Skip to content

Berhadapan dengan Diri Sendiri

cr: pexels.com/@nadine-wuchenauer-695910

2021. Tentu saja ada banyak keinginan dan harapan baru yang ingin dirangkai tahun ini. Pastinya ada banyak ekspektasi dan target baru yang ingin dicapai. Namun, sebelum itu, mungkin ini saat yang tepat untuk menepuk-nepuk bahu sendiri. Berterima kasih karena sudah melalui tahun 2020 dengan tetap melangkah ke depan. Tahun 2020 jelas bukan tahun yang mudah untuk saya. Dalam satu tahun itu, satu perkara besar yang saya temui adalah berhadapan dengan diri sendiri.

Kalau di serial Sweet Home, seorang manusia bisa berubah jadi monster karena hasratnya, mungkin saya sudah bertransformasi menjadi salah satunya pada awal tahun lalu. Kalau Zoey bisa mengetahui isi hati seseorang lewat lagu yang didengar di kepalanya seperti dalam serial Zoey’s Extraordinary Playlist, mungkin dia akan melihat saya seperti Simon dengan lagu Mad World pada hampir sepanjang tahun 2020 lalu. Jika digambarkan seperti serial The Uncanny Counter, bisa jadi saya sudah dimasuki roh jahat dan sudah masuk ke level tiga karena telah menjadi “orang jahat” pada tahun lalu.

Berhadapan dengan diri sendiri kadang bisa terasa cukup menakutkan.

Dalam kurun waktu satu tahun, sebelas bulan di dalamnya mengalami roller coaster emosi dan perasaan yang berkepanjangan. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup merasakan perasaan yang begitu bikin kewalahan sendiri. Berbagai macam emosi bisa datang bersamaan, lalu bergantian, menjadi siklus yang terus berulang setiap waktu. Sudah sepuluh bulan ini tinggal di rumah sendiri. Banyak waktu yang dihabiskan sendiri. Banyak hal yang dipikirkan sendiri. Ternyata ada banyak hal dalam diri sendiri yang belum bisa dihadapi dan ditangani dengan baik.

Berhadapan dengan diri sendiri kadang dibutuhkan.

Tak ada jaminan setiap orang akan memahami perasaan kita. Tak ada jaminan semua orang bisa memiliki kepekaan yang sama dengan kita. Yang kita rasakan bisa sangat jauh berbeda dengan yang dirasakan orang lain. Perkiraan kita bisa meleset jauh dari yang pernah kita bayangkan. Dugaan kita bisa 180 derajat berbeda dari kenyataan yang ada. Bahkan isi kepala bisa menghadirkan dua kubu berbeda dalam memahami atau memandang sesuatu. Kenyataan dan kejadian buruk tak bisa selalu dihindari begitu saja. Kadang ada pil pahit yang memang harus ditelan mentah-mentah.

Sempat merasa bahwa orang paling membahayakan untuk dihadapi adalah diri sendiri. Menyimpan dendam hanya akan menambah bara dalam hati. Memperpanjang amarah hanya akan menghadirkan lebih banyak luka untuk diri sendiri. Tidak mudah untuk selalu bisa tenang dan baik-baik saja dalam menghadapi setiap keadaan. Menghadapi perubahan orang lain termasuk orang yang sudah dianggap sangat dekat bisa cukup menyakitkan dan kadang membuat hati ini tidak terima dan kecewa. Tapi pada akhirnya orang yang perlu ditangani dan diberi perhatian lebih adalah diri sendiri.

Dorothea: What’s wrong, Teach?

Joe: It’s just I’ve been waiting on this day for… my entire life. I thought I’d feel different.

Dorothea: [beat] I heard this story about a fish. He swims up to this older fish and says, “I’m trying to find this thing they call the ocean.” “The ocean?” says the older fish. “That’s what you’re in right now.” “This?” says the young fish. “This is water. What I want is the ocean.”

[Joe just stares, bewildered]

Dorothea: See you tomorrow.

(soul movie, 2020)

Menghadapi diri sendiri dengan baik menjadi sebuah hal yang tampaknya harus dipelajari dan dihadapi setiap hari dan setiap waktu. Bukan hal mudah untuk menjalani setiap harinya dengan senyuman. Bahkan berjuang untuk bisa rutin bangun pagi masih sering kesulitan. Sungguh banyak kekurangan yang masih perlu diperbaiki lagi.

Saat menonton film Soul, cukup tersentil dengan cerita tentang ikan yang disampaikan Dorothea kepada Joe. Kadang yang kita cari sebenarnya sudah kita dapatkan. Yang kita inginkan sebenarnya sudah berada dalam genggaman. Bahkan mungkin masih menutup mata dengan hal-hal yang sebenarnya sudah kita miliki.

Berbagai perkara “besar” banyak mengganggu pikiran selama tahun lalu. Seakan terus dikejar oleh berbagai macam mimpi buruk yang satu per satu menjadi kenyataan. Dihadapkan pada hal-hal yang sungguh menguras tenaga seorang diri. Sungguh absurd menghadapi kejadian-kejadian yang tak pernah terbayangkan pada tahun lalu. Tapi pada akhirnya semua pun terlewati.

Saat terlalu sering overthinking, mungkin perlu “meniru” ikan emas. Dalam serial Ted Lasso, Ted mengatakan bahwa hewan dengan ingatan terpendek adalah ikan emas. Ingatan ikan emas hanya bertahan 10 detik. Jadi kalau bersedih, nikmati sedihnya, tapi setelah itu “lupakan”. Rasakan lalu lupakan tanpa perlu berlama-lama, seperti ikan emas.

Berhadapan dengan diri sendiri akan berlangsung seumur hidup.

Pada hari-hari ke depannya, masih akan dihadapkan pada diri sendiri. Masih akan dihadapkan pada persoalan dan pergumulan yang harus ditangani sendiri. Memang tak ada jaminan hari-hari ke depannya akan jauh lebih baik dari hari-hari yang berlalu. Pergantian tahun tidak menawarkan jaminan pergantian nasib. Kesedihan tidak kedaluwarsa pada akhir tahun. Permasalahan tidak berhenti begitu saja karena sudah mencapai akhir tahun. Awal tahun hanya sebuah hari yang baru. Sebuah hari yang bisa jadi sama dengan hari sebelumnya, bisa jadi lebih baik, dan bahkan mungkin bisa lebih buruk. Namun, setidaknya pada awal tahun jadi kembali diingatkan bahwa waktu bisa berlalu begitu cepat tanpa benar-benar kita sadari dengan sepenuhnya.

Bismillah. Ya Rabb, hanya pada-Mu diri ini meminta kekuatan dan ketegaran. Hanya kepada-Mu diri ini meminta bantuan. Selalu bantu diri ini untuk bisa mengisi kehidupan ini dengan makna yang lebih baik.

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *