cr: pexels.com/@dzeninalukac

Setiap pekerjaan selalu memiliki suka duka sendiri. Ada momen-momen menyenangkan yang terjadi dalam bekerja, ketika gajian atau invoice akhirnya cair misalnya. Di sisi lain, jelas ada momen-momen yang kurang menyenangkan dan bikin tertekan. Dalam menerjemahkan subtitle pun ada saat-saat yang bikin pusing. Ada sejumlah momen yang bikin stres hingga rasanya ingin banting laptop.

Saya sangat menikmati proses menerjemahkan subtitle. Selalu menyenangkan bisa menciptakan padanan yang tepat untuk setiap percakapan dan narasi dalam sebuah film atau drama. Terlepas dari keseruan tersebut, ada momen-momen mumet yang terjadi dalam proses pengerjaan.

1. Paham Maksud Kalimatnya tapi Kesulitan Menemukan Padanannya

Rasanya ini merupakan pengalaman yang dirasakan semua penerjemah. Ada saat-saat tertentu kita menemukan kalimat yang sebenarnya sangat kita pahami. Kita tahu betul maksud kalimat tersebut, tapi begitu menciptakan rangkaian kalimat terjemahannya mendadak otak rasanya buntu. Ketika diibaratkan sedang memasak, ada saja bumbu yang rasanya kurang tapi kita tak tahu apa yang kurang itu. Di saat seperti ini, yang saya lakukan biasanya adalah mengulang-ulang kembali tayangan atau adegan dalam film atau drama tersebut. Mencoba mengikuti intonasi dan pengucapannya, baru dari situ biasanya baru dapat ilham menemukan padanan yang tepat.

2. Menemukan Terjemahan yang Pas tapi Terlalu Panjang

Nah, ini nih yang kadang bikin super pusing. Dalam penerjemahan subtitle, ada yang namanya reading speed. Kemampuan kita membaca teks dalam sepersekian detik ada batasnya. Bisa dibayangkan ketika menonton film, subtitle-nya sangat panjang, jelas itu akan sangat tidak nyaman bagi kita. Ada batasan karakter tertentu dalam setiap baris subtitle. Di sini kita harus bisa sekreatif mungkin mengolah kalimat terjemahan menjadi kalimat baru dengan jumlah karakter huruf yang lebih sedikit tanpa mengurangi makna aslinya. Kalau sudah terjebak dalam masalah ini, menerjemahkan satu kalimat bisa sangat menguras tenaga.

“We are told that in translation there is no such thing as equivalence. Many times the translator reaches a fork in the translating road where they must make a choice in the interpretation of a word. And each time they make one of these choices, they are taken further from the truth. But what we aren’t told is that this isn’t a shortcoming of translation; it’s a shortcoming of language itself. As soon as we try to put reality into words, we limit it. Words are not reality, they are the cause of reality, and thus reality is always more. Writers aren’t alchemists who transmute words into the aurous essence of the human experience. No, they are glassmakers. They create a work of art that enables us to see inside to help us understand. And if they are really good, we can see our own reflections staring back at us.”

Kamand Kojouri

3. Koneksi Internet yang Labil

Ada software khusus yang perlu digunakan seorang subtitler dalam bekerja. Di sini, kestabilan jaringan internet sangatlah dibutuhkan untuk menjaga mood kerja. Selain itu, saya juga sangat mengandalkan kamus daring untuk mempercepat proses penerjemahan. Kalau koneksi internet mendadak “busuk”, wah rasanya ingin ngamuk-ngamuk, hehe.

4. Tenggat Makin Dekat sedangkan Banyak Terjemahan yang “Masih Bolong”

Sungguh bikin deg-degan. Ketika tenggat (deadline) makin dekat tapi rasanya ada beberapa bagian terjemahan yang belum sempurna, langsung saja dilanda kecemasan. Bagaimana kalau ada terjemahan yang kurang pas? Bagaimana kalau masih ada saltik? Bagaimana jika ada kesalahan fatal yang tidak disadari?

“It is the task of the translator to release in his own language that pure language that is under the spell of another, to liberate the language imprisoned in a work in his re-creation of that work.”

Walter Benjamin, Illuminations: Essays and Reflections

5. Terganggu Berbagai Polusi Suara

Masih jadi impian bisa memiliki ruang kerja sendiri yang nyaman dan bebas dari polusi suara. Hingga saat ini, dalam pengerjaan penerjemahan subtitle, saya mengerjakannya di rumah. Mengerjakannya di sudut kamar. Yang paling bikin pusing adalah ketika terpapar berbagai polusi suara. Seperti tetangga yang berisik, suara musik yang kencang, atau suara kendaraan. Tinggal di permukiman padat memang tidak mudah. Menciptakan suasana kondusif untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi cukup bikin stres juga. Memastikan bisa menyesuaikan audio dengan waktu keluar dan masuknya teks subtitle sulit dilakukan jika lingkungan sekitar super berisik. Pakai headset sepanjang waktu pun jadi hal yang wajib dilakukan.

Menerjemahkan subtitle memang bikin pusing, tapi seru! Setiap kali dapat episode baru untuk dikerjakan, hati penuh suka ria karena pintu rezeki kembali terbuka 🙂