cr: unsplash.com/@bethbapchurch

Beberapa waktu lalu ramai soal film Parasite yang berhasil menyabet empat perhargaan dalam Oscar 2020: International Feature Film Award, Best Director, Best Original Screenplay, dan Best Picture. Meski saya bukan orang Korea Selatan, saya ikut merasakan kegembiraannya karena saya sendiri juga menyukai film itu. Pencapaian tersebut jelas mencetak sejarah baru. Mungkin akan makin banyak orang di seluruh dunia yang menonton film-film Asia lainnya.

Lalu, ramai di media sosial soal sindiran kepada orang-orang Barat (tentu saja tidak mewakili semuanya) yang enggan menonton film Asia karena malas membaca subtitle. Hm, sesusah itukah menonton drama atau film yang ber-subtitle?

Di balik kesuksesan film Parasite, juga ada peran seorang subtiler. Melansir id.korean-culture.org, adalah Darcy Paquet sosok yang menerjemahkan subtitle film Parasite ke bahasa Inggris. Darcy Paquet merupakan seorang kritikus film Amerika yang sudah lama tinggal di Korea. Sosoknya juga dikenal sebagai dosen, penulis, penerjemah, hingga aktor paruh waktu.

Saya sendiri sudah terbiasa menonton drama atau film ber-subtitle. Saat menonton drama Korea, kadang saya memilih untuk menonton dengan menggunakan subtitle bahasa Inggris. Mendengarkan bahasa Korea, membaca sulih teks bahasa Inggris, mengikuti setiap adegan dalam drama, dan menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia di kepala. Sungguh multitasking sekali, ya. Hehe. Ketika menonton serial atau drama berbahasa Inggris, saya juga kadang masih bergantung pada subtitle. Nonton film India pun, juga sangat terbantu dengan adanya subtitle (apalagi kalau lirik lagunya juga diterjemahkan, makin paripurnalah pengalaman nontonnya).

Nonton sambil Baca Teks Terjemahan, Mumet Nggak?

Jawabannya sih tergantung. Dalam penerjemahan subtitle, memang tak bisa setiap saat menerjemahkan satu per satu kata atau dialognya secara harfiah. Ada banyak kalimat yang perlu diparafrase atau diterjemahkan dengan ungkapan lain yang artinya tetap senada. Penerjemahan idiomatik perlu dilakukan untuk menghasilkan subtitle yang bagus. Selain itu, penerjemahan subtitle perlu mematuhi aturan reading speed dan shot change sehingga hasil terjemahannya bisa ramah di mata audiens. Sehingga, hasilnya terjemahan teksnya tidak terlalu panjang dan setiap dialog bisa tersampaikan dengan baik.

Kalau subtitle-nya berantakan dan terlalu panjang, jelas saja akan bikin mumet saat menonton film atau dramanya. Jika subtitle-nya enak dibaca, menikmati tayangan apa pun tetap nyaman. Meski ya rasanya indera penglihatan dan kerja otak kudu lebih aktif.

Subtitle adalah Penghubung

cr: twitter.com/anisa_mo626/status/1227756397863063552/photo/1

Dengan bantuan subtitle, kita bisa menikmati berbagai jenis drama dan film. Bagi sebagian besar orang Indonesia, bisa menguasai lebih dari satu bahasa bukanlah hal yang sulit. Selain bahasa Indonesia, kita juga punya bahasa daerah atau bahasa ibu. Dalam keseharian, kita bisa menggunakan dua bahasa secara bergantian sesuai kebutuhan. Jadi, ketika menonton film atau drama menggunakan subtitle, rasanya itu tidak terlalu menyulitkan.

Seperti kata Sutradara Bong Joon-ho bahwa ketika kita bisa mengatasi satu rintangan kecil bernama subtitle, maka kita bisa menikmati berbagai jenis film. Mengenal lebih banyak drama dan film berkualitas. Mungkin bagi sebagian orang, agak merepotkan ketika harus menonton film dengan tetap sibuk membaca subtitle yang ada. Tapi kalau sudah terbiasa, ya nggak susah juga.

Mending Sulih Teks atau Sulih Suara?

Pernah suatu waktu saya menonton sebuah serial Jepang yang disulih suara (dubbing) dengan bahasa Inggris. Setelah menonton beberapa episode, saya memutuskan untuk berhenti menontonnya. Tak tahu kenapa rasanya aneh dengan sulih suaranya. Entah karena karakter suaranya yang kurang pas atau bagaimana. Dalam kasus yang seperti itu, saya lebih suka menontonnya dengan bantuan sulih teks (subtitle). Dengan bantuan subtitle, setidaknya saya masih bisa menikmati setiap ekspresi dan nada suara yang terasa lebih natural di serialnya. Tidak terasa kaku atau terkesan dipaksakan.

Setiap bahasa memiliki keunikan tersendiri. Setiap ekspresi dalam bahasa juga punya kekhasan sendiri. Kadang sulit untuk disulih suarakan dengan tepat karena pembawaan dan “warna bahasa” yang berbeda. Sehingga pada sebagian film atau serial, memang lebih pas bila disulih teks saja, tanpa harus dipaksakan disulih suarakan. Tentu saja ini pendapat pribadi saya sendiri, hehe.

Jadi, susah nggak sih nonton drama atau film ber-subtitle? Nggak susah kok, cuma memang butuh sedikit usaha lebih saja.