Bengong di McD Bukit Bintang.

Karena nggak teliti, sore itu di McD Bukit Bintang saya malah memesan dua gelas Es Milo. Selain ada satu porsi Nasi Lemak, ada dua gelas Es Milo yang perlu dihabiskan. Hanya saja entah kenapa mendadak kurang selera makan. Menghabiskan satu gelas Es Milo saja rasanya tak sanggup. Ini malah ada dua gelas. Mau dibawa pulang ke hotel pun, sepertinya nggak akan sempat diminum juga karena perut sudah kembung duluan. Akhirnya, saya memutuskan mojok dan pelan-pelan mencoba menghabiskan minuman dan makanan yang sudah dibeli.

Saya paham beberapa orang sengaja ada yang meluangkan waktunya untuk bengong. Sendirian, makan di suatu tempat, menikmati suasana keramaian, tapi menemukan kedamaian dalam kesendirian. Ada orang yang bisa membuat tubuh dan pikirannya rileks dengan “ritual bengong”. Namun, saya justru lebih sering menghindari situasi bengong. Kalau sudah bengong, pikiran bisa makin kemana-mana, hehe. Saya cenderung lebih suka jalan kaki atau pergi ke tempat baru untuk mengurai keruwetan pikiran.

Sore itu, saya pun mencoba untuk bengong di sudut McD Bukit Bintang. Melihat lalu lalang orang-orang di luar. Melihat keramaian dari sudut sendirian. Pasangan yang berjalan bergandengan. Anak dan orang tuanya yang makan bersama. Pengunjung McD keluar masuk memesan makanan. Kerumunan orang yang menyeberang jalan dari sisi satu ke sisi lainnya. Seorang pengunjung yang menghampiri saya meminta izin untuk mengambil kursi di sebelah yang tak berpenghuni. Bapak-bapak kurir pengantar makanan yang memarkir sepeda motornya di depan McD.

Sampai kemudian turun hujan. Siang yang begitu terik saat itu, disusul dengan hujan yang turun begitu deras. Sejumlah pejalan kaki berlarian berteduh. Menepi, menjauh dari tetesan hujan dan hempasan angin. Seorang penjual payung menembus hujan menjajakan payung bening pada para pejalan kaki yang basah kuyup.

Hujan turun.

Saya pun makin malas untuk keluar. Biasanya saat makan sendirian, saya cenderung makan dengan cepat. Namun, saat itu, saya makan lambat-lambat. Minum satu sesap demi satu sesap dengan lambat. Menikmati waktu bengong sendirian. Ternyata bengong tidak terlalu buruk. Apa yang dilakukan saat bengong? Hm, ya bengong.

Sejenak melepaskan diri dari ikatan-ikatan ternyata cukup menyenangkan. Memberi jeda pada diri sendiri ternyata adalah sebuah kebutuhan sendiri. Saat bengong, seperti menciptakan ruang-ruang baru dalam diri untuk bisa lebih rileks. Tadinya berharap, saat bengong bisa dapat inspirasi untuk membuat sesuatu, tapi saat itu nggak ada inspirasi apa-apa, hehe. Nggak apa-apa, bisa menikmati momen saja sudah jadi sebuah kemewahan tersendiri.

Petang menjelang, hujan sudah lebih reda. Dua gelas Es Milo tak kunjung habis. Nasi Lemak pun masih baru dimakan separuh tapi sudah kenyang. Akhirnya, saya melangkah keluar menuju stesen Bukit Bintang dan balik ke hotel.

Bengongnya dilanjut kapan-kapan lagi.