cr: pexels.com/@burst

Ada sebuah variety show Korea yang sering kuikuti tiap pekan. Judulnya I Live Alone. Awalnya nggak tertarik dengan acara ini, tapi ketika nyoba nonton karena bintang tamunya menarik eh jadi keterusan nonton tiap episode barunya. Konsepnya unik, menyoroti kehidupan para seleb lajang dalam kesehariannya hidup seorang diri.

Selalu penasaran dengan kehidupan orang-orang yang kesehariannya tinggal di rumah sendiri. Apalagi para figur publik yang ketika menjalani profesinya sebagai aktor, penyanyi, pembawa acara, hingga idol tampak sangat “wah” ternyata punya keseharian yang “biasa”. Ketika sedang punya waktu luang untuk diri sendiri, tiap orang pasti punya caranya sendiri menikmati kebebasan yang ada.

Baru sebulan ini aku tinggal di rumah sendiri. Rumah mungil yang alhamdulillah dengan rezeki dari-Nya bisa dibeli atas nama sendiri. Sebenarnya belum ada rencana pindahan, bahkan belum ada rencana untuk bermalam di rumah ini. Namun, karena akhir Februari lalu tiba-tiba harus operasi dan setelah pulang dari RS perlu istirahat yang lebih tenang, akhirnya “mengungsilah” ke rumah ini. Waktu itu di rumah ini belum ada perabot apa pun. Cuma ada kasur tipis dan selimut untuk tidur pada malam hari. Serta karpet dan meja kecil untuk kerja ndlosor pada pagi hingga sore hari.

Rasanya tinggal sendirian di rumah sendiri entah kenapa rasanya begitu berbeda. Rumah ini memang tidak besar. Terbilang mungil, bahkan belum ada dapur karena masih belum punya tabungan untuk memperbaiki ini itu. Pagar pun belum ada. Sisa tabungan awal tahun pun langsung kupakai untuk beli tempat tidur, satu meja, dan satu kursi. Yang penting bisa untuk istirahat dan kerja dengan lebih nyaman dulu. Ada hari-hari saat aku benar-benar tinggal sendirian saat orangtua ada keperluan dan harus pergi beberapa hari. Saat makan mengandalkan nasi putih yang ditanak di magic com, lauk serundeng yang awet untuk beberapa hari, mi gelas, dan beli makanan pakai jasa ojol. Sebulanan ini belum bisa keluar sendiri dan jalan jauh karena kondisi masih belum memungkinkan. Ada rasa takut dan was-was juga sendirian di rumah. Tapi, karena sendirian akhirnya ya satu-satunya orang yang bisa diandalkan ya diri sendiri.

Kalau nonton acara I Live Alone, selalu tertarik dengan cara orang-orang menikmati waktunya seorang diri. Mencari dan melakukan berbagai hal untuk menciptakan kebahagiaan sendiri. Ada yang punya hewan peliharaan di rumah, ada yang punya rutinitas untuk nge-gym, ada juga yang mencoba berbagai hobi seperti memasak, berkebun, hingga membuat perabot sendiri. Sendirian bukan alasan untuk galau karena kesepian. Justru mungkin karena mumpung masih sendiri akhirnya bisa punya kebebasan melakukan hal-hal yang ingin dilakukan.

Dulu sekali memang pernah merantau di Bandung dan ngekost selama beberapa bulan. Menjalani rutinitas seorang diri pada awalnya tidak mudah. Tapi lama-lama akhirnya terbiasa. Sepertinya kita memang perlu punya pengalaman menjalani hidup sendirian supaya bisa lebih memahami karakter dan kebutuhan sendiri.

Ngomong-ngomong soal kebutuhan, tampaknya hal-hal yang kita butuhkan untuk menjalani keseharian pada dasarnya tidak terlalu banyak. Baju secukupnya, makanan secukupnya, tempat istirahat secukupnya, dan ruang untuk bekerja secukupnya. Sebagian besar baju dan barangku saat ini masih ada di rumah orangtua. Tapi ternyata dengan sedikit baju dan barang, aku masih bisa menjalani hari dengan cukup nyaman. Baju yang baru dipakai langsung dicuci lalu dijemur, setelah kering, disetrika, lalu dipakai lagi. Stok makanan disiapkan secukupnya. Semangkuk nasi, semangkuk sayur, dan sepiring kecil lauk sudah cukup mengenyangkan perut selama seharian. Untuk kebutuhan mendapat berita dan hiburan, tinggal pakai ponsel dan laptop. Air dan listrik lancar. Koneksi internet stabil. Untuk saat ini, semua kebutuhan itu sudah cukup untuk membantuku “berfungsi” dalam menjalani rutinitas.

Meski ya memang kesulitan tinggal sendirian adalah saat tiba-tiba ada yang tidak beres. Seminggu yang lalu, aku sempat panik karena pompa air tiba-tiba macet. Saat itu, bapak masih di luar kota. Sempat sedih juga kalau nggak bisa dapat air untuk beberapa hari. Akhirnya, aku coba otak-atik kabelnya (sesuai arahan bapak), dan alhamdulillah pompa air berfungsi kembali.

Saat ini aku tinggal di perumahan yang areanya sebenarnya tidak terlalu luas. Bahkan ada beberapa rumah yang masih dalam tahap pembangunan. Rumah di kiri dan kanan pun belum dihuni. Aku pun belum kenal tetangga di sekitar sini. Hingga saat ini merasa cukup nyaman bisa tinggal sendiri di rumah sendiri. Bakal ada beberapa hal yang perlu dibenahi lagi ke depannya, tapi pelan-pelan dulu. Bisa tidur lebih nyenyak tanpa suara dangdut koploan dari tetangga (seperti di rumah sebelumnya) saja ini sudah sangat bersyukur. Belum ada rencana untuk mendekorasi kamar atau menata yang lainnya karena masih ngumpulin tabungan lagi, hehe. Semoga ada rezeki lagi ke depannya untuk merapikan banyak hal lainnya.

Dengan sendirian, kita bisa lebih memahami diri sendiri dan punya ruang yang lebih luas untuk memikirkan banyak hal. Pelan-pelan menata ulang prioritas hidup supaya bisa menciptakan lebih banyak manfaat ke depannya. Syukuri semua yang sudah ada terlebih dahulu, lalu pelan-pelan perjuangkan satu per satu impian yang ada. Alhamdulillah, bismillah.