cr: unsplash.com/@nicolehoneywill

Masih ingat besarnya gaji pertama yang didapat? Mungkin dari pekerjaan sambilan yang dulu pernah dilakukan sembari kuliah. Bisa juga dari pekerjaan pertama yang didapat setelah lulus kuliah. Gara-gara lagi ramai soal #gaji8jt akhirnya saya pun jadi gatel ingin membahas soal ini juga, hehe.

Pertama kali dapat gaji itu tahun 2011 dari pekerjaan kantoran pertama yang saya dapat setelah lulus kuliah. Setelah yudisium dan masih menunggu waktu wisuda, saya mendapat pekerjaan pertama saya sebagai editor buku di kota Bandung. Itu pekerjaan kantoran pertama yang saya lakoni. Berapa gaji yang didapat waktu itu? Sebenarnya agak lupa dengan nominalnya, tapi kalau tidak salah sekitar Rp1 juta lebih dikit. Cukupkah uang segitu untuk bertahan hidup di perantauan sendirian? Waktu itu sih cukup. Dengan memaksimalkan makan siang yang disediakan di kantor dan ngekos di tempat yang jaraknya tinggal jalan kaki dari kantor, gajinya bisa dibilang dicukup-cukupin. Saya sendiri waktu itu tak terlalu memusingkan soal gaji, sebab target saya untuk bisa dapat pekerjaan sebelum wisuda sudah terpenuhi.

Selama kuliah saya tidak pernah mengambil pekerjaan sambilan. Praktis gaji pertama saya dapat dari pekerjaan pertama setelah lulus kuliah. Selama kuliah alhamdulillah dapat beasiswa penuh selama empat tahun. Dapat uang saku tiap bulan dan SPP pun gratis. Dari situ saya merasa tidak perlu cari tambahan uang dari bekerja sambilan, ini sih sayanya saja yang malas ya. Walau hal itu saya sesali kemudian sebab tanpa punya pengalaman kerja sambilan jadinya malah kagok saat akhirnya kerja betulan di kantor. Andai bisa memutar waktu kembali ke masa kuliah, saya mungkin akan memanfaatkan waktu liburan semester dan banyaknya waktu luang yang ada untuk kerja atau melakukan hal yang lebih bermanfaat, bukan cuma main-main nggak jelas. Baru kerasa sekarang setelah nyemplung di dunia kerja bahwa waktu luang itu sungguhlah berharga.

#gaji8jt

Tagar #gaji8jt muncul setelah heboh soal seorang fresh graduate UI yang menolak pekerjaan bergaji Rp8 juta yang menurutnya nggak pantes untuk seorang lulusan universitas ternama. Ya sih terserah dia juga mau menolak atau menerima pekerjaan itu. Saya sendiri dari pekerjaan pertama saya malah kurang memerhatikan perkara gaji padahal sebenarnya penting juga memastikan gaji yang didapat sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan. Ketika sempat memutuskan untuk menjadi pekerja lepas pun, saya tidak terlalu memusingkan penghasilan meski memang belakangan saya akui bahwa kerja keras saya sebenarnya bisa dihargai lebih mahal, duh kok malah sombong ini.

Mencari pekerjaan yang pas di hati selalu ada tantangannya sendiri. Ada pekerjaan yang memberi gaji tinggi tapi beban dan tanggung jawabnya pun tak kalah tinggi. Ada pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan tapi gaji yang ditawarkan tak sesuai ekspektasi. Belum lagi dengan praktik nepotisme yang masih banyak terjadi di berbagai instansi terkait penerimaan pegawai baru. Makin mumet lah mencari pekerjaan yang bisa bikin hati tenang.

Latar belakang “lulusan mana?” memang cukup memengaruhi penilaian orang lain terhadap kita. Dulu di kantor saya yang sebelumnya, saya pernah dipandang sebelah mata karena dianggap bukan lulusan dari universitas mentereng padahal orangnya nggak tahu saja kalau jurusan yang saya masuki passing grade-nya tinggi (jujur waktu itu sebel banget, hehe). Malah banyak yang belum tahu kepanjangan yang sesungguhnya dari kampus saya, UM. Ada yang sering salah sebut kepanjangan UM. Seperti dikira Universitas Muhammadiyah, Universitas Islam, hingga Universitas Merdeka. Padahal yang benar adalah Universitas Negeri Malang (lalu muncul lagi pertanyaan kenapa tidak disingkat UNM, ya karena UNM itu punyanya Universitas Negeri Makassar). Kayaknya memang mungkin singkatannya diganti jadi UMang saja ya biar nggak salah sebut lagi, hehe.

Iya sih kadang faktor kampus tempat kuliah kita dulu bisa memengaruhi penilaian orang lain tentang kualifikasi kita. Belum lagi bila berkaitan dengan akreditasi kampus, persyaratan bisa ikut seleksi bila berasal dari kampus dengan akreditasi tertentu juga memengaruhi bisa diterima tidaknya kita bekerja di sebuah instansi. Tapi tentu saja ada banyak faktor lain yang lebih penting untuk bisa diterima bekerja di sebuah tempat.

Nggak bisa dipungkiri bahwa kita punya kebutuhan untuk dipenuhi. Harga barang-barang makin mahal. Menyekolahkan anak juga butuh biaya yang tidak sedikit. Untuk beli rumah sendiri pun rasanya makin bikin puyeng. Punya pekerjaan yang bisa memberi gaji tinggi menjadi salah satu impian terbesar untuk bisa survive di hidup yang makin pelik ini. Saat ini saya sendiri masih bekerja sebagai pegawai tapi juga nyambi mengambil pekerjaan sampingan. Beberapa waktu terakhir ini saya sudah tidak banyak mengerjakan pekerjaan sambilan karena butuh istirahat jiwa dan raga. Kalau dulu saya bisa begadang berhari-hari dan bekerja di akhir pekan untuk memenuhi tenggat waktu dari pekerjaan sampingan, sekarang saya mau lebih berbaik hati pada diri sendiri. Inginnya setiap pulang kantor, langsung istirahat saja. Nggak lagi kerja di kantor kerja di rumah lagi. Tiga bulan lalu sempat dapat project yang sangat menguras tenaga dan bikin burned out. Maka dari itu, untuk beberapa waktu terakhir ini saya cukupkan diri bekerja sesuai jam kantor. Tidak perlu dilebihkan lagi.

Apakah sekarang bisa dapat #gaji8jt per bulan? Alhamdulillah tahun ini saya bisa mendapatkan penghasilan lebih dari itu pada beberapa kesempatan. Tapi ya itu tadi, kalau mau dapat penghasilan yang berlipat, jam kerja juga perlu ditambah makin berlipat lagi. Penghasilan nambah, stres juga nambah. Uang yang masih ke rekening nambah, sakit dan nyeri di badan juga nambah. Mencapai work life balance masih cukup sulit untuk saya sendiri. Maunya sih setiap hari nggak perlu kerja tapi uang langsung mengalir banyak ke rekening, haha. Tampaknya memang saya perlu membuat sejumlah perubahan dalam hidup saya. Usia makin bertambah, prioritas berubah. Ada beberapa hal yang sepertinya sudah saatnya diubah. Berganti pekerjaan? Fokus pada satu pekerjaan saja yang bisa memberi penghasilan besar? Atau tetap kerja kantoran yang dibarengi dengan kerja sambilan? Hm, saya belum membuat keputusan akhir untuk hal tersebut.