cr: pexels.com

Tadinya punya rencana bakal rutin ngeblog setiap hari selama bulan Ramadan. Tapi ya rencana tinggal rencana. Kenyataannya baru nulis lagi di blog saat libur. Yang jelas bulan Ramadan kali ini sangat berbeda dari Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Selama sebulan ini pula saya masih menjalani work from home akibat pandemi covid-19. Selama sebulan ini pula saya sahur sendirian karena tinggal di rumah sendiri, meski setiap berbuka puasa alhamdulillah masih bersama ibuk dan bapak. Hari-hari dan rutinitas belakangan ini hanya di rumah saja. Menghabiskan banyak waktu dengan diri sendiri, rasanya ada banyak hal yang memang masih harus diperbaiki pada diri sendiri.

Banyak hal yang kenyataannya masih harus saya perbaiki dari diri sendiri. Berdamai dengan kenyataan dan hal-hal yang tak menyenangkan jelas tak mudah. Menerima ujian-ujian baru dalam hidup pun membuat hidup rasanya sudah tidak ada harapan lagi. Menghadapi hal-hal baru dan tak biasa menjadi sesuatu yang membuat diri tak nyaman tapi tetap perlu dijalani.

Selama ini saya merasa masih sering fokus pada hal-hal di luar diri saya. Saat ada seseorang yang membuat saya terluka, saya langsung menyalahkan segalanya padanya. Hal itu pun malah membuat perasaan makin tak nyaman. Setiap kali teringat akan kesalahan yang dia lakukan, rasa kesal dan sakit hati kembali menjalar. Capek. Saya terlalu memfokuskan energi saya pada rasa kesal dalam diri saya kepadanya. Padahal yang semestinya saya lakukan adalah menenangkan diri saya terlebih dahulu. Semestinya saya fokus pada mengobati luka saya terlebih dahulu dan bukannya terus melampiaskan kekesalan pada seseorang yang mungkin tak sadar dirinya sudah menciptakan luka yang dalam pada orang lain. Tidak lagi menyimpan rasa kesal dan dendam, melainkan belajar untuk memaafkan meski harus perlahan.

Menahan diri untuk tidak terlalu sering melihat ke atas maupun ke bawah. Lebih fokus melihat ke dalam diri sendiri. Tidak membandingkan keberuntungan atau kemalangan diri dengan orang lain. Fokus pada mensyukuri semua yang sudah ada dan tetap berusaha mewujudkan berbagai impian dan keinginan. Kadang saya masih sering lupa bahwa ada Allah SWT yang akan selalu menyertai setiap langkah ini. Kadang saya masih belum sepenuhnya percaya dan yakin akan kekuasaaan dan kehebatan Allah SWT. Berusaha adalah kewajiban setiap manusia. Berdoa adalah kebutuhan kita semua. Masih ada banyak hal yang belum benar-benar saya syukuri dalam hidup dan malah menuntut atau menghakimi-Nya atas hal-hal yang tidak saya kehendaki di dunia ini. Padahal saya pun hanya seorang hamba. Ada hal-hal yang berada di luar kendali saya. Namun, bukan berarti saya harus putus asa atau menyerah menghadapi sebuah keadaan. Saya perlu lebih fokus menjalani dan menyelesaikan setiap ujian dengan lebih sabar lagi. Dengan begitu, saya berharap bisa menjadi hamba yang dicintai-Nya.

Hampir tiga bulan ini semua rutinitas berpusat di rumah saja. Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan bekerja dari rumah. Justru mungkin kesempatan ini datang pada saat yang tepat. Pada saat saya butuh rehat. Sejumlah ujian yang cukup berat sungguh menguras tenaga pada awal tahun ini. Menghabiskan waktu di rumah saja membuat saya seakan kembali mengumpulkan kepingan-kepingan dari dalam diri saya. Menyatukan kembali hal-hal yang sebelumnya sempat berserakan dan tak beraturan. Melewati malam-malam yang hening untuk bisa menemukan kenyamanan baru bercerita kepada-Nya.

Tentu saja saya ingin kembali berakivitas normal. Normal dalam artian bisa lebih leluasa keluar rumah. Ingin bisa kembali berjalan-jalan. Melihat langit di belahan dunia lain. Melihat keramaian dan hiruk pikuk daerah lain. Menikmati sinar matahari dari ketinggian yang lain. Menemukan pengalaman-pengalaman baru menjelajahi tempat-tempat yang selama ini hanya bisa dilihat dua dimensi. Semoga keadaan bisa segera membaik dan bisa memudahkan langkah ini untuk bisa menapaki tempat-tempat baru.

Sudah saatnya saya untuk lebih fokus pada orang-orang yang sudah jelas menyayangi saya tanpa syarat. Orang-orang yang selalu ada untuk saya. Memang ada rasa sedih saat beberapa orang yang dulunya begitu dekat perlahan sudah makin menjauh dan tidak bisa dijangkau. Rasanya begitu sepi saat lingkaran ini menyempit. Namun, bukan itu yang seharusnya saya pikirkan. Saya perlu lebih fokus pada orang-orang yang selama ini selalu ada untuk saya. Belum banyak hal yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan dan membuat mereka bangga. Seiring bertambahnya usia dan rambut mereka yang makin memutih, saya tahu saya harus berusaha lebih keras untuk membahagiakan mereka. Tak perlu terlalu fokus dan menghabiskan energi pada hal-hal yang membuat hati makin sedih. Perbanyak doa saja untuk bisa mendapat kemudahan jalan untuk bisa membahagiakan mereka. Allah SWT pasti akan bantu. Dia pasti akan menolong dan memudahkan semua jalan.

Ada hal-hal yang belum tercapai dalam hidup ini. Namun, ada juga hal-hal yang sudah tercapai. Walau kadang rasanya menyesal belum bisa mencapai sejumlah keinginan dan impian, saya tahu saya seharusnya lebih fokus menjalani hidup yang ada saat ini dengan sebaik-baiknya dulu. Sembari tetap mengusahakan yang terbaik mewujudkan hal-hal baru dalam hidup. Menyesal secukupnya saja. Sedih dan menangis secukupnya saja. Setelah itu, perlu kembali menguatkan diri untuk bisa kembali berdiri dan melangkah ke depan.

Sebelum menyalahkan seseorang atas sikapnya, perlu terus mengingatkan diri untuk bercermin melihat sikap sendiri. Karena kita tak bisa mengendalikan atau mengatur sikap orang lain terhadap kita. Tapi kita bisa mengondisikan reaksi kita terhadap sikap tersebut. Apakah mudah? Jelas tidak. Tapi setidaknya perlu diusahakan. Perlu ganti mana yang harus diberi perhatian atau fokus utama supaya tidak salah jalan atau membuat keadaan makin tak nyaman.

Bangun pagi menjadi hal yang cukup sulit saya lakukan belakangan ini. Namun, alhamdulillah selama bulan Ramadan ini tak pernah terlambat bangun sahur. Allah permudah dengan selalu membangunkan saya untuk bisa selalu makan sahur. Rupanya memang saya tidak perlu terlalu fokus pada menuruti rasa malas atau enggan untuk bangun pagi. Melainkan perlu fokus pada niat untuk bisa bangun pagi. Semoga saya bisa membangun kebiasaan yang lebih baik dan terus disiplin melakukannya dengan lebih baik lagi ke depannya.

Mengatur fokus ini bagi saya akan menjadi proses yang panjang. Pastinya tidak selalu mudah untuk mengatur fokus pada hal-hal yang lebih baik. Seperti seringkali saya lupa bahwa ketika menghadapi masalah, saya tak boleh fokus pada besarnya bayangan masalah tersebut. Bisa jadi titik masalahnya kecil hanya bayangannya saja yang besar. Sehingga saya terlalu cemas dan kehilangan akal sehat dalam mengatasi dan menghadapinya. Saya perlu lebih sering mengingatkan diri untuk fokus meyakinkan diri bahwa ada Allah yang akan permudah segalanya. Ada Allah yang membantu menyelesaikan setiap masalah yang ada. Dari setiap ujian, ada hikmah yang pasti bisa didapat. Dari setiap ujian yang kita hadapi, Allah akan bantu menghapus dosa-dosa kita saat kita bisa menghadapi dan mengatasi ujian itu dengan sabar. Allah Maha Baik.

Saya tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tentu saja ada kekhawatiran dan kecemasan yang kadang masih menghantui. Cemas kalau akan ada ujian-ujian yang lebih berat yang harus dihadapi. Namun, saya sebaiknya tidak fokus pada rasa negatif itu. Sudah saatnya saya lebih fokus menjalani hari-hari yang ada saat ini untuk bisa lebih baik dari sebelumnya. Mengusahakan berbagai hal dengan lebih sungguh-sungguh. Tak lupa untuk senantiasa bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Allah pasti akan mudahkan jalan. Pasti akan selalu ada cahaya yang senantiasa menyertai kita selama kita yakin.