cr: unsplash.com/@gigantfotos

Dua hari lalu saya menonton film Jepang berjudul Bread of Happiness. Film tentang sepasang suami istri yang pindah dari Tokyo ke Hokkaido dan mendirikan kafe yang diberi nama Mani. Tak hanya membuka kafe, pasangan tersebut juga menyediakan penginapan. Sang suami (Sang) bertugas membuat roti dan sang istri (Rie) bertugas membuat kopi serta memasak yang lainnya di dapur. Mereka punya pelanggan tetap. Ada juga tamu yang datang dari jauh untuk berlibur. Menonton film ini seakan menghidupkan kembali sebuah imajinasi tentang kehidupan yang selama ini seakan hanya ada dalam mimpi.

cr: imdb

Tinggal jauh dari kebisingan kota dan hidup bersama pasangan di tempat yang tenang rasanya begitu menyenangkan. Kesibukan Rie dan suaminya tak lepas dari melayani para tamu yang datang ke kafe dan penginapan mereka. Melayani dengan hidangan roti terbaik, kopi hangat, hingga sup labu dan nasi putih hangat penuh cinta. Entah kenapa menonton film ini menghadirkan perasaan yang tenang.

Bisa Bertahan dalam Situasi Sulit Itu Namanya Hidup

Seorang gadis dari Tokyo terpaksa menginap di Mani karena rencana liburan yang dibuatnya berantakan. Awalnya dia kesal, tapi kemudian dia malah menemukan kebahagiaan tersendiri dengan kenangan yang tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Ada obrolan tentang beratnya hidup yang dijalani. Ya, ada hal-hal yang memang terasa berat untuk dihadapi. Namun, justru dari pengalaman demi pengalaman menghadapi hal-hal berat itulah kita bisa benar-benar merasakan arti hidup yang sebenarnya. Meski memang kadang pada satu titik kita perlu mengubah arah dan langkah.

Ada Hal-Hal yang Baru Bisa Kita Lakukan saat Kita Memiliki Seseorang

Suatu hari ada seorang gadis cilik yang tampak sedih. Dia melewatkan bus sekolahnya dan akhirnya dia diberi segelas susu hangat di Mani. Di sekolah dia mungkin tampak bahagia tapi begitu sampai di rumah ada kesedihan yang begitu mendalam. Rupanya ada masalah dalam keluarganya, khususnya tentang ayah dan ibunya. Dia terpaksa hanya tinggal bersama ayahnya. Ayahnya pun ternyata juga merasakan kesedihan yang tak kalah pedih.

Ketika minum segelas kopi di Mani, sang ayah mengungkapkan bahwa ada hal-hal yang barus bisa dilakukan saat memiliki seseorang. Dalam hal ini, ia sendiri juga sebenarnya kesulitan cara menghadapi masalahnya. Ia ingin memperbaiki keadaan bersama putrinya, tapi tanpa sang istri ia sulit untuk bisa membuat putrinya kembali bahagia.

Gestur Sederhana Ternyata Bisa Begitu Berkesan

Satu hal yang saya perhatikan dari interaksi Rie dan Sang adalah mereka selalu berbagi roti yang akan mereka makan. Setiap kali meraih sebuah roti untuk dimakan, mereka pasti akan membaginya jadi dua dan memakannya bersama. I don’t know why but that simple gesture is so heartwarming. Nggak ada adegan romantis yang lebay di film ini, tapi justru gestur sederhana dari pasangan di film ini benar-benar menghangatkan hati. Termasuk saat ada pasangan suami istri yang sudah lanjut usia yang menginap di tempat mereka.

Pasangan suami istri tersebut sudah bersama selama sekitar 50 tahun. Rupanya sang istri sedang sakit. Saat itu ada badai salju. Sang menjemput mereka di stasiun. Sesampai di penginapan, sang istri kedinginan dan tampaknya lapar. Sayangnya, saat itu di Mani hanya ada roti dan stok beras tinggal sedikit. Sementara itu, istri kakek tua itu tak bisa makan roti. Akhirnya, Sang pergi ke rumah tetangga dengan mobilnya untuk mengambil beras.

Melihat pasangan yang sudah bersama selama 50 tahun itu sungguh mengharukan. Sang suami dengan sabar membantu istrinya bisa merasa senyaman mungkin. Membantu memenuhi keinginannya untuk melihat bulan purnama di tengah badai salju. Kebersamaan mereka memang tak selalu diwarnai suka. Ada masa-masa berat yang mereka lalui bersama, tapi apa pun yang terjadi mereka jalani setiap momen sebaik-baiknya.

Menonton film ini saya kembali memikirkan soal makna pernikahan. Rie dan Sang memutuskan untuk membangun usaha sendiri jauh dari kota besar. Beruntung mereka punya tetangga-tetangga baik dan unik di sekeliling mereka. Sehingga hari-hari mereka tak pernah sepi. Namun, ketika hanya ada mereka berdua saja, mereka bisa menikmati waktu bersama. Berjalan bersama di tengah salju. Berbagi tugas membuat roti. Mengumpulkan bahan-bahan makanan bersama. Sampai menjemur pakaian bersama. Saat hanya berdua saja, mereka tampak begitu nyaman satu sama lain. Tak saling menuntut apa-apa. Hanya merasa cukup dengan keberadaan mereka. Bisa menikmati roti dan segelas kopi pun sudah bisa jadi momen istimewa. Mungkin pernikahan yang bahagia adalah saat masing-masing pasangan bisa tetap nyaman dengan cara mereka sendiri ketika berdua.

Rumah Rie dan Sang pun sungguh rumah idaman. Dikelilingi hamparan kebun yang luas dan berada di dekat danau. Apalagi dari lantai dua, mereka bisa menikmati indahnya langit malam dan rembulan dengan jelas. Di dunia nyata, membuat keputusan untuk hidup seperti Rie dan Sang tampaknya tidak akan murah. Membangun rumah besar di tempat yang indah dan jauh dari kota besar pastinya butuh uang yang tidak sedikit, hehe. Belum lagi jika dihadapkan pada nyinyiran keluarga atau orang lain saat memutuskan untuk melepas semua yang ada di Tokyo. Syukurlah di film ini, Rie dan Sang punya tetangga-tetangga yang baik.

Yang paling menggoda adalah roti-roti yang dipanggang sendiri oleh Sang. Tiap kali melihat para tokohnya menikmati roti yang masih mengepul itu sungguh bikin lapar. Ada roti yang sederhana, tidak ada isian, tapi roti yang sederhana itu pun enak. Seringkali sebenarnya hal-hal yang sederhanalah yang bisa membuat kita bahagia. Hal-hal yang bisa membuat kita merasa cukup pun bisa membuat kita nyaman. Termasuk dalam hal pasangan. Punya pasangan yang bisa membuat kita merasa cukup diterima pun menjadi kebahagiaan yang tak terhingga.

Setelah selesai menonton film ini, muncullah keinginan untuk memiliki seseorang yang mau membagi setengah rotinya setiap kali makan bersama. Juga muncul keinginan untuk bisa memiliki seseorang yang bisa menerima setengah roti yang saya bagi untuknya. Seperti Rie dan Sang 🙂