cr: pexels.com/@bongkarn-thanyakij-683719

Lelah menulis tapi bahagia menulis. Capek menerjemahkan tapi senang saat bisa tenggelam dalam kata-kata. Kadang sakit kepala saat harus mengedit tapi selalu lega jika hasilnya bisa tampak lebih rapi. Bekerja dengan kata-kata, menyelami kata-kata, meleburkan kehidupan dan kata-kata jadi satu, bila dipikir-pikir hidup saya memang tak bisa lepas dari kata-kata. Pekerjaan dan hobi selalu berkaitan dengan kata-kata. Kata-kata ada di mana-mana. Di mana-mana ada kata-kata.

Ada sebuah impian yang saya rasa masih belum terwujud hingga saat ini. Impian yang berkaitan juga dengan kata-kata. Terkait sesuatu yang ingin diperoleh melalui kata-kata, tapi masih belum juga kesampaian. Mungkin memang hati ini kurang sungguh-sungguh. Mungkin memang belum mengupayakannya sepenuh jiwa. Bisa juga karena terlalu sibuk dengan hal-hal lain sampai merasa tak punya cukup waktu untuk memperjuangkannya. Bisa jadi pada dasarnya masih terlalu malas untuk mewujudkannya.

Dulu sewaktu masih usia belasan tahun, bayangan saya soal penulis adalah menghasilkan buku lalu dibaca banyak orang. Bisa kaya raya dengan hasil karya tulisan yang dibuat. Tak disangka perkembangan zaman begitu cepat. Kemajuan internet dan teknologi membentuk dan membangun pola budaya membaca yang makin beragam. Orang-orang tak lagi hanya bergantung pada buku untuk bisa membaca sesuatu yang mereka suka. Informasi dan berbagai kisah bisa didapatkan di dunia maya. Dari sini kemudian hadir peluang bagi penulis untuk mendapatkan penghasilan dari tulisan yang bisa dikonsumsi masyarakat melalui internet.

Membuat Konten demi Konten

Selama lebih dari dua tahun waktu itu ketika masih jadi pekerja lepas, saya menghabiskan hari-hari saya membuat konten tulisan SEO. Setiap hari kecuali tanggal merah, tugasnya membuat konten-konten dengan patokan keyword yang harus disisipkan di sini dan di situ. Menghasilkan ragam tulisan dari keyword yang sama berulang-ulang. Jenuh tentu saja. Tulisan pun kadang jadi kehilangan “nyawanya” karena dibuat dengan gaya yang kaku dan harus diselesaikan dalam waktu cepat sesuai dengan tenggat yang diberikan.

Membuat konten untuk laman media daring pun menjadi bagian yang makin erat dalam keseharian. Dari berbagai pengalaman mengisi konten dan membuat tulisan untuk media daring, kadang jadi merasa seperti bunglon. Perlu menyesuaikan gaya tulisan dengan kebutuhan dan identitas setiap media. Perlu mengubah dan menyesuaikan nada tulisan supaya sesuai dengan yang diinginkan klien atau pihak media. Awalnya mungkin terasa sulit, tapi ketika dijalani sebenarnya tidak terlalu sulit juga.

Menulis blog pun menjadi “pelarian” tersendiri. Kadang saat membuat konten demi pihak lain, maka ada banyak hal yang harus disesuaikan. Sementara ketika menulis untuk blog sendiri, lebih mudah untuk kembali ke identitas sendiri. Membuat konten untuk diri sendiri, dinikmati sendiri, atau sekadar untuk disimpan di dalam draft sendiri kadang bisa menghadirkan napas baru. Saat capek nulis, pelariannya ternyata kudu nulis lagi, hehe. Sulit untuk terpisahkan dari kata-kata.

cr: pexels.com/@cottonbro

I write differently from what I speak, I speak differently from what I think, I think differently from the way I ought to think, and so it all proceeds into deepest darkness.

 Franz Kafka

Menulis, Mengedit, dan Menerjemahkan

Di antara menulis, mengedit, dan menerjemahkan, mana yang paling menyenangkan? Yang paling menyenangkan adalah yang bisa menghadirkan pundi-pundi dolar. Eh?

Jadi…

Ya, tiap pekerjaan ada kesulitan dan tantangannya masing-masing. Termasuk ada keseruan dan kepuasannya sendiri. Menulis, mengedit, dan menerjemahkan, semua itu menjadi pekerjaan yang sudah jadi bagian yang melekat dan keseharian dan rutinitas saya. Baik pekerjaan kantor maupun pekerjaan sampingan, semua deadline tak lepas dari jenis-jenis pekerjaan itu.

Mungkin ada yang mengira bekerja duduk di depan laptop atau komputer itu membosankan. Tapi oh tapi, ketika sudah tenggelam dalam kata-kata maka waktu bisa berlalu begitu cepat. Untuk membuat sekeping tulisan yang terlihat pendek bisa butuh waktu yang lama. Untuk menghasilkan terjemahan yang utuh, kudu “lari-larian” dulu dengan berbagai kamus dan pilihan kata.

Bekerja dengan kata-kata sungguh memakan waktu. Tak heran seorang penulis buku butuh waktu tahunan untuk membuat karya yang berkualitas. Rasanya sulit untuk bisa menghasilkan tulisan atau karya yang bagus dalam waktu singkat. Dibatasi waktu, dikekang dengan banyak tuntutan dan tekanan, atau dicampuri dengan berbagai hal yang tidak mendukung produktivitas, akan makin menyulitkan harapan untuk bisa membuat karya yang bagus. Saya sendiri pun masih berproses untuk bisa lebih baik dari waktu ke waktu terlepas dari makin beratnya ujian hidup, ouch!

Bekerja dengan kata-kata. Saya masih terus berusaha dan berharap setiap pekerjaan yang saya lakukan bisa menghadirkan makna. Semoga makin banyak peluang yang bisa saya buka dengan hal yang saya sukai dari kata-kata.