Skip to content

5/6

cr: pexels.com/@taryn-elliott

Beberapa hari lalu saya menonton dokumenter Blackpink Light Up the Sky dan The Real Story of Paris Hilton. Kemudian saya menonton film Clouds. Setelah menonton tiga film tersebut, sejumlah pertanyaan pun muncul di benak saya. Apa yang bisa diceritakan dari hidup saya? Apakah hidup saya sudah cukup bermakna? Apa makna yang bisa saya hadirkan dalam hidup saya? Sudahkah saya cukup berarti di dunia ini? Ada cerita apa saja yang sudah saya punya dalam hidup saya? Sudahkah saya membuat perubahan yang lebih baik dan positif dari waktu ke waktu seiring bertambahnya usia?

Saya sangat menyukai film dokumenter yang menyoroti kisah di balik kesuksesan seseorang dan film yang dibuat berdasarkan kisah nyata seseorang. Seperti mengikuti perjalanan karier figur publik hingga kisah perjuangan seseorang untuk memberikan yang terbaik dalam hidupnya. Dengan menonton tayangan seperti itu, saya jadi bisa lebih memahami bahwa setiap manusia selalu punya cerita. Setiap individu selalu punya berbagai dimensi dalam hidupnya.

Tahun ini sudah menginjak bulan November. Bisa dibilang tahun ini bukan tahun yang mudah. Bahkan ketika sudah memasuki 5/6 perjalanan tahun 2020, selama sepuluh bulan di dalamnya saya jalani dengan perasaan campur aduk tak karuan. Rasanya permasalahan dalam rentang waktu sepuluh bulan seakan tak ada habisnya. Bahkan ada sebuah persoalan yang terus saja menghadirkan perasaan sedih yang berulang-ulang.

Ini tahun yang tidak mudah.

Rasanya untuk pertama kalinya pemikiran seperti andai saja saya tidak terlahir di dunia, mungkin keadaan akan jauh lebih baik, muncul pada rentang waktu sepuluh bulan ini. Andai saya tak pernah ada, mungkin banyak orang yang akan lebih bahagia dan lebih lega. Entah apa yang membuat saya berpikir sampai seperti itu. Ada titik-titik dalam rentang sepuluh bulan ini yang membuat saya seperti seekor ikan yang berada di dalam akuarium yang tak ada airnya dan berusaha untuk bisa tetap bernapas. Ada fase-fase yang membuat saya seperti seekor burung yang dipatahkan sayapnya. Oke, mungkin agak berlebihan tapi ya beberapa hal memang cukup mengusik hidup saya selama beberapa waktu belakangan ini.

Tahun ini rasanya saya tak punya banyak cerita. Bahkan sepertinya tidak ada hal bermakna yang bisa saya hadirkan dalam hidup saya. Waktu berjalan begitu cepatnya. Jika membentangkan kurun waktu sepuluh bulan yang saya lalui, rasanya tak ada banyak warna yang bisa dihadirkan. Ada situasi-situasi yang membuat saya merasa asing. Absurd rasanya mengalami hal-hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Tersenyum di depan orang lain sangatlah mudah. Memasang wajah tersenyum di depan kamera tidaklah sulit. Berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain bukan hal yang rumit. Namun, untuk bisa menghadirkan seulas senyum tulus untuk diri sendiri ketika menatap cermin, ternyata sulitnya bukan main. Mengatakan diri ini sedang baik-baik saja ketika hati masih terasa sakit saat menatap bayangan sendiri di cermin rasanya berat sekali. Jujur terhadap diri sendiri ternyata tidak selalu mudah.

Andai uluran waktu sepuluh bulan yang saya lewati ini dijabarkan sebagai adegan-adegan dalam sebuah film, tampaknya hanya akan menampilkan bayang-bayang. Bayangan-bayangan yang silih bergantian hadir. Mungkin hanya akan tampak sebuah lorong dengan ujung yang terlihat semakin pekat pada akhir filmnya.

Tahun ini memang bukan tahun yang mudah, khususnya dalam kurun waktu sepuluh bulan yang sudah saya lalui. Meski begitu, saya tetap bersyukur masih bisa bertahan dan melalui hari-hari yang ada. Saya masih bersyukur bisa berjalan dan melewati setiap rintangan yang ada. Berulang kali terjatuh, berkali-kali hati ini terasa perih, tapi selalu ada kesempatan untuk perlahan kembali bangkit. Saya tidak tahu akankah ke depannya segalanya akan lebih baik, tapi saya tahu ke mana saya harus mengadu saat merasa masalah hidup ini terlalu berat untuk ditanggung sendiri.

Mungkin saya terlampau perasa. Saya akui kadang saya terlalu berlebihan dalam menginterpretasi sebuah keadaan. Saya akui saya masih sering berlebihan dalam bereaksi terhadap sebuah persoalan. Tidaklah mudah untuk bisa terus berpikiran positif dan menghadirkan ketenangan batin ketika persoalan yang muncul terasa begitu absurd. Saya akui saya belum sempurna. Untuk itu, saya masih terus berharap bisa memperbaiki diri untuk bisa lebih baik dalam menghadapi dan mengatasi setiap masalah dengan lebih baik lagi.

Lima per enam tahun yang saya lewati ini sepertinya tak dihampiri pelangi. Atau mungkin masih belum dihampiri pelangi. Tak apa. Setidaknya saya masih bisa terus berjalan dan melangkah meski baru dihantam badai.

Ah, tadinya tidak ingin membuat tulisan yang terlalu melankolis atau tampak putus asa. Tapi kadang justru semua hal yang terasa mengganjal di hati perlu dikeluarkan lebih dahulu, supaya ruang yang ada di dalam hati bisa lebih lapang sehingga memudahkan untuk menyulam harapan-harapan baru dalam hidup.

Absurd rasanya mengalami hal-hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya selama 5/6 tahun tahun ini. Sungguh masih aneh rasanya ternyata saya bisa berada di situasi yang membuat saya bingung dengan banyak hal.

Masih tersisa sekitar 1,5 bulan lagi sebelum tahun ini berakhir. Saya tak pernah tahu skenario kehidupan apa yang menanti saya di depan. Saya tak pernah bisa benar-benar memastikan kehidupan saya akan lebih baik ke depannya. Bukan saya yang menggenggam kehidupan ini. Saat berada di titik yang membuat saya merasa tidak bisa melakukan apa-apa, saya kembali diingatkan bahwa saya hanya seorang hamba.

Saya pun terus berupaya supaya hidup saya bisa menghadirkan makna. Meski mungkin kisah hidup saya tak sehebat orang lain dan tak layak untuk dikemas menjadi sebuah film, bukan berarti hidup saya tak berharga. Saya pun akan terus menyandarkan diri saya pada Sang Maha Pengasih dan Penyayang di setiap helaan napas yang ada. Mempercayakan diri pada skenario terbaik dari-Nya.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *