Tahun 2018 lalu saya awali dengan membuat paspor baru. Paspor lama saya sudah kedaluwarsa awal Januari 2018. Sebenarnya tak perlu buru-buru mengganti paspor, toh belum ada rencana ke luar negeri. Tapi mumpung bisa meluangkan waktu, akhirnya saya pun mengurusnya. Seperti pembuatan paspor lima tahun lalu, kali ini saya mengganti paspor masih di Kantor Imigrasi Malang.

Lima tahun lalu proses pembuatan paspor cukup ribet. Harus datang pagi-pagi sekali untuk bisa dapat nomor antrean paling awal. Kali ini bisa dibilang prosesnya lebih ringkas. Saya pun mencoba menggunakan aplikasi Antrian Paspor untuk mengganti paspor. Yup, karena Kantor Imigrasi Malang juga hanya menerima antrean yang melalui aplikasi, kecuali ada kasus-kasus khusus.

1. Menggunakan Aplikasi Antrian Paspor
Download aplikasi Antrian Paspor. Bikin akun. Lalu langsung cari kantor Imigrasi terdekat. Nanti akan muncul tanggal dan waktu yang kosong. Kita tinggal pilih tanggal yang pas. Lalu nanti kita diminta untuk memasukkan nama dan nomor KTP. Kalau berhasil dapat jadwal, nanti akan ada info detailnya termasuk barcode antrian.

Aplikasi Antrian Paspor.

Saya mendapat jadwal tanggal 22 Januari 2018 pukul 11.00 – 12.00. Begitu sampai di Kantor Imigrasi Malang, langsung saja masuk ke Ruang Informasi. Di sini, kita harus menunjukkan lembar bukti antrian online (harus di-print ya). Waktu itu saya pikir hanya perlu menunjukkan barcode di HP, tapi ternyata harus di-print. Lhaaa! Saya pun harus balik lagi ke rumah buat nge-print. Eh, tapi sebenarnya untuk nge-print bukti antrian ini nggak perlu jauh-jauh, bisa langsung ke koperasi yang ada di dekat kantor imigrasi sana.

Tunjukkan lembar antrian ini baru nanti akan dikasih map kuning.

2. Mendapat Map Kuning
Begitu sudah menunjukkan bukti antrean, kita akan ditanya petugas mau membuat paspor atau mengganti paspor. Lalu akan diberi map warna kuning. Di dalamnya ada surat pernyataan (bermaterai) dan formulir  yang harus diisi lengkap. Sudah ada panduannya di mading dekat Ruang Informasi, jadi tinggal “nyontek” saja.

Untuk proses penggantian paspor, cuma butuh dua syarat:
1. Foto kopi paspor lama.
2. Foto kopi e-ktp.

Semua bukti foto kopi dimasukkan dalam map kuning. Saya hanya melampirkan foto kopi paspor lama dan foto kopi e-ktp di dalamnya. Lalu, ke petugas “penjaga mesin antrean” untuk minta nomor antrean berikutnya.

Map kuning yang sudah diberi nomor antrean.

3. Mari Bersabar Menunggu dan Menunggu
Tadinya saya pikir karena jadwal antrean saya pukul 11.00 – 12.00, prosesnya bakal langsung beres pukul 12.00 itu. Tapi ternyata pukul 10.30 saya dapat nomor antrean 93 (dan saat itu antrean untuk ke Ruang Foto baru 20an). Akhirnya pun menunggu dan menunggu. Pukul 12.00 – 13.00 petugas pun istirahat. Jadi, saya kembali menunggu dan menunggu.

Ada tempat bermain anak.

Tapi tak perlu khawatir kelaparan. Ada kantin di dekat parkiran sepeda motor. Juga ada musholla. Ada juga tempat bermain untuk anak-anak (entah ini gratis atau harus membayar).

Saya pun baru masuk ke Ruang Foto sekitar pukul 14.30 dalam keadaan pusing (kelamaan di ruangan ber-AC) dan capek nunggu, hehe.

4. “Drama” dengan Petugas
Di Ruang Foto ada 6 meja (atau 5 ya?). Kita harus menyerahkan map kuning ke petugas, nanti petugas akan menginput data sementara kita masih harus menunggu lagi sebentar. Kalau sudah, baru kita akan dipanggil lagi oleh petugas untuk kemudian diwawancara.

