Skip to content

Day: October 6, 2021

Yang Disebut Rumah

cr: pexels.com/@charlotte-may

Apa arti rumah untukmu? Masing-masing dari kita pasti punya cara sendiri dalam memaknai rumah. Bisa memaknainya dalam bentuk wujud bangunannya, bisa juga memaknainya dengan kehadiran orang-orang tertentu di dalamnya.

Sudah 19 bulan ini saya merasakan tinggal sendirian di rumah. Hm, nggak sepenuhnya sendirian juga sih karena sesekali bapak ibuk juga menginap di sini. Beberapa teman pun sudah ada yang pernah bermalam di sini. Rasanya masih belum percaya saya akan mendapatkan pengalaman seperti ini: pengalaman tinggal di rumah sendiri, (sementara masih) sendirian.

Menerima Diri

cr: pexels.com/@jill-burrow

Sekitar sepekan yang lalu saat bertelepon dengan seorang sahabat, dia menceritakan soal salah satu teman kami yang baru dibelikan ponsel baru oleh suaminya. Dia pun menyebutkan nominal harga ponsel itu yang menurut kami tergolong mahal. “Wah, dengan harga segitu sudah bisa beli laptop baru plus televisi baru dan ponsel merek lain yang tak kalah bagus,” kira-kira itulah respons saya waktu itu.

Merawat Hari

cr: pexels.com/@cottonbro

“Hidup ini mempunyai irama yang janggal. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menyadari hal ini. Sekian dekade. Bahkan berabad-abad. Irama yang tidak mudah. Bagaimanapun, irama itu tetap ada. Kecepatannya berubah dan turun-naik. Di dalam struktur ada struktur, dan di dalam pola tersimpan pola. Sungguh mengagumkan.”

(How to Stop Time, hlm. 316)

Beberapa hari lalu saya membaca novel How to Stop Time. Sejak membaca karya Matt Haig yang berjudul Reasons to Stay Alive, tiap kali ia menerbitkan buku baru dan sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia, saya langsung berusaha untuk mencarinya. Sebagai penyintas bunuh diri, ia pun menulis buku (nonfiksi dan fiksi) yang temanya tak jauh-jauh dari soal kehidupan dan makna hidup. Tema yang ia angkat ini pun selalu menarik untuk diikuti.