Skip to content

Karakter

cr: pexels.com/@marta-wave

Mengenal karakter seseorang tak selalu mudah. Kadang ada banyak lapisan yang harus dibuka. Ada banyak penghalang yang perlu ditembus. Bahkan perlu melihat dari berbagai arah untuk menemukan karakter sejati seseorang.

Mengenal seseorang yang baru lewat dunia maya menjadi hal yang sangat lazim di era seperti sekarang ini. Melalui pesan teks sudah bisa mengobrol. Bisa membahas banyak hal seakan sudah kenal lama. Namun, tetap saja tak bisa melihat atau mengetahui karakter utuh seseorang hanya dari sebatas saling tukar dan kirim pesan teks.

Yang ditampilkan seseorang di media sosial pastinya hanya sebagian saja dari sejumlah aspek kehidupan yang dimilikinya. Yang tampaknya begitu ramah di media sosial bisa saja menunjukkan sisi yang agak pemarah ketika diajak berinteraksi langsung. Yang tampaknya bisa menjadi orang yang berpikiran positif di depan orang lain bisa jadi di dalam hatinya sedang berusaha melawan berbagai monster yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

Tiap orang tampaknya memang punya banyak topeng. Tiap topeng punya fungsi dan kegunaannya sendiri, serta ada waktu tersendiri dalam pemakaiannya. Ada topeng yang baru dipakai saat bertemu orang asing. Ada topeng yang dipakai saat berhadapan dengan orang banyak. Ada topeng yang dipakai saat menghadapi orang-orang yang sudah dikenal lama. Bahkan, ada topeng yang dipakai saat sedanng sendirian. Ada karakter yang bisa ditunjukkan dengan cara berbeda dan waktu yang selalu disesuaikan dengan kebutuhan dalam keseharian seseorang.

Mengenal karakter diri sendiri pun bisa membutuhkan proses seumur hidup. Seiring waktu berjalan dan pertambahan usia, berbagai perubahan hidup akan kita jalani dan hadapi. Ada karakter-karakter dalam diri yang ikut berubah. People are always changing.

Rasanya memang perlu interaksi langsung bila ingin mengenal karakter seseorang lebih dalam. Dari tulisan seseorang kita bisa menemukan sebagian karakternya, tapi bukan berarti keutuhan karakter diri ada dalam tulisan yang ditampilkan. Sebab saat sedang membuat tulisan, ada pikiran sadar yang dilibatkan dan pastinya sudah ada kerangka dan rencana yang lebih tertata agar tulisan yang dibuat bisa tampak bagus. Sementara ketika dihadapkan pada situasi-situasi tak terduga, perlu respons spontan yang bisa jadi sangat berbeda dengan karakter yang ditampilkan dalam tulisan yang pernah dibuat.

Saya sendiri bukan orang yang sempurna. Karakter dan kepribadian yang ada pun bisa sangat berlapis dan memiliki kekurangan di sana-sini. Bahkan untuk memahami perasaan sendiri kadang masih terasa membingungkan. Meskipun begitu, menerima diri seutuhnya dengan semua lapisan karakter yang ada sudah sepatutnya dilakukan, bukankah begitu?

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *