cr: pexels.com/@pixabay

Pagi tadi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya disanguni. Sejak lulus kuliah dan mulai cari duit sendiri, rasanya sudah tak pernah lagi disanguni. Saat Lebaran misalnya, sudah tak lagi dapat “salam tempel”, hehe. Sampai tadi pagi saya dikasih sangu oleh seorang kolega bapak yang sudah lama pensiun. Beliau datang jauh-jauh dari rumahnya untuk mengunjungi rumah beberapa koleganya, termasuk menemui bapak. Beliau yang sudah sepuh tidak diantar dan tidak naik kendaraan sendiri, tapi naik angkot. Saat mau salim dengan beliau yang hendak pulang, eh saya disanguni Rp50 ribu. Entah kenapa rasanya bahagia sekali.

Disanguni Rp50 ribu.

Sejak bapak pensiun, rutinitasnya tak lagi sibuk dinas atau berseragam rutin. Sesekali bapak mengunjungi koleganya yang sudah pensiun. Tak jarang pula ada beberapa kolega bapak sesama pensiunan yang sengaja datang berkunjung ke rumah. Tak ada agenda kunjungan khusus. Hanya menyambung tali silaturahmi. Sekadar bertukar kabar dan mendoakan untuk sehat selalu.

Dari sebuah pekerjaan yang ditekuni, ada ikatan-ikatan baru yang bisa terbentuk. Kenalan baru dan kolega baru. Tak semuanya baik. Namun, tak sedikit pula yang berhati indah. Ada yang kemudian menjalin hubungan sudah seperti layaknya kerabat dan keluarga dekat. Setiap kesan yang ditinggalkan dalam pekerjaan yang ditekuni bisa memberi dampak tersendiri.

Kadang saya bertanya-tanya, apakah kelak ketika saya sudah tua, akan ada teman-teman dan kolega kerja yang sengaja datang jauh-jauh berkunjung ke rumah? Apakah saya akan masih diingat oleh teman-teman yang pernah sekantor dengan saya? Akankah mereka masih mau jauh-jauh mengunjungi saya sekadar untuk bertanya kabar dan mendoakan untuk senantiasa sehat?

Sebuah pekerjaan yang kita pilih dan tekuni bisa memberi kita kesejahteraan. Menjadi jalan untuk membuka berbagai pintu rezeki. Tak hanya rezek materi, tetapi juga rezeki bertemu dengan orang-orang baik hati. Entah apakah saya bisa mendapatkan kolega yang kelak akan terus mengingat saya. Entah apakah saya masih akan diingat lima, sepuluh, hingga puluhan tahun ke depan oleh teman yang pernah bekerja atau sekantor dengan saya.

Saat melihat ada tamu datang ke rumah mencari bapak dan ternyata tamu tersebut dulunya adalah rekan yang pernah bekerja dengan bapak, muncul perasaan hangat tersendiri. Ah, seperti ini mungkin rasanya jika dikunjungi teman lama. Seperti ini suasananya jika bisa bertemu dengan kawan lama yang masih mengingat kita. Sengaja datang jauh-jauh demi bisa kembali berjabat tangan atau bertukar pelukan hangat. Mengenang kembali pengalaman-pengalaman yang pernah dirasakan saat bekerja dulu.

Saya mungkin belum bisa menjadi teman kerja yang baik untuk orang-orang di sekitar saya. Karakter dan kepribadian saya bisa jadi tak bisa diterima semua orang. Saya pun tak bisa menuntut semua orang harus bisa memahami saya. Namun, saya tetap berharap dari pekerjaan yang saya tekuni bisa meninggalkan jejak dan memberi arti pada orang-orang di sekitar saya. Dari waktu ke waktu, saya masih menemukan kesulitan untuk menjaga ritme dan temperamen dalam bekerja. Masih banyak kekurangan yang saya punya.

Semoga apa pun pekerjaan yang kita tekuni saat ini bisa menghadirkan kebaikan. Bisa menciptakan ikatan-ikatan yang akan terus ada dan dikenang hingga tua. Semoga ada jejak-jejak baik yang bisa kita tinggalkan dari pekerjaan yang kita lakukan saat ini. Serta semoga kita selalu dipertemukan dengan orang-orang baik di lingkungan kerja kita.