Begitu nama saya dipanggil untuk wawancara, tadinya saya sudah tenang-tenang saja. Cuma ganti paspor saja, seharusnya cepat dan nggak ribet. Tapi entah kenapa si bapak petugas ini rada “aneh”.

Ketika sudah tahu kalau saya mau mengganti paspor, ditanya paspornya buat apa. Saya jawab buat liburan. Ditanya mau liburan dengan siapa. Saya jawab dengan teman kantor. Eh, malah kemudian disuruh minta surat rekomendasi dari kantor. Lho? Kan saya liburannya pakai uang pribadi. Kok disuruh minta surat dari kantor?

Akhirnya si bapak petugas ini menyuruh saya untuk membuat surat keterangan dari orangtua sambil menunjukkan contoh suratnya. Intinya orangtua nanti yang bertanggungjawab kalau saya pergi ke luar negeri. Suratnya pun bermaterai. Duh, padahal kan nggak ada syarat itu untuk penggantian paspor.

Si bapak petugas juga sempat bertanya, “Belum bersuami kan?” Err… entah apa maksud pertanyaannya ini. Yang kemudian kembali menegaskan saya perlu surat keterangan dari orangtua dan harus kembali lagi keesokan harinya. Ya ampun, harus ngantri lagi dong, nunggu lama lagi dong, capek hati hayati ini!

Dengan berat hati dan terpaksa, saya pun pulang dan membuat surat keterangan yang dimaksud. Lalu kembali lagi keesokan harinya.

Saya datang pukul 08.00 lalu masuk ke Ruang Foto untuk mencari si bapak petugas itu lagi. Dan ternyata saya tidak sendirian. Ada seorang mbak-mbak juga yang diminta membuat surat keterangan dari orangtua untuk pembuatan paspor.

Waktu tahu saya juga diminta menyertakan surat keterangan orangtua itu, dia tanya, “Mbak usianya di bawah 22 tahun juga?” Ehm, maunya sih jawab iya tapi ya gimana ya. Rupanya si mbak ini rencana mau liburan ke Singapura dengan teman-temannya. Tapi dia malah dicurigai entah apa gitu sama si bapak petugas. Akhirnya dia disuruh bikin surat keterangan dari orangtua juga (dari ibu dan bapak). Padahal temannya yang juga berencana akan liburan dengannya nggak ada masalah apa-apa waktu bikin paspor. Saya pun menyimpulkan kalau si bapak petugas inilah yang menyulitkan.

5. Kembali Antre Lagi
Setelah menunjukkan kelengkapan surat keterangan orangtua, saya balik lagi ke depan untuk minta nomor antrean lagi. Fiuh!

Ngantri lagi!

Kali ini saya dapat nomor antrean 11. Lumayan lah!

Syukurlah sekitar pukul 09.30 nomor antrean saya dipanggil. Kali ini dapat petugas yang berbeda. Sama si bapak petugas yang ini, malah agak cair suasananya. Sempat diajak guyon juga. Lebih ramah dan rileks. Cuma ditanya keperluan bikin paspor dan kerja di mana.

Melihat paspor lama saya yang masih bersih, si bapak tanya, “Dulu bikin paspor buat apa?”
Inginnya sih nggak perlu menjawab karena ada sebuah luka lama berkaitan dengan itu, haha. Tapi saya pun menjawab sambil ketawa menghibur diri, “Dulu buat daftar beasiswa, tapi nggak lolos.” Lalu terbayanglah pengalaman traumatis itu, saat harus suntik vaksin, medical check-up, dan mengurus paspor dalam waktu beberapa hari saja. Tapi kemudian belum jadi berangkat ke belahan dunia sana karena ada pengurangan kuota, heu *tisu mana tisu?

Setelah wawancara selesai, selanjutnya scan 10 sidik jari lalu langsung difoto di tempat. Lima tahun lalu waktu foto, saya sempat kesulitan dengan kerudung yang saya pakai. Saat itu saya pakai kerudung segiempat dengan pad, waktu mau difoto malah pad itu berbayang di dahi, jadi harus dicopot. Agak membingungkan ya? Hehe, ya pokoknya begitu. Dari pengalaman itu, kali ini saya mengakalinya dengan pakai pashmina. Sehingga dahi dan tulang pipi masih bisa terlihat jelas. Nggak masalah pakai kerudung, asal pas difoto memang dahi dan tulang pipi harus terlihat jelas.

Sudah beres foto, kita akan diberi dua lembar kertas (satu untuk petugas yang harus dibawa saat pengambilan paspor, satu lagi untuk disetorkan saat melakukan pembayaran).

6. Membayar
Biaya penggantian paspor Rp 355.000. Bisa langsung dibayar di Pos Corner yang ada di bagian belakang kantor.

Bisa langsung membayar di sini.

Nanti kita akan diberi lembar bukti pembayaran yang perlu dibawa saat pengambilan paspor. Paspor pun bisa diambil dalam waktu 4 hari kerja.

7. Pengambilan Paspor
Di Kantor Imigrasi Malang, loket pengambilan paspor buka mulai pukul 10.00. Namun, nomor antrean sudah bisa diambil dari pukul 07.30. Saat itu saya tiba pukul 08.00 dan mendapat nomor antrean 18.

Ambil paspor.

Nomor antrean ini diambilkan oleh petugas dari mesin antrean di dekat Ruang Informasi. Tinggal bilang saja ke petugasnya kalau mau ambil paspor sambil menunjukkan bukti pengambilan, nanti kita akan diberi nomor antreannya langsung.

Menunggu dari pukul 08.00, loket baru pukul 10.00, nomor antrean saya pun baru dipanggil pukul 10.30. Setelah paspor di tangan, kita perlu mengecek kelengkapan dan kebenaran data di paspor. Kalau sudah benar semua, kita diminta untuk memfotokopinya satu lembar untuk diserahkan kembali ke petugas. Untuk fotokopi bisa langsung ke koperasi yang ada di sana, satu lembarnya Rp500.

Paspor lama vs paspor baru.

Tips Cepat Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi Malang
Dari pengalaman saya kali ini, ada beberapa tips yang bisa saya bagikan agar proses pembuatan atau penggantian paspor bisa lebih cepat. Kalau lancar dan “nggak pakai drama” mengurus paspor sebenarnya sudah cukup ringkas.

  1. Dapatkan nomor antrean pagi
    Jadi waktu mau menggunakan aplikasi Antrian Paspor, sebisa mungkin dapatkan jadwal antrean pagi, yaitu pukul 08.00-09.00. Begitu tiba di kantor imigrasi Malang pukul 07.30, bisa langsung ambil map kuning, isi semua data, lalu minta nomor antrean. Kalau prosesnya cepat, pukul 09.30 semua sudah beres. Semakin pagi semakin baik soalnya mood petugasnya juga masih jernih, belum buthek dan bete.
    Untuk balita dan lansia, bisa minta nomor antrean khusus. Sehingga nggak terlalu lama menunggu seperti antrean reguler. Akan ada petugas yang bisa langsung membantu di Ruang Informasi.
  2. Lengkapi semua dokumen
    Baca semua persyaratan kelengkapan dengan teliti. Lengkapi semua dokumennya termasuk fotokopiannya, seperti fotokopian di A4 tanpa dipotong untuk KTP. Lembar bukti antrean online pun harus ikut disertakan. Bawa materai dan bolpoin juga, ya.
    Penting banget untuk melengkapi dokumen dari awal. Karena kalau tidak lengkap bakal memperpanjang durasi antrean yang berdampak pada antrean selanjutnya.
  3. Siapkan jawaban dengan jelas
    Pasti akan ditanya tujuan pembuatan paspor. Di sini perlu dijawab dengan jelas dan yakin. Kalau tujuan pembuatan paspor hanya untuk “punya-punyaan” kayaknya bakal nggak diproses, deh. Tapi nggak tahu lagi. Pokoknya harus punya jawaban logis dan jelas ketika ditanya soal pembuatan paspor. Oh iya, sesuaikan juga dengan surat pernyataan yang sudah dibuat (jangan sampai di surat pernyataan tulisannya untuk wisata, tapi pas diwawancara jawabnya ingin umroh).
  4. Banyak doa biar nggak ketemu petugas yang “drama”
    Nah, ini juga penting, hehe. Berdoalah mendapat petugas yang nggak menyulitkan. Jangan sampai dapat petugas yang bawaannya curigaan dan malah minta tambahan syarat yang sebenarnya nggak perlu.
  5. Bawa duit
    Yang ini jangan sampai lupa juga, haha. Waktu penggantian paspor saya mengeluarkan uang Rp355.000. Bawa duit tambahan untuk beli camilan, fotokopi, hingga beli materai.
Kantor Imigrasi Malang.

Sekarang paspor baru sudah di tangan, tinggal nunggu ada yang  mau ngajakin liburan dan jalan-jalan lagi, hehe 🙂