cr: pexels.com/@daan-stevens-66128

Kenapa memilih menulis dan menerjemahkan sebagai profesi? Ya, tak lain karena dari situ saya bisa menjemput rezeki. Setelah lulus kuliah, pekerjaan yang tak jauh dari menulis dan menerjemahkan jadi kesibukan sehari-hari. Sekarang pun, kegiatan harian saya tak lepas dari yang namanya duduk di depan monitor komputer dan bengong di depan laptop, hehe.

Menulis dan menerjemahkan, mana yang lebih seru dan menyenangkan? Agak sulit untuk menjawabnya, tapi yang jelas keduanya sama-sama melelahkan. Harus duduk lama, mengetik, dan berpikir keras merangkai kata-kata bisa bikin lelah lahir batin. Tapi kalau sudah suka dan dapat flow-nya sebenarnya justru seru dan menantang.

Hingga saat ini, menerjemahkan adalah yang terasa paling menantang. Sejak dulu sebenarnya ingin fokus menggeluti profesi penerjemah, tapi konsentrasi dan prioritas selalu terpecah belah. Sehingga menjadi penerjemah baru bisa dijadikan pekerjaan sampingan. Walau sampingan, penghasilannya bisa jauh lebih besar daripada pekerjaan menulis untuk konten web yang masih saya jalani hingga saat ini. Maka dari itu, sekarang saya mulai mencoba menemukan “formula” untuk bisa lebih fokus menekuni profesi penerjemah sambil belajar lagi dari dasar. Salah satu motivasinya sih karena ingin bergaji ribuan dolar tiap bulan, hehe.

Kegiatan menulis sudah menjadi kebutuhan tersendiri sejak zaman sekolah. Bahkan dulu saya pernah rutin menulis buku harian. Menuangkan sesuatu melalui tulisan bisa bantu melepaskan stres. Tapi begitu menjadikan kegiatan menulis sebagai bagian dari profesi, ada hal-hal yang memang harus dikondisikan. Harus mengikuti permintaan klien, mengikuti standar yang ditetapkan oleh perusahaan, hingga harus membuat tulisan dengan topik yang sama sekali tidak disukai, dan belum lagi jika ada tuntutan menyelesaikan tulisan di saat pikiran sebenarnya sudah sangat jenuh. Menulis terkadang terasa begitu menakutkan alih-alih menggembirakan.

Menulis itu seru karena bisa menciptakan tulisan dari hal-hal yang kita pahami. Menerjemahkan juga seru karena bisa menjadi “jembatan” antara dua bahasa dan menyebarkan informasi atau konten ke lebih banyak orang. Menulis akan lebih seru bila dilakukan dengan sukarela dan tema yang memang disukai. Menerjemahkan juga lebih seru bila bahan atau kontennya mengandung hal-hal positif. Ya, selama kedua kegiatan tersebut bisa memberi kebahagiaan dan kesejahteraan, maka akan terasa seru meski kadang harus dipaksakan.

Sejumlah teman bilang bahwa menulis adalah passion saya. Mengingat latar belakang pendidikan saya yang “jalan lurusnya” adalah menjadi pendidik, begitu saya bilang pekerjaan saya ada di bidang penulisan, mereka mengatakan ini sesuai dengan passion. Tapi memang menekuni sesuatu hanya dengan passion tidaklah cukup. Ada komitmen, kedisiplinan, dan kemampuan menata emosi yang dibutuhkan. Bila sudah stres, jenuh, atau burnout, butuh upaya yang kadang tidak mudah untuk mengatasinya.

Masih jadi impian bahwa suatu hari nanti saya menjadikan menulis sebagai hobi dan menerjemahkan sebagai profesi. Keduanya bisa saling menyeimbangkan. Harapannya bisa tetap bisa hidup sejahtera dengan kegiatan yang saya suka dan tetap bahagia dengan hobi yang sudah ada sejak dulu.

Ada yang mau ngajakin bikin proyek menulis atau menerjemahkan bareng? Count me in 🙂