Skip to content

Aku dan 17 Buku Paling Berkesan yang Menemani Rutinitas Bekerja dari Rumah

Last updated on 05/03/2021

Aku, Buku, dan Perjalanan Beradaptasiku

Masih teringat jelas imbauan pada pertengahan Maret 2020 untuk bekerja dari rumah karena pandemi virus corona. Kantor tempatku bekerja pun tak butuh waktu lama untuk langsung menjalankan kebijakan work from home (WFH) untuk para karyawannya. Pada waktu itu imbauannya adalah dua minggu bekerja dari rumah. Setelah itu diperpanjang lagi hingga sebulan, lalu bablas sampai libur Lebaran, sampai kemudian lebih dari setahun kemudian, sebagian besar karyawan masih bekerja dari rumah, termasuk aku. Oh, siapa sangka pandemi tak kunjung usai hingga saat ini.

Lebih dari setahun bekerja dari rumah, tentu ada banyak tantangan baru yang harus dihadapi. Ada proses adaptasi yang kadang tidak mudah untuk dijalani. Bagiku pribadi, proses adaptasi bekerja dari rumah ini beriringan dengan menjalani keseharian tinggal di rumah sendiri seorang diri. Ya, awal pandemi juga menandai awal mula aku mencoba hidup lebih mandiri hidup terpisah dari orangtua. Membiasakan diri untuk hidup sendiri juga ada tantangannya.

Sendirian tapi tak benar-benar sendiri. Sejak dulu aku memang suka membaca buku. Buku apa saja. Bahkan kadang alasan membaca buku genre tertentu karena memang sedang ada mood untuk baca buku itu. Jadi, menjalani rutinitas bekerja dari rumah dalam kesendirian tak benar-benar membuatku kesepian. Ada buku-buku yang senantiasa menemani. Buku-buku jugalah yang membantuku untuk bisa lebih mudah beradaptasi dengan beberapa hal baru selama bekerja dari rumah.

Buku-buku selalu menjadi kawan terbaik di segala suasana. Buku-buku selalu menghadirkan oase yang menenangkan jiwa.

Selama menjalani rutinitas bekerja dari rumah, keseharianku tak lepas dari kegiatan membaca buku. Kalau sebelum pandemi, biasanya ambil cuti untuk liburan ke tempat-tempat baru, kini setelah pandemi dan bekerja dari rumah, cuti yang diambil dihabiskan untuk membaca buku di rumah saja sambil rebahan.

Ketika jenuh dengan pekerjaan dan bosan nonton drama Korea, pelarian terbaik adalah kembali ke buku-buku. Saat capek pakai laptop atau ponsel, memegang buku menghadirkan kembali ketenangan. Membaca buku tetaplah menjadi aktivitas terbaik untuk menemukan kembali kenyamanan diri. Tidak pernah ada kata bosan jika sudah bisa menenggelamkan diri dalam kisah, cerita, atau narasi-narasi dalam buku.

Ada beberapa tantangan terberat yang harus diatasi saat bekerja dari rumah selama pandemi. Mulai dari tingkat kejenuhan dan kebosanan yang meningkat. Kedisiplinan diri yang perlu diketatkan (karena mengatur mood kerja dari rumah tidak selalu mudah). Membangun kebiasaan gaya hidup yang lebih sehat selama di rumah karena makin jarak bergerak. Hingga mengatasi kecemasan yang ikut meningkat karena pandemi yang tak kunjung usai. Yang awalnya punya rutinitas dinamis, lalu dihadapkan pada keseharian yang lebih banyak di rumah tentu butuh proses adaptasi tersendiri.

Ada banyak buku yang kubaca selama menjalani rutinitas bekerja dari rumah. Bahkan buku-buku lama pun ada yang kembali kubuka. Agak sulit untuk menentukan buku apa saja yang paling berkesan selama setahun belakangan ini menjalani rutinitas bekerja dari rumah. Namun, setidaknya 17 buku inilah yang paling berkesan di antara buku-buku lain yang kubaca selama beberapa bulan terakhir ini. Buku-buku inilah yang sangat membantuku untuk melewati masa-masa sulit selama proses adaptasi di tengah pandemi. Melalui buku-buku ini kutemukan cara untuk bisa mengatasi tantangan-tantangan baru selama bekerja dari rumah. Serta, kutemukan pula cara untuk senantiasa menciptakan kenyamanan dan kebahagiaan dalam keseharian.

Urutan di buku ini tidak berdasarkan kategori tertentu, ya. Cuma berdasarkan buku mana yang difoto dulu dan dikeluarkan dari rak buku di rumah saat akan menulis ini, hehe.

1. Jalan Panjang untuk Pulang, Agustinus Wibowo

Awal tahun 2021 langsung PO (pre-order) buku ini. Sebagai penggemar tulisan-tulisan Agustinus Wibowo, begitu tahu dia menulis buku baru, aku langsung ancang-ancang untuk langsung pesan begitu ada kesempatan untuk PO. Sungguh tak sabar untuk ikut berkelana ke berbagai sudut tempat melalui tulisan-tulisannya.

Seorang Pencari dan Napasnya, secara pribadi merupakan salah satu cerita favoritku dari kumpulan cerita di buku ini. Yang diceritakan Agustinus tentang “ada sesuatu yang salah dalam hidupnya” juga sempat kurasakan. Dalam hidup, rasanya setiap manusia akan dihadapkan pada situasi yang membuatnya bingung. Merasa kesepian di tengah keramaian hingga merasakan adanya hasrat untuk mengakhiri hidup. Apalagi di situasi pandemi seperti sekarang ini, ada banyak orang yang mengalami masa-masa yang lebih sulit. Bekerja dari rumah dan menjalani keseharian lebih banyak bersama diri sendiri kadang menimbulkan kejenuhan dan kehampaan. Meski begitu, selalu ada jalan untuk bisa menemukan ketenangan dan kenyamanan kembali.

Membaca tulisan-tulisan dalam buku Jalan Panjang untuk Pulang tidak hanya membawa kita berkelana ke luar, tetapi juga mengajak kita untuk kembali melakukan perjalanan ke dalam diri sendiri.

2. Second Sister, Chan Ho-Kei

Tak kusangka aku bisa membaca novel tebal ini sampai tamat hanya dalam waktu sekitar seminggu. Kukira aku akan mati bosan atau bahkan pusing karena temanya yang terasa terlalu “berat”. Oh, tapi siapa sangka aku justru sangat menikmati novel ini.

Berkisah tentang Nga-Yee, seorang kakak perempuan yang menyelidiki kasus kematian adiknya yang bunuh diri. Dengan bantuan seorang peretas, Nga-Yee mengungkap lapis demi lapis kenyataan di balik kematian adiknya.

Membaca novel ini kembali mengingatkan kita bahwa jejak yang kita tinggalkan di dunia maya selalu ada dan bisa terus dilacak. Selain itu, yang tak kalah penting adalah pentingnya untuk lebih bijak dan mawas diri dalam menggunakan internet. Aku sendiri bekerja di dunia media online dan membaca novel ini membuatku perlu lebih berhati-hati dalam mengunggah tulisan atau menuliskan sesuatu di media sosial. Di tengah pandemi ini, makin banyak aktivitas yang dilakukan secara online sehingga sungguhlah penting untuk bisa lebih berhati-hati dalam menggunakannya agar tidak melukai atau merugikan orang lain.

3. Citizen 4.0, Hermawan Kartajaya & Tim Redaksi Maarketeer

“Teknologi membuat dunia semakin horizontal, inklusif, dan sosial,” begitu salah satu kutipan dalam buku Citizen 4.0. Selama bekerja dari rumah, aku kembali membaca buku ini. Selain kembali memahami soal prinsip-prinsop pemasaran humanis di era digital, buku ini juga memuat sejumlah pelajaran hidup dan topik-topik tentang tren yang dinamis. Bahkan aku kembali merenungkan soal pilihan karier dan pekerjaan serta tujuan hidup melalui buku ini. Ah, menghabiskan lebih banyak waktu sendirian saat bekerja kadang malah membuatku makin sering memikirkan masa depan.

4. Atomic Habits, James Clear

Rutinitas bekerja dari rumah praktis mengubah beberapa kebiasaan. Yang tadinya ada kebiasaan berangkat dan pulang kantor, sekarang di rumah lagi-di rumah lagi. Kadang malah malas untuk bergerak karena sudah terlalu nyaman duduk saja atau rebahan. Selama pandemi ini, aku pun mencoba untuk bisa berolahraga meski di rumah saja. Apakah mudah membangun kebiasaan baru berolahraga rutin di rumah? Tentu tidak. Awalnya mungkin semangat, tapi tiga atau empat hari kemudian bisa kembali mager.

Buku Atomic Habits kembali kubuka ketika merasa kesulitan untuk membangun kebiasaan yang lebih baik. Seperti membangun kebiasaan untuk lebih rutin berolahraga. Buku ini sangat membantu kita yang ingin memperbaiki kebiasaan buruk atau membangun kebiasaan baik. Dengan adanya banyak perubahan aktivitas selama pandemi, tentu perlu menyelaraskannya dengan membangun kebiasaan-kebiasaan yang lebih positif demi kesehatan tubuh dan pikiran.

5. The Book of Imaginary Beliefs, Lala Bohang

Ketika sedang jenuh atau capek bekerja di rumah, aku biasanya akan membuka-buka kembali buku karya Lala Bohang. The Book of Imaginary Beliefs ini salah satunya. Bisa membaca narasi-narasi pendek yang sangat menyuarakan isi hati sendiri rasanya melegakan.

Meski sedang sendirian di rumah dan menjalani rutinitas bekerja dari pagi hingga sore, setidaknya aku tidak merasa kesepian. Bahkan banyak kalimat-kalimat yang kutandai untuk selalu kubaca lagi setiap kali meras letih, salah satunya, “Oh, stop being so hard on yourself.” Bertahan di situasi pandemi tidaklah mudah, maka sekadar masih bisa menjalani hari yang biasa saja itu sudah menjadi sebuah anugerah.

6. I’mperfect, Meira Anastasia

Makin mudah membandingkan diri sendiri dengan orang lain di media sosial, itu salah satu hal yang makin sering kurasakan selama menjalani rutinitas bekerja dari rumah. Karena yang dilihat ponsel lagi-ponsel lagi, media sosial lagi-media sosial lagi, maka mudah untuk makin menghakimi diri sendiri. Merasa diri sendiri tidak sempurna dan merasa orang lain hidupnya lebih beruntung.

Membuka dan membaca kembali I’mperfect serasa mendapat tepukan lembut di bahu. Menerima kembali diri sendiri memang tidak mudah. Mensyukuri semua yang sudah dimiliki memang kadang ada saja alasannya. Menahan diri untuk tidak membandingkan diri sendiri secara berlebihan dengan orang lain pun kadang masih berat. Ya, semua itu butuh proses. Tentu saja tetap perlu berproses untuk lebih baik, misalnya dengan menjaga kesehatan tubuh. Ehm, tadinya aku ingin lebih rutin berolahraga di rumah mengikuti workout tutorial yang ada di buku ini, tapi oh tapi… kok masih belum bisa konsisten juga. Uhuk!

7. Mendaki Tangga yang Salah, Eric Barker

Di sela-sela waktu bekerja, masih sering terlintas di pikiran soal definisi kesuksesan itu yang seperti apa? Menjalani hari-hari bekerja dengan laptop dan makin jarang ke luar rumah selama pandemi, kadang aku merasa stuck. Ingin rasanya bisa jadi orang yang lebih sukses dan bersinar di luar sana. Jangan-jangan aku sudah makin salah jalan?

Melalui Mendaki Tangga yang Salah, aku kembali belajar soal mengenali lagi kekurangan dan kelebihan diri. Kembali belajar soal banyaknya faktor yang memengaruhi kesuksesan seseorang. Jadi, nggak perlu galau berlebihan lagi saat masih bertahan menekuni pekerjaan yang ada saat ini.

8. Seni Hidup Minimalis, Francine Jay

Beberapa bulan lalu aku menyesali sesuatu. Menyesal telah membeli baju baru. Selama bekerja dari rumah, baju yang kupakai sehari-hari kebanyakan hanya kaos oblong dan celana pendek. Jadi, ketika waktu itu beli kemeja baru hanya karena “lapar mata” yang terjadi malah menyesal karena bajunya tidak terpakai dan hanya memenuhi lemari saja. Duh!

Rumah yang kutempati sekarang memang belum ada banyak perabot. Bahkan meja pertama yang dibeli adalah meja kerja mungil yang akhirnya jadi meja yang paling berharga untuk digunakan selama WFH. Setiap kali akan membeli barang atau perabot baru, aku pun perlu lebih jeli dan teliti. Sebab rumah yang kutempati ini mungil, jadi kalau beli sesuatu yang baru maka harus dipastikan memang sesuai kebutuhan. Membaca ulang Seni Hidul Minimalis, aku kembali diingatkan untuk lebih sadar diri ketika membeli sesuatu. Khususnya di masa pandemi seperti ini, penting untuk tidak terlalu buang-buang uang untuk hal-hal yang sebenarnya belum butuh.

9. Loving the Wounded Soul, Regis Machdy

Bekerja dari rumah menghadirkan stres sendiri. Ya, namanya bekerja pasti ada capeknya. Tapi tak disangka bekerja dari rumah sama capeknya juga dengan bekerja di kantor, bahkan kadang bisa lebih capek daripada ngantor. Saat koneksi internet terganggu atau mati lampu misalnya, wah stresnya bisa luar biasa.

Loving the Wounded Soul menjadi buku yang beberapa kali kubaca selama beberapa bulan terakhir ini. Ada banyak kalimat dan narasi yang bisa membantuku lebih tenang di kala sedang merasa capek dan stres. Terima kasih sekali pada Regis Machdy yang membagikan pengalaman dan perjuangannya di buku ini. Membaca kisahnya menjadi motivasi tersendiri untuk bisa menjalani hidup dengan lebih bermakna.

10. Make Your Story Matter, Arif Rahman

Karena keseharianku adalah membuat konten, maka membaca buku yang berkaitan dengan penulisan dan dunia konten menjadi sebuah kebutuhan tersendiri. Make Your Story Matter menjadi salah satu buku yang jadi sumber inspirasiku setiap kali akan membuat tulisan atau konten baru. Bahasanya pun sangat ringan sehingga sangat cocok dibaca sambil bersantai di rumah.

11. Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982, Cho Nam Joo

Lebih dari sekali aku membaca novel ini. Perempuan selalu dihadapkan pada banyak dilema dalam hidupnya. Seperti dalam keputusan untuk bekerja atau tidak bekerja, ada saja hal-hal problematik yang dihadapi. Membaca Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 senantiasa menjadi pengingat bahwa seorang perempuan perlu menjadi pejuang dalam hidupnya. Masih bisa bekerja dan memiliki penghasilan sendiri meski saat ini masih harus WFH, setidaknya menjadi hal yang sangat kusyukuri di situasi sulit ini.

12. The Perfect World of Miwako Sumida, Clarissa Goenawan

Membaca fiksi tetap menjadi hobiku selama pandemi ini. Setelah bekerja seharian di rumah dan ingin merilekskan diri (dengan tetap di rumah saja), kadang aku mencari novel terbaru untuk dinikmati. Alasan membaca The Perfect World of Miwako Sumida adalah karena ini novel terbaru Clarissa Goenawan. Ya, sebelumnya aku sudah membaca novel karyanya yang sebelumnya, Rainbirds. Bisa membaca novel terbaru dari novelis favorit menjadi kebahagiaan tersendiri untukku.

13. Reasons to Stay Alive, Matt Haig

Selama pandemi, menjaga kewarasan diri adalah hal yang sangat krusial. Bekerja dari rumah, menghabiskan lebih banyak waktu sendirian, menjalani rutinitas yang sama, semua itu kadang menghadirkan kejenuhan yang luar biasa. Rasanya sampai kehilangan tujuan hidup.

Seperti yang ditulis Matt Haig dalam buku ini bahwa cara berkelana lintas waktu adalah membaca, maka membaca jugalah yang menjadi jalan ninjaku untuk tetap waras selama pandemi yang tidak bisa kemana-mana. Bahkan Matt menceritakan pengalamannya yang menghabiskan waktunya pada malam hari untuk membaca saat kesulitan tidur. Jadi, ketika aku merasa sulit tidur atau gelisah, maka buku adalah sahabat terbaikku.

14. Keajaiban Toko Kelontong Namiya, Keigo Higashino

Andai di dekat rumahku ada toko seperti toko kelontong Namiya, mungkin aku juga akan menulis surat untuk diselipkan ke lubang surat toko itu. Membuat sebuah keputusan seorang diri kadang tidak mudah. Seringkali, kita butuh saran atau penegasan dari orang lain untuk sebuah pilihan atau keputusan.

Di tengah pekerjaan yang tak ada habisnya, meluangkan waktu menikmati novel indah ini sungguh membahagiakan untukku. Asupan-asupan kisah yang menghangatkan hati perlu selalu ada di tengah keseharian bekerja dari rumah supaya hati lebih tenang.

15. Honjok: Seni Hidup Sendiri, Crystal Tai & Francie Healey

Sudah setahun lebih bekerja dari rumah dan tinggal di rumah seorang diri, apakah aku merasa nyaman? Hm, awalnya memang tidak mudah tapi lama kelamaan jadi terbiasa. Rasanya bahkan sudah berdamai dengan kesepian. Meski aku tidak berencana hidup sendirian selamanya, tapi bisa meluangkan waktu belakangan ini untuk diri sendiri ternyata menyenangkan juga.

Hidup sendirian memang bukan hal baru. Di Korea Selatan, sudah ada tren tersendiri terkait pilihan hidup ini. Dijelaskan dalam Honjok: Seni Hidup Sendiri, meskipun tidak ada definisi sosiologis yang tepat untuk istilah atau kelompok yang diuraikannya, para honjok umumnya memilih untuk melakukan kegiatan sendirian dan memanfaatkan kemandirian mereka. Membaca buku ini membuka wawasan baru soal menjalani keseharian dalam kesendirian yang ternyata bukan sesuatu yang “memalukan”.

16. Gadis Minimarket, Sayaka Murata

Perempuan, berusia 31 tahun, tinggal sendirian, nggak pernah ke luar rumah (karena bekerja pun dari rumah gara-gara pandemi), makin jarang bersosialisasi dengan tetangga (lagi karena pandemi), hm… apakah gambaran kehidupanku ini sesuatu yang normal? Bukankah seharusnya yang normal untuk perempuan seusiaku adalah sudah menikah dan memiliki anak? Atau seharusnya sudah punya banyak aset dan properti? Jadi, normal itu yang seperti apa?

Membaca novel ini jadi membuatku merasa tidak sendirian. Sebab definisi normal bisa saja berbeda pada tiap orang, toh hidup tiap orang tidak pernah ada yang sama. Terima kasih Keiko yang membuatku bisa tetap merasa normal dengan caraku sendiri.

17. Going Offline, Desi Anwar

Seperti judulnya, Going Offline, buku ini hadir untuk menjadi teman terbaik saat sedang ingin rehat dari dunia maya. Berisi kumpulan tulisan yang memuat refleksi diri dan ragam kontemplasi, buku ini menjadi salah satu buku yang sering kubuka kembali ketika sedang beristirahat. Karena sehari-hari pekerjaanku berkaitan dengan dunia maya, maka bisa mengambil jeda sejenak untuk bisa offline menjadi sebuah kemewahan tersendiri.

Ada sebuah paragraf yang sangat kusukai di buku ini. Paragraf yang selalu bisa jadi mood booster sendiri di tengah rutinitas bekerja dari rumah selama pandemi.

“Sesungguhnya, membaca itu merupakan latihan bagi otak kita, meningkatkan kemampuan berbahasa kita, memotivasi kita menjadi kreatif, memuaskan rasa ingin tahu kita, dan membuka pikiran kita dengan cara-cara yang tidak dapat dilakukan oleh kehidupan sehari-hari. Namun, yang terpenting, ketika Anda membaca, Anda merasa dunia menjadi hening. Anda fokus dan tidak bolak-balik terganggu oleh pikiran-pikiran sendiri atau berbagai gangguan dari gawai di sekitar Anda. Lepas dari tekanan. Mungkin Anda jadi merasa nyaman. Bahkan mungkin bahagia.”

(Going Offline, hlm. 57)

Membaca Buku, Caraku untuk Beradaptasi dengan Hal-Hal Baru

Membaca buku menjadi pilihan terbaikku untuk senantiasa beradaptasi dan berproses jadi lebih baik dari waktu ke waktu, termasuk di masa pandemi ini. Selama bisa menghadirkan asupan jiwa yang cukup melalui buku-buku, maka kenyamanan selalu bisa dihadirkan dalam keseharian.

Yang terfoto hanya 15 buku karena 2 buku lainnya sedang dipinjam 🙂

Selama ada buku-buku yang menemani, proses untuk beradaptasi di tengah situasi sulit ini bisa dijalani dengan lebih mudah. Sepertiku yang kini masih harus bekerja dari rumah lantaran pandemi, kehadiran buku-buku sangat membantuku untuk mengatasi tantangan-tantangan hidup yang baru.

Kita semua berharap semoga pandemi ini segera berlalu. Semoga kehidupan bisa berjalan lebih baik ke depannya. Terima kasih untuk semua yang sudah berjuang dan tetap bertahan di masa sulit ini. Semoga setiap buku yang kita baca bisa membawa perubahan yang lebih baik lagi untuk hidup kita.

#BersamaBeradaptasi #GPU47

Published inCLARITYWRITING

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *