cr: pexels.com/@bongkarn-thanyakij-683719

Isabel Allende dalam sebuah wawancara ditanya apa arti menulis baginya. Ia menjawab, “Hidup. Menulis cerita adalah satu-satunya hal yang ingin saya lakukan. Menulis itu seperti bernapas. Sastra telah memberi saya suara, memberi arti pada hidup saya dan menghubungkan saya dengan jutaan pembaca di seluruh dunia.” Bagi sebagian orang, menulis bukanlah sesuatu yang istimewa. Namun, bagi sebagian orang yang lain, menulis adalah aktivitas yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Saya ingat dulu saat masih duduk di bangku SMP, guru bahasa Indonesia mewajibkan semua murid untuk memiliki buku harian. Setiap jam pelajaran bahasa Indonesia, beberapa murid akan dipilih atau mengajukan diri membacakan isi buku hariannya. Yang diceritakan dari buku harian itu pun sebenarnya tak ada yang istimewa. Sekadar kejadian sehari-hari atau sesuatu yang cukup berkesan dan bisa dituliskan di buku harian. Sejak saat itu, selain punya buku harian khusus untuk tugas bahasa Indonesia, saya memiliki buku harian pribadi sendiri. Tak ada yang istimewa dari buku harian saya, hanya mencatatkan rutinitas sehari-hari saja.

Kebiasaan menulis buku harian itu kalau tidak salah berlanjut sampai SMA. Kemudian saat kuliah, mulai mengenal blog. Coba-coba bikin blog dan beralih menggunakannya sebagai media pengganti buku harian. Menulis menjadi sebuah kebutuhan sendiri, meskipun yang ditulis pun nggak ada yang istimewa. Hanya saja dengan menulis, setidaknya isi kepala tidak terlalu penuh.

Menulis untuk “Bernapas”

Ada saatnya pengalaman menulis terasa begitu melegakan. Bisa menorehkan kata-kata dan mengutarakan isi kepala lewat tulisan bisa memberi perasaan lega tersendiri. Bisa membantu kita bisa kembali bernapas. Saat sedang mengalami masalah berat dan tak bisa menemukan seseorang untuk dijadikan teman bicara, maka menulis bisa jadi cara untuk meringankan hati. Menulis untuk diri sendiri, menulis untuk bisa membantu kita lebih bernapas lega. Ada kalanya pengalaman menulis kembali jadi pengingat kita bahwa kita perlu tetap bernapas dan melanjutkan hidup. Menulis menjadi semacam jeda untuk memberi ruang kita lebih luas bisa menarik dan mengembuskan napas.

Menulis untuk Memenuhi Kebutuhan

Ya, menulis bisa jadi pintu rezeki kita. Kita bisa mendapatkan uang atau penghasilan dari tulisan yang kita buat. Kita bisa mendapat royalti dari buku atau novel yang kita tulis. Kita bisa dapat pemasukan dari tulisan yang kita kirimkan ke media massa. Kita pun bisa mendapatkan penghasilan dari tulisan yang kita buat sesuai kebutuhan klien. Menulis bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan.

Menulis untuk mendapatkan uang. Tak ada yang salah dari itu. Memang pada kenyataannya menulis bisa jadi sumber penghasilan kita. Selama yang kita tulis bisa memberi manfaat, rasanya tak ada yang salah dengan mencari uang dengan cara menulis. Menjadi penulis untuk memenuhi kebutuhan hidup, boleh-boleh saja, kan? Penulis adalah profesi, benar?

Menulis untuk Bercermin

Meski sekarang sudah tidak pernah menulis buku harian secara rutin lagi, tapi saya sesekali masih menyempatkan diri menulis di blog ini. Ada saatnya menulis menjadi semacam media untuk bercermin. Mengenali perasaan dan emosi sendiri. Berdamai dengan refleksi diri yang terpantul. Mengenali diri sendiri agar bisa menguatkan diri. Kadang kita baru menyadari keburukan sendiri saat bisa melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri. Kadang kita juga bisa lebih percaya diri bisa menemukan sebuah kelebihan saat kita sendiri yang bisa menemukannya langsung. Menulis untuk diri sendiri membantu kita untuk bercermin pada diri sendiri. Menulis di blog ini meski tak dibaca oleh orang lain, tetaplah terasa penting. Sebab dari menulis ini, ada untaian-untaian dalam pikiran yang bisa terurai dengan sendirinya.

Menulis untuk Bahagia

Sewaktu mengikuti sebuah workshop menulis tahun lalu, seorang penulis yang menjadi pemateri mengutarakan bahwa menjadi penulis itu harus siap babak belur. Penulis ibarat petinju, yang ketika sudah masuk ring tinju itu berarti sudah siap menerima konsekuensi babak belur. Hm, cukup mengerikan juga, ya. Hehe. Akan tetapi, ada benarnya juga. Saat kita menulis sesuatu, maka orang yang membacanya akan memiliki pandangan atau pendapat tersendiri dari tulisan kita. Orang akan mengomentari tulisan kita dengan cara mereka sendiri. Hal semacam ini memang di luar kendali kita. Kita tak bisa meminta orang selalu setuju atau sepakat dengan semua yang kita tulis. Tak apa. Hal itu wajar adanya.

Bagi saya, selama kegiatan menulis masih bisa mendatangkan kebahagiaan, saya akan terus melakukannya. Memang ada saatnya rasanya sangat jenuh dan ingin berhenti menulis. Ada saatnya rasanya otak ini terasa kering sampai tak bisa mengalirkan kata-kata lewat jari jemari. Apalagi jika disertai tuntutan atau tekanan untuk menulis sesuatu yang sebenarnya belum kita kuasai dengan benar, rasa stres yang menyertai jelas akan membuat kegiatan menulis terasa bagai siksaan. Menuruti permintaan klien atau standar yang diberikan perusahaan dalam proses menulis tidaklah selalu mudah.

Menulis menjadi aktivitas yang sudah sangat akrab dan dekat dengan saya sejak remaja. Menulis menjadi cara saya untuk bisa lebih banyak bicara. Menulis menjadi cara saya bercerita dan menyampaikan sesuatu tanpa menuntut untuk selalu didengar. Meski memang hingga saat ini, saya masih belum berhasil membuat lebih banyak orang mendengar dan mengenali suara saya lewat tulisan. Di balik capek dan lelahnya menulis, saya masih berharap kemampuan ini bisa menjadikan hidup ini lebih bermakna.