Skip to content

Buku Harian

cr: pexels.com/@ava-sol-77351255

Solusi terbaik untuk menyimpan koleksi buku adalah punya rumah yang lebih besar. Sungguh. Hehehe. Ketika beberapa waktu lalu memindahkan buku-buku dari rumah orangtua ke rumah sini, agak pusing juga menatanya kembali. Beberapa buku pun saya lepaskan demi kenyamanan. Di antara ratusan buku-buku, saya kembali menemukan jurnal dan buku harian yang pernah jadi kesayangan.

Saat duduk di bangku SMP, saya punya kebiasaan menulis buku harian. Berawal dari tugas bahasa Indonesia yang mewajibkan punya buku harian dan tiap kali mulai pelajaran, selalu ada penunjukan untuk membacakan isi buku harian di depan kelas, saya tertarik untuk punya buku harian sendiri. Buku harian yang isinya suka-suka dan bisa ditulis dengan sebebas-bebasnya tanpa harus dibacakan untuk orang lain.

Satu hari satu halaman. Sudah semacam “rumus” saja yang harus saya ikuti tiap hari. Saat itu rasanya kurang lengkap rasanya jika belum menulis sesuatu di buku harian sebelum mengakhiri hari. Kalau pun ada hari yang kelewat, biasanya akan saya rapel di hari berikutnya. Hehehe. Ya, dulu bisa serajin dan sedisiplin itu menulis buku harian.

Masa-masa SMP, SMA, bahkan awal-awal kuliah semua saya rekam di buku harian. Bahkan jadi semacam ritual sendiri tiap awal tahun perlu beli satu buku khusus yang tebal untuk dijadikan buku harian. Ada semacam kelegaan tersendiri jika bisa merekam rutinitas dalam tulisan.

Rekam jejak masa lalu, hehe.

Dalam kurun waktu beberapa tahun pada masa itu saya sangat rajin menulis di buku harian. Bahkan rutinitas hari yang biasa-biasa saja pun tetap saya tulis. Intinya kalau setahun ada 365 hari, maka ada 365 halaman buku harian yang saya isi penuh.

Sampai kemudian pada satu titik saya mulai merasa tidak harus merekam semua memori dalam buku harian. Mungkin karena jenuh juga, jadi saya pun berhenti untuk membeli buku khusus untuk dijadikan buku harian.

Dengan hadirnya media sosial dan blog, saya mulai mengalihkan kebiasaan menulis buku harian ke dalam ketikan. Tentu tidak tiap hari curhat dan sambat di media ini. Cuma memang ketika pikiran sedang ruwet, saya melampiaskannya dengan free writing yang cukup disimpan di dalam draft tanpa harus dipublikasikan.

Masa-masa sekolah dulu punya hobi menghias buku harian. Beli buku-buku cute warna-warni untuk diisi kata-kata mutiara. Hehehe. Pernah juga beli buku khusus untuk diisi rangkuman bacaan-bacaan yang selesai dibaca. Karena saat itu kebanyakan buku yang dibaca adalah hasil pinjaman perpustakaan, jadi rasanya sayang jika tak mencatat hal-hal penting sebelum bukunya dikembalikan.

Buku-buku harian itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masa-masa yang pernah saya lalui. Sampai kemudian saya putuskan untuk tidak menyimpan mereka lagi.

Ya, buku-buku harian itu pada akhirnya saya masukkan kardus. Lalu, saya lepaskan. Tidak lagi menyimpan mereka.

Sebenarnya alasan utamanya karena saya tak punya cukup ruang untuk menyimpan semua buku yang ada. Jadi, mau nggak mau, tega nggak tega, perlu melepaskan timbunan yang sudah tak perlu dipertahankan lagi.

Menulis selalu dan masih menjadi cara untuk berkomunikasi. Berkomunikasi dengan orang lain, juga berkomunikasi dengan diri sendiri. Menulis buku harian tampaknya menjadi salah satu “jalan ninja” saya untuk bisa berkomunikasi dengan diri sendiri, dari usia belasan tahun hingga usia 20an. Saat membaca ulang beberapa tulisan dari masa lampau (masa lampauuu) dan melihat kembali tulisan tangan saya waktu itu, saya jadi kembali diingatkan akan hal-hal yang harus diselesaikan sendiri. Ada rasa takut, cemas, dan insecure yang cukup bersahabat lama. Well, it’s time for my current-me to pat the shoulder of my old-me. “You’ve been through a lot, and I’m proud of you. You did good. Thank you.

Saat ini memang tak lagi punya buku harian lagi. Tapi oh tapi masih punya Twitter, Instagram, dan Blog yang menjadi media sambat setiap waktu, kapan pun kita mau 🙂

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *