cr: pexels.com/@dariaobymaha

Cukup sedih ketika mendapati mata kanan yang tidak sejernih dulu untuk melihat. Harus memakai kaca mata untuk bekerja di depan laptop. Dulu saya kira mata saya akan selamanya baik-baik saja diajak bekerja di depan monitor. Tapi kenyataannya tak bisa selamanya untuk memiliki kondisi mata yang sama. Mendapati ada sehelai dua helai rambut yang memutih pun membuat sedih. Saya kira rambut saya akan hitam selamanya tapi bertambahnya usia dan tekanan hidup (?) membuat uban muncul satu per satu. Mendapai keriput di bawah mata, kondisi tubuh yang mudah capek, hingga lutut kanan yang kadang masih terasa nyeri setelah operasi beberapa waktu lalu pun membuat saya sedih. Pada kenyataannya apa-apa yang melekat dalam diri ini bersifat sementara.

Segala sesuatunya bersifat sementara. Hal-hal yang ada dalam genggaman ada yang pada waktunya harus dilepaskan. Segala hal yang pernah dimiliki bisa pergi satu per satu. Semua yang tampak tidak pernah berubah bisa berbeda dalam waktu yang tak pernah diduga.

Tahun 2020 sudah menginjak bulan Oktober. Sebentar lagi akan menandai hari kelahiran. Sepanjang tahun ini ada banyak hal yang terasa begitu absurd. Salah satunya jelas soal pandemi. Tak pernah terbayangkan merasakan hidup di tengah pandemi yang mengubah banyak hal dan menghadirkan berbagai kekhawatiran. Lalu masalah-masalah yang muncul sepanjang tahun ini (bahkan ada yang dari awal tahun) banyak yang menghadirkan luka. Bekas luka operasi di lutut kanan pun tampaknya tak akan bisa hilang. Sosok yang tadinya disangka tak akan pernah berubah ternyata bisa menjadi individu yang terasa begitu asing dan jauh. Orang-orang terdekat yang tadinya tampak baik-baik saja kini seakan makin tidak nyaman saat berkata-kata. Mereka yang tadinya sangat dekat sudah makin memudar dan menjauh keberadaannya. Tak ada yang berlangsung selamanya. Segalanya bersifat sementara.

Ada perasaan-perasaan yang terasa begitu menyesakkan yang kerap menghampiri selama beberapa bulan terakhir ini. Begitu banyak pertanyaan soal kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini yang rasanya semakin rumit untuk diurai dan dicari jawabannya. Mencoba untuk memahami sesuatu pun malah membuat segalanya terasa makin berat. Kadang menyalahkan diri sendiri atas sebuah persoalan. Rasanya tak ada habisnya merasakan perihnya luka yang terasa sudah terlalu dalam.

Segalanya bersifat sementara.

Semoga dari semua hal yang bersifat sementara, masih ada kebaikan-kebaikan yang bisa dijadikan bekal untuk bertahan dalam hidup.