cr: pexels.com/@daria

Gimana cara mengatasi stres? Gimana biar pikiran tenang saat dilanda kecemasan, kegundahan, dan kebingungan yang tak berkesudahan? Saat otak rasanya begitu sesak, kadang membayangkan akan menyenangkan rasanya bila otak bisa dikeluarkan sebentar, dicuci, lalu dibilas untuk kembali bersih. Setelah itu dikembalikan ke tempat semula. Agak ngeri juga sih membayangkannya, tapi ya namanya mengkhayal boleh saja kan, ya. Saat sedang banyak pikiran atau sedang stres, cara apa yang paling ampuh untuk mengatasinya? Adakah cara yang tepat untuk “mencuci otak”?

Saat sedang banyak pikiran, biasanya yang paling saya butuhkan adalah melampiaskannya. Melampiaskannya bisa dengan berbagai cara. Bahkan beberapa cara yang saya lakukan cenderung untuk berusaha mengeluarkan yang menyesakkan pikiran. Saat ada banyak deadline pekerjaan yang perlu diselesaikan, masalah yang belum ketemu jalan keluarnya, hingga situasi yang menghadirkan perasaan cemas tak berujung, biasanya saya akan “mencari ruang dan membuat jarak” terlebih dahulu.

Merapikan Sesuatu

Saat pikiran sedang ruwet, saya butuh perantara untuk menguraikannya. Seringkali merapikan sesuatu bisa cukup ampuh meredakan pikiran yang terasa penuh. Entah merapikan buku-buku, merapikan meja kerja, atau merapikan file di laptop. Rasanya saat bisa melakukan kegiatan rapi-rapi, yang ada di isi pikiran itu tertata rapi. Setidaknya energi yang tadinya terasa sesak dan bikin stres bisa tersalurkan untuk melakukan sesuatu yang cukup bermanfaat. Bahkan merapikan isi galeri foto di ponsel pun bisa cukup efektif mengurai rasa sesak di dalam kepala.

Mengeluarkan Air Mata

Film atau drama sedih biasanya yang akan saya cari kalau sedang stres. Nonton video yang sedih-sedih di YouTube pun perlu. Setidaknya ada media atau perantara untuk nangis dan mengeluarkan air mata. Soalnya saat sedang sedih atau tertekan, sulit untuk memaksakan diri tertawa. Jadi, ya sudah nangis saja. Nangis sampai benar-benar capek, baru setelah itu biasanya bisa cepat tidur. Kalau sudah dapat tidur yang nyenyak, pikiran sudah terasa lebih ringan.

Jalan Kaki

Sebagian orang memilih bengong untuk menenangkan pikiran. Namun, bagi saya dengan isi pikiran yang bisa terasa begitu sesak, kadang terlalu lama bengong malah bahaya. Karena saat bengong, isi kepala rasanya makin kemana-mana, hehe. Biasanya saya butuh pelampiasan dengan jalan kaki. Jalan-jalan sampai pegel. Sengaja membuat tubuh lelah biar capek pikirannya bisa teralihkan ke yang lain. Sesuatu yang menumpuk di kepala rasanya bisa sedikit demi sedikit mencair saat tubuh digerakkan lebih aktif.

Menghindari Media Sosial

Media sosial nggak pernah sepi. Saat sedang butuh waktu untuk menenangkan diri, biasanya saya akan menjauh dari media sosial. Nggak buka aplikasinya untuk beberapa waktu. Menahan diri dari keinginan ngintip story orang lain. Meski kadang masih suka buka media sosial hanya untuk nge-like video-video kucing, haha!

Baca Buku atau Nonton Film Detektif

Baca buku masih menjadi kegiatan yang cukup ampuh untuk mengurai isi pikiran. Setidaknya energi yang ada bisa dialihkan untuk tenggelam dalam buku yang sedang dibaca. Nonton film detektif pun kadang saya lakukan. Sebagai pengalihan sejenak. Dari yang tadinya ruwet dengan pikiran sendiri, jadi ruwet ikut memecahkan kasus atau misteri yang ada dalam film. Ya, setidaknya nggak terus menerus ribet dengan isi pikiran sendiri.

Bikin Sesuatu

Saat sedang banyak pikiran kadang susah tidur dan nggak bisa tenang. Ada energi yang perlu disalurkan. Kalau sudah begini, kadang saya alihkan dulu untuk membuat sesuatu. Entah cuma bikin coretan atau sekadar membuat jurnal baru.

Saat pikiran sedang kacau dan stres nggak karuan, memang rasanya ingin punya kemampuan untuk “mencuci otak” seperti mencuci baju di mesin cuci. Setelah dibilas, bisa langsung bersih dan dipakai lagi. Sungguh nyaman, hehe.

Sepertinya cara paling ampuh untuk mengatasi stres adalah mencari sumber stresnya. Lalu, segera mencari solusi atau jalan keluar yang tepat. Misalnya, kalau stres karena deadline pekerjaan yang makin mepet, ya sudah saat itu juga perlu mengumpulkan lebih banyak energi untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Walau kadang memang praktik nggak semudah teori,