tapi jika terlalu menuruti dan menuntut hal semacam itu, yang ada malah hanya akan menyiksa diri. Sebab permasalahan setiap orang berbeda. Ujian dan cobaan yang dihadapi tiap orang tidak sama.

Kadang karena berbeda dari patokan atau standar yang ada di masyarakat, kita dianggap tidak normal. Belum memiliki ini dan itu atau belum mencapai ini dan itu dianggap tidak normal. Padahal perjalanan hidup tiap orang tak sama. Ada yang memang berbeda dari kebanyakan orang. Ada yang memilih untuk berbeda, tapi ada juga yang harus dihadapkan pada kondisi berbeda agar bisa lebih banyak belajar. Sulit memang jika harus memenuhi harapan dan keinginan semua orang. Lha wong memenuhi harapan kedua orangtua sendiri saja tidak selalu mudah. Ada hal-hal yang luput dari perjalanan hidup kita. Ada hal-hal yang harus kita lepas dan relakan dari genggaman. Ada luka yang harus kita sembuhkan sendiri dengan bergantung sepenuhnya pada Allah SWT. Ada ujian dan cobaan yang harus kita terima dengan ikhlas sebagai pengingat kita bahwa kita hanya seorang hamba.

Rasa cemas, takut, dan khawatir kadang menyelimuti diri. Bagaimana jika tak bisa mendapatkan kehidupan normal? Bagaimana nanti jika dipandang miring atau sinis oleh banyak orang karena memiliki jalan hidup yang berbeda? Pemikiran semacam itu memang menyiksa diri. Sampai kemudian kembali berusaha menyadarkan diri bahwa ada Allah SWT yang akan menguatkan dan membantu memberi jalan keluar atau solusi dari masalah yang ada. Banyak hal yang tak kita sukai terjadi dalam hidup ini. Ada hal-hal yang dianggap abnormal yang ternyata harus kita alami. Lagi-lagi hidup bukan soal hitung-hitungan kita sendiri. Yang normal dan tidak normal mungkin hanya ada di pikiran dan keterbatasan pikiran kita sendiri.