cr: pexels.com/@bentonphotocinema

Waktu sungguh cepat berlalu. Terlebih bila aktivitas yang dilakukan berisi serangkaian rutinitas yang berulang. Repetisi demi repetisi kegiatan yang mengisi hari pun membuat waktu seakan cepat berlalu. Mungkin karena hal ini juga yang membuatku merasa waktu yang kulewati seakan berpendar terlalu cepat. Terlalu monoton rutinitas ini. Detik demi detik seakan tidak terasa. Baru tersadar ketika diingatkan kembali akan angka-angka pada kalender yang senantiasa berubah lekuk.

Takaran waktu tak pernah berubah sejak dahulu. Setidaknya satu menit masih memuat 60 detik. Satu minggu masih merangkum tujuh hari. Hanya saja rasanya akhir-akhir ini waktu berlalu begitu cepat. Mungkin penyebab utamanya seperti yang sudah disebutkan tadi, hari-hari yang dilalui terlalu monoton. Justru karena segalanya seakan terasa sama maka perubahan dan pergeseran waktu seakan tidak terasa.

Waktu dua jam yang dihabiskan untuk duduk di depan laptop untuk bekerja dan naik pesawat untuk pergi ke negeri seberang misalnya. Rasanya pasti sangat berbeda. Waktu yang dihabiskan dengan hanya berada di satu tempat bisa terasa begitu cepat dan tak meninggalkan bekas apa-apa. Sedangkan waktu yang dihabiskan untuk membawa kita pindah dari satu tempat ke tempat yang lain terasa begitu “pekat”, seakan ada ingatan baru yang tercetak dalam kenangan. Sesuatu yang kita lakukan dalam mengisi sebuah dimensi waktu bisa menghadirkan warna tersendiri.

Semakin bertambah usia rasanya perjalanan waktu yang dilalui pun seakan terasa sekejap. Rasanya baru kemarin merasakan deg-degannya masuk sekolah. Rasanya baru hari lalu merasakan kebersamaan menghabiskan waktu bersama teman-teman menikmati jam pulang sekolah yang lebih awal dari biasanya. Rasanya baru tadi merasakan wisuda kuliah. Baru kemarin menghabiskan hari-hari dengan berbagai aktivitas sekolah dan kampus. Baru kemarin merasakan jatuh cinta. Baru saja menghadiri pernikahan-pernikahan. Baru saja menyambut kelahiran-kelahiran. Semua terasa masih baru. Seakan itu semua kenangan baru padahal yang terjadi sebenarnya adalah semua itu sudah ada jauh di belakang dan menjadi bagian dari ingatan masa lalu.

Sampai ketika kita dihadapkan pada diri kita sendiri, barulah muncul pertanyaan. Ke mana saja kita selama melewati waktu-waktu yang telah berlalu? Ada di mana saja kita selama ini? Ikatan-ikatan apa saja yang sudah menjadi simpul pada kehidupan kita?

Detik waktu memang seperti butiran pasir yang selalu lolos dari sela-sela jari setiap kali kita berusaha menggenggamnya.

Meminta waktu untuk berhenti pun rasanya mustahil. Memutar waktu kembali ke belakang pun tak mungkin bisa dilakukan. Yang ada waktu akan terus bergulir ke depan. Menggiring kita pada jumlah detik yang kian bertambah. Menggiring kita pada kenyataan bahwa usia semakin menua. Mengingatkan kita bahwa orang-orang terdekat kita juga semakin bertambah usia.

Menyesali yang telah berlalu pun rasanya akan percuma. Menoleh ke belakang boleh saja, tapi sejenak saja. Hidup masih memiliki liku panjang di depan. Pastinya akan ada hal-hal yang lolos dari genggaman tangan kita. Akan ada hal-hal baru yang mungkin akan membuat kita kembali kecewa. Namun, selama masih ada waktu, kita jalani sebaik-baiknya. Entah itu menjalaninya dengan repetisi rutinitas atau variasi warna yang berbeda setiap kalinya.

Kita sibuk menghitung waktu, tapi sering melewatkan pentingnya mengisi setiap masanya dengan hal-hal yang bermakna. Itu yang masih sering saya lakukan dan semoga saya masih punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan.