cr: pexels.com/@bongkarn-thanyakij-683719

Bagaimana rasanya bekerja dari rumah? Hm, sebenarnya tak bisa dibilang tak nyaman. Aku menjalaninya dengan cukup biasa. Ya, rasa bosan memang ada tapi masih bisa diatasi. Bahkan semestinya aku bersyukur karena masih bisa mendapat keleluasan bekerja dari rumah di tengah pandemi ini.

Tak pernah menyangka tahun ini pandemi virus korona begitu mengkhawatirkan. Anak-anak sekolah belajar dari rumah, para guru dan dosen mengajar dari rumah, para karyawan bekerja dari rumah, dan berbagai aktivitas yang jika masih bisa dilakukan dari rumah maka sebaiknya dari rumah saja. Sebisa mungkin menjauhkan diri dari kerumunan. Semaksimal mungkin menjaga diri sebaik-sebaiknya agar tak tertular atau menularkan. Semoga keadaan segera membaik dan segalanya kembali normal, meski memang rasanya masih was-was.

Sejak tanggal 17 Maret 2020, aku bekerja dari rumah. Namun, sebelum “disuruh kantor” untuk bekerja dari rumah, pada awal Maret aku sudah bekerja dari rumah selama seminggu. Setelah operasi dan pulang ke rumah, keesokan harinya aku sudah kembali bekerja tapi bekerja dari rumah. Andai bisa, sebenarnya masih ingin rebahan, hehe, karena luka bekas operasi masih sakit dan proses pemulihannya ternyata cukup lama untuk mengembalikan kondisi sendi seperti sedia kala. Cenut-cenutnya sungguh bikin nggak nyaman. Dokter menyuruhku untuk lebih banyak jalan agar bisa lebih cepat pulih, tapi agak sulit dilakukan saat aku sudah harus madep leptop lagi. Belum lagi saat itu belum punya meja dan kursi, akhirnya bekerja harus dengan melantai beralas karpet.

Selama sebulanan ini, aku nggak kemana-mana. Hanya seminggu sekali masih harus keluar untuk ke dokter. Bekerja dari rumah, semua hal dilakukan di rumah. Melakukan segala hal di rumah sebenarnya bukan “siksaan”. Pada dasarnya aku memang anak rumahan. Untuk bisa menghibur diri pun cukup rebahan, hehe. Aku juga nggak punya hobi nongkrong atau ngafe kalau nggak ada acara khusus. Jadi, ya tidaklah terlalu sulit untuk menjalani rutinitas bekerja dari rumah.

Enam tahun lalu, aku pernah bekerja sebagai freelancer. Praktis saat itu bekerja pun hanya di rumah saja. Jarang keluar rumah karena kerja dan nggak kerja tetap di rumah. Sampai sering dikira pengangguran, hehe. Bekerja dari rumah pun bukan sesuatu yang asing bagiku.

Tidaklah terlalu sulit membagi waktu dan mendisiplinkan diri bekerja selama di rumah. Selama ngantor aku masih kerja sampingan. Pekerjaan sampingannya pun dilakukan di rumah. Rutinitas di kantor kerja dan di rumah kerja pernah kulakoni selama beberapa waktu. Namun, tahun ini agaknya aku memang perlu mengurangi porsi kerja. Biar ada waktu buat cari jodoh (eh?).

Mengatasi Rasa Bosan

Pastinya ada rasa kangen ketemu temen kantor. Muncul rasa kangen jalan kaki sore dari kantor menuju tempat menunggu angkot. Rasa bosan pun ada. Namun, masih bisa diatasi. Punya banyak kesempatan untuk mengatur waktu sendiri sehingga bisa mengisi ulang energi tubuh dengan lebih mudah. Banyak hal yang bisa dilakukan sendiri sehingga bisa tetap merasa baik-baik saja selama di rumah.

Bangun pagi, mandi, sarapan, kerja dari rumah, diselingi makan dan salat, lalu kerja sampai sore. Kurang lebih seperti itu rutinitasku. Untuk mengatasi rasa bosan tidaklah terlalu rumit. Tinggal diselingi nonton YouTube, nonton drama, nonton variety show, nyanyi sendiri, dan rebahan. Sebenarnya memasak atau membuat jajanan sederhana adalah aktivitas kusuka untuk mengatasi rasa bosan. Tapi karena saat ini belum punya dapur di rumah sendiri, akhirnya porsi rebahan jadi lebih banyak dilakukan untuk mengatasi rasa bosan.

Oh, tidur siang pun jadi aktivitas yang cukup ampuh dan menyenangkan untuk mengatasi rasa bosan. Setelah sekian lama jarang tidur siang, selama bekerja dari rumah jadi punya kesempatan untuk istirahat lebih baik.

Mengurangi Rasa Was-Was

Seorang teman melalui teksnya mengatakan dirinya sebenarnya biasa saja dengan melakukan segala sesuatu di rumah, tapi kali ini yang bikin tidak tenang adalah karena rasa was-was. Untuk pergi ke supermarket terdekat saja harus berpikir dua kali. Perasaan was-was ini jelas yang bikin kita semua tidak nyaman. Mau beraktivitas di luar rumah, sekadar untuk belanja barang kebutuhan pun jadi tidak tenang.

Setiap kali melihat dan membaca berita tentang pandemi virus korona, ada perasaan cemas tersendiri. Saat ada anggota keluarga yang bepergian pun jadi bikin khawatir. Ketika merasa tubuh sedikit tidak enak badan, langsung muncul rasa panik. Berusaha menjaga ketenangan supaya tidak terlalu was-was kadang memang tak mudah. Hanya bisa berusaha sebaik mungkin menjaga diri dan berdoa semoga keadaan segera kembali normal.

Nggak Liburan Dulu, Nggak Apa-Apa

Tahun ini aku sendiri belum punya rencana untuk liburan kemana-mana. Tahun lalu sudah cukup punya kesempatan untuk liburan ke sejumlah tempat, tahun ini sepertinya belum bisa kemana-mana lagi. Selain memang belum ada tabungan liburan lagi, awal tahun ini entah kenapa rasanya masalah datang silih berganti. Satu masalah beres, muncul masalah lain. Mendadak harus “staycation” di RS pula. Memang bikin stres tapi sepertinya memang belum saatnya untuk liburan yang jauh-jauh.

Di tengah kondisi yang seperti ini, nggak liburan dulu, nggak apa-apa. Saatnya untuk memanfaatkan lebih banyak waktu mengatur dan menata kembali beberapa hal penting dalam hidup. Kerja dan istirahat yang cukup. Memulihkan kondisi sampai benar-benar sehat dulu. Menyelesaikan masalah satu per satu. Berdamai dengan keadaan.

Disyukuri Saja

Hari-hari bekerja dari rumah, jadi lebih setia pakai celana pendek dan kaos pendek setiap hari. Bekerja dari rumah, ya sudah dinikmati saja. Mumpung bisa kerja dari rumah, jadi ya sudah dijalani saja. Justru perlu disyukuri masih bisa bekerja dari rumah. Di tengah kondisi pandemi ini, banyak orang yang mengalami kesulitan. Banyak hal yang harus disesuaikan. Semoga yang masih berjuang, dimudahkan jalan rezekinya. Yang masih bisa bekerja, semoga dilancarkan pekerjaannya. Yang mengalami kesulitan, semoga dibukakan pintu-pintu jalan keluarnya.

Banyak rencana yang akhirnya tertunda atau batal. Seorang sahabat yang berencana melangsungkan resepsi pernikahan tanggal 5 April ini terpaksa mengundurkan jadwalnya entah sampai kapan. Rencana untuk kumpul bersama beberapa teman dekat diundur. Sejumlah acara pun batal. Semua perlu jaga jarak demi kebaikan bersama. Saat ini kesibukanku pun hanya seputar di dalam rumah. Ponsel, laptop, dan kasur jadi teman terbaik untuk saat ini. Oh, serta kursi dan meja sederhana yang menolongku untuk tidak ndlosor lagi saat bekerja dengan laptop, hehe.

Untuk saat ini, satu harapan terbesar adalah semoga keadaan segera membaik. Aamiin